Pemeriksaan Kesehatan yang Penting untuk Perempuan Usia 20-an, 30-an, 40-an, dan 50-an
© Pexels.com/Thirdman
Reporter : Abidah
Seiring bertambahnya usia wanita, penting untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara bertahap untuk mengetahui secara pasti kondisi kesehatannya.
DREAM.CO.ID - Merasa sehat bukan berarti tubuh tidak membutuhkan pemeriksaan. Banyak penyakit berkembang tanpa menimbulkan gejala pada tahap awal. Karena itu, pemeriksaan kesehatan rutin menjadi salah satu cara untuk mengetahui kondisi tubuh sebelum masalah berkembang menjadi lebih serius. Bagi perempuan, jenis pemeriksaan yang dibutuhkan juga dapat berubah seiring bertambahnya usia.
Kebutuhan tersebut tidak hanya ditentukan oleh umur. Riwayat keluarga, berat badan, kebiasaan merokok, aktivitas seksual, kondisi kesehatan, hingga faktor risiko tertentu dapat membuat seseorang membutuhkan pemeriksaan lebih awal atau lebih sering. Dilansir dari Health, berikut pemeriksaan yang perlu diperhatikan perempuan pada setiap tahap usia.
Usia 20-an: Mulai Mengenali Kondisi Tubuh
Usia 20-an merupakan waktu yang baik untuk membangun kebiasaan pemeriksaan kesehatan. Salah satunya adalah tekanan darah, yang dapat diperiksa secara berkala. Pemeriksaan kolesterol juga dapat dilakukan untuk mengetahui kondisi awal dan melihat apakah seseorang memiliki faktor risiko penyakit jantung.
Mulai usia 21 tahun, perempuan perlu memperhatikan skrining kanker serviks. Untuk perempuan usia 21–29 tahun, Pap test umumnya dilakukan setiap tiga tahun. Setelah memasuki usia 30 tahun, terdapat beberapa pilihan skrining yang melibatkan Pap test dan HPV test.
Pemeriksaan HIV dan infeksi menular seksual (IMS) juga penting sesuai riwayat dan faktor risiko. Selain itu, orang dewasa dianjurkan melakukan skrining hepatitis C setidaknya sekali. Pemeriksaan kesehatan mental, termasuk untuk depresi dan kecemasan, juga menjadi bagian dari perawatan preventif.
Pada usia ini, mammogram rutin umumnya belum diperlukan bagi perempuan dengan risiko rata-rata. Namun, kenali kondisi normal payudara sendiri dan segera periksakan jika menemukan benjolan, perubahan kulit, atau keluarnya cairan yang tidak biasa.
Usia 30-an: Pertahankan Pemeriksaan Rutin
Memasuki usia 30-an, sebagian besar pemeriksaan yang dimulai pada usia 20-an tetap perlu dilanjutkan. Tekanan darah, kolesterol sesuai kebutuhan, kesehatan mental, IMS berdasarkan risiko, serta kondisi payudara dan kulit tetap perlu diperhatikan.
Perhatian terhadap gula darah juga menjadi lebih penting. Dalam panduan yang digunakan sebagai acuan sumber, skrining diabetes mulai dianjurkan sejak usia 35 tahun bagi orang dengan kelebihan berat badan atau obesitas. Dokter dapat menentukan apakah pemeriksaan perlu dilakukan berdasarkan kondisi dan faktor risiko masing-masing.
Untuk kanker serviks, perempuan usia 30–65 tahun memiliki beberapa pilihan skrining, termasuk Pap test, HPV test, atau kombinasi keduanya dengan interval tertentu.
Usia 40-an: Mulai Perhatikan Kanker Payudara dan Usus
Usia 40-an membawa beberapa pemeriksaan baru yang penting. Salah satunya adalah mammogram untuk skrining kanker payudara. Untuk perempuan dengan risiko rata-rata, USPSTF merekomendasikan mammogram setiap dua tahun mulai usia 40 hingga 74 tahun. Namun, perempuan dengan risiko lebih tinggi mungkin membutuhkan strategi berbeda.
Pemeriksaan kanker kolorektal juga mulai menjadi perhatian. CDC menyebut sebagian besar orang perlu memulai skrining pada usia 45 tahun. Pilihannya antara lain kolonoskopi atau pemeriksaan tinja dengan interval yang berbeda.
Pemeriksaan rutin lain seperti tekanan darah, kolesterol, gula darah, kesehatan mental, dan kanker serviks tetap dilanjutkan sesuai kebutuhan.
Usia 50-an: Tambahkan Pemeriksaan Sesuai Risiko
Pada usia 50-an, pemeriksaan kanker payudara dan kolorektal tetap dilanjutkan. Perempuan dengan riwayat merokok berat juga dapat memenuhi kriteria untuk skrining kanker paru menggunakan CT dosis rendah, biasanya mulai usia 50 tahun.
Kesehatan tulang juga mulai mendapat perhatian lebih besar, terutama setelah menopause. Perempuan yang memiliki faktor risiko osteoporosis, seperti riwayat patah tulang panggul dalam keluarga atau kebiasaan merokok, dapat berkonsultasi dengan dokter mengenai pemeriksaan kepadatan tulang lebih awal.
Yang tidak kalah penting, jangan menunggu jadwal skrining jika muncul gejala baru seperti benjolan, perdarahan yang tidak biasa, perubahan pola buang air besar, atau penurunan berat badan tanpa sebab. Skrining ditujukan untuk orang yang belum memiliki gejala, sedangkan keluhan baru perlu mendapat evaluasi medis.
Pada akhirnya, daftar pemeriksaan kesehatan bukan jadwal yang sama untuk semua perempuan. Usia memberikan gambaran umum kapan skrining mulai dipertimbangkan, tetapi riwayat kesehatan pribadi dan keluarga dapat mengubah rekomendasinya. Karena itu, menyimpan hasil pemeriksaan dan mendiskusikan perubahan kondisi kesehatan dengan dokter akan membantu menentukan pemeriksaan yang benar-benar dibutuhkan.