Mengenal Gini Index: Angka untuk Menghitung Ketimpangan Pendapatan

Stories | Selasa, 8 September 2026 10:00

Reporter : Abidah

Gini index mengukur sejauh mana distribusi pendapatan atau pengeluaran di antara individu maupun rumah tangga dalam suatu perekonomian menyimpang dari kondisi yang benar-benar merata.

DREAM.CO.ID - Gini index menjadi salah satu ukuran paling banyak dipakai untuk melihat seberapa merata distribusi pendapatan atau pengeluaran di sebuah negara. Angka ini muncul berulang kali dalam laporan pemerintah, riset akademik, dan pemberitaan ekonomi, tapi maknanya sering luput dipahami secara utuh.

Apa Itu Gini Index?

Gini index mengukur sejauh mana distribusi pendapatan atau pengeluaran di antara individu maupun rumah tangga dalam suatu perekonomian menyimpang dari kondisi yang benar-benar merata. Angka ini dihitung lewat kurva Lorenz, yang memetakan persentase kumulatif total pendapatan yang diterima terhadap persentase kumulatif jumlah penerima, dimulai dari individu atau rumah tangga termiskin.

Semakin besar jarak antara kurva Lorenz dengan garis kemerataan sempurna, semakin tinggi pula nilai Gini index. Skala internasional biasanya berjalan dari 0 sampai 100: nilai 0 mencerminkan pemerataan sempurna, sementara nilai 100 mencerminkan ketimpangan mutlak, di mana satu orang menguasai seluruh kekayaan sementara yang lain tidak memiliki apa pun.

Badan Pusat Statistik (BPS) di Indonesia memakai istilah "gini ratio" dengan skala 0 sampai 1, sehingga angka yang sering muncul di berita domestik seperti 0,368 setara dengan 36,8 dalam skala internasional 0-100.

2 dari 4 halaman

Posisi Ketimpangan Indonesia Saat Ini

BPS mencatat gini ratio Indonesia pada Maret 2026 sebesar 0,368, naik 0,005 poin dibanding September 2025 yang tercatat 0,363, meski masih lebih rendah dibanding Maret 2025 yang sebesar 0,375. Kenaikan ini menunjukkan bahwa distribusi pengeluaran masyarakat sedikit lebih timpang dalam enam bulan terakhir, meski secara tahunan tren ketimpangan justru menurun.

Ketimpangan di kota jauh lebih tinggi dibanding di desa. Gini ratio di daerah perkotaan pada Maret 2026 tercatat 0,387, sementara di perdesaan hanya 0,296. Pola ini konsisten dari waktu ke waktu — kesenjangan ekonomi di kota-kota besar Indonesia cenderung lebih tajam dibanding di wilayah pedesaan, kemungkinan karena kota menampung rentang pekerjaan dan tingkat pendapatan yang jauh lebih beragam.

Menariknya, kenaikan ketimpangan ini terjadi berbarengan dengan penurunan angka kemiskinan. Jumlah penduduk miskin turun menjadi 22,93 juta orang pada Maret 2026 dari 23,36 juta pada September 2025, meski rasio gini justru naik tipis. Fenomena ini menunjukkan bahwa semakin sedikit masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan, tapi jarak antara kelompok kaya dan kelompok menengah-bawah justru sedikit melebar.

BPS juga menggunakan ukuran ketimpangan versi Bank Dunia, yaitu porsi pengeluaran yang dinikmati kelompok 40 persen penduduk berpengeluaran terendah. Pada Maret 2026, kelompok ini menikmati 19,22 persen dari total pengeluaran masyarakat Indonesia. Menurut klasifikasi Bank Dunia, porsi di atas 17 persen untuk kelompok 40 persen terbawah tergolong tingkat ketimpangan rendah — sebuah kabar yang relatif baik meski gini ratio nasional terus dipantau ketat.

 

3 dari 4 halaman

Bagaimana Posisi Indonesia Dibanding Negara Lain?

Membandingkan gini index antarnegara memerlukan kehati-hatian, karena tiap negara mengukur pada tahun yang berbeda dan kadang memakai basis data pendapatan atau pengeluaran yang berbeda pula. Namun gambaran umum tetap bisa ditarik dari data yang tersedia.

Di kawasan Asia Tenggara, ketimpangan bervariasi cukup lebar antarnegara. Data tahun 2021 dari empat negara kawasan ini menunjukkan Malaysia mencatat gini index tertinggi di angka 40,7, sementara Thailand mencatat angka terendah di 34,9. Filipina turut mencatat angka tinggi di kawasan Asia, yakni 39,3 pada 2023, menjadikannya salah satu negara dengan ketimpangan terbesar di antara negara-negara Asia yang datanya tersedia.

Dengan gini ratio 36,8 pada skala 0-100, Indonesia berada di kisaran tengah dibanding negara-negara tetangga, lebih rendah dari Malaysia dan Filipina, tapi masih lebih tinggi dari Thailand.

Di luar kawasan Asia Tenggara, perbandingan menunjukkan rentang yang jauh lebih lebar. India tercatat memiliki gini index 25,5 pada 2022, menempatkannya sebagai salah satu negara paling merata distribusi pendapatannya di dunia, jauh di bawah China yang tercatat 35,7 dan Amerika Serikat yang mencapai 41,8. Slovakia, Slovenia, dan Belarus bahkan mencatat angka di bawah 25, kelompok negara dengan ketimpangan paling rendah menurut data Bank Dunia.

Dari perbandingan ini, Indonesia berada pada rentang ketimpangan menengah secara global, tidak setimpang Amerika Serikat atau Filipina, tapi juga masih jauh dari tingkat kemerataan yang dicapai negara-negara seperti India, Slovenia, atau Slovakia.

 

4 dari 4 halaman

Membaca Gini Index dengan Bijak

Gini index memberi gambaran ringkas tentang distribusi ekonomi sebuah negara, tapi angka tunggal ini tidak bisa menjelaskan seluruh cerita. Dua negara dengan gini index yang sama bisa memiliki struktur ketimpangan yang sangat berbeda, satu mungkin timpang karena kelompok elit sangat kaya, sementara yang lain timpang karena kelompok bawah sangat miskin.

Perbandingan antarnegara juga perlu memperhatikan tahun data dan metode pengukuran yang dipakai, karena sebagian negara mengukur berdasarkan pendapatan sementara yang lain mengukur berdasarkan pengeluaran, dua pendekatan yang bisa menghasilkan angka berbeda untuk kondisi yang sama. Membaca gini index sebaiknya diiringi indikator lain, seperti tingkat kemiskinan, porsi pengeluaran kelompok termiskin, dan pertumbuhan lapangan kerja formal, untuk mendapatkan gambaran ketimpangan yang lebih utuh.

{NATIVE VIDEO TOP}
Join Dream.co.id