Penelitian Ungkap Kebiasaan Screen Time Menggunakan Media Sosial Bisa Sebabkan Jerawat pada Remaja

Stories | Sabtu, 22 Agustus 2026 06:00

Reporter : Abidah

Kebiasaan menggunakan media sosial berlebih pada remaja bisa memiliki dampak pada kulit berupa munculnya jerawat berlebih.

DREAM.CO.ID - Bagi banyak remaja, ponsel pintar bukan sekadar alat komunikasi, melainkan pintu menuju rangkaian rutinitas skincare tanpa henti dan versi kesempurnaan yang sudah difilter habis-habisan. Bagi remaja yang sedang berjuang dengan jerawat atau masalah kulit lainnya, menggulir linimasa penuh foto kulit mulus bisa terasa menyakitkan. Dilansir dari The Health Site, sebuah studi baru yang dipublikasikan National Institutes of Health (NIH) mengungkap kaitan yang semakin kuat antara penggunaan media digital, kesehatan mental, dan kualitas hidup terkait kesehatan kulit remaja.

Para peneliti menganalisis 208 remaja berusia 11 hingga 18 tahun dengan penyakit dermatologis kronis di klinik dermatologi reguler, dari September 2024 hingga Maret 2025. Di antara partisipan, jerawat vulgaris menjadi kondisi kulit paling umum ditemukan, mencapai 61,1 persen, disusul dermatitis atopik sebesar 18,3 persen dan psoriasis sebesar 10,6 persen.

Partisipan dievaluasi menggunakan kuesioner tervalidasi terkait kualitas hidup berhubungan dermatologi, kualitas hidup secara keseluruhan, kecemasan, harga diri, citra tubuh, kepuasan hidup, dan perilaku kesehatan. Selain itu, tim peneliti juga memeriksa setiap partisipan lewat kuesioner eksploratif soal kebiasaan digital mereka, seperti durasi screen time, penggunaan media sosial, konsumsi video pendek, dan konsumsi video seputar skincare. Rata-rata waktu yang dihabiskan di layar adalah 4,5 jam per hari, dengan YouTube muncul sebagai platform paling populer sebesar 75,5 persen, disusul Instagram 67,8 persen dan TikTok 65,9 persen.

2 dari 2 halaman

Dampak Screen Time terhadap Kesehatan Mental

Salah satu temuan signifikan dari studi ini adalah remaja dengan kondisi kulit yang memengaruhi kehidupan mereka cenderung lebih mungkin melaporkan tingkat kecemasan lebih tinggi, harga diri lebih rendah, citra tubuh negatif, dan kualitas hidup secara keseluruhan yang lebih rendah. Peneliti juga menemukan bahwa tingkat kecemasan yang lebih tinggi berkaitan dengan penurunan kepuasan hidup dan persepsi kesehatan yang lebih rendah.

Skor rata-rata kualitas hidup terkait dermatologi menunjukkan bahwa penyakit kulit kronis tidak secara substansial memengaruhi kualitas hidup keseluruhan kelompok ini, namun banyak pasien mengaku merasa lebih cemas dan kurang puas dengan penampilan mereka. Menariknya, remaja yang memberi bobot lebih besar pada nilai-nilai kesehatan, termasuk kesehatan, keluarga, kebahagiaan, kejujuran, dan rasa aman, cenderung lebih terlibat dalam perilaku sehat dan memiliki kesejahteraan umum yang lebih baik.

Media sosial telah menjadikan perawatan kulit sebagai tren, dengan para influencer kecantikan yang terus-menerus mempromosikan produk, regimen kesehatan, dan tips kecantikan. Meski sebagian konten bisa bersifat informatif, sebagian besar lainnya justru mempromosikan janji perawatan kulit yang keliru atau informasi yang salah. Para ahli mencatat, remaja yang mengalami jerawat bisa merasa tidak percaya diri saat terus-menerus dibanjiri konten promosi semacam itu.

Para peneliti mengusulkan agar evaluasi psikologis terkait kecemasan, harga diri, dan citra tubuh dijadikan bagian dari proses evaluasi standar dalam perawatan dermatologi bagi remaja. Mereka juga menyarankan perlunya peningkatan literasi media, agar generasi muda mampu membedakan informasi medis yang kredibel dari informasi palsu yang beredar di internet. Meski begitu, para peneliti menegaskan bahwa studi ini bersifat cross-sectional, sehingga belum bisa memastikan apakah waktu yang dihabiskan di layar benar-benar menjadi penyebab langsung dari rendahnya kualitas hidup terkait kesehatan kulit tersebut.

Jerawat, bagi banyak remaja, ternyata bukan sekadar persoalan kulit semata, sebab kesejahteraan emosional, citra tubuh, dan paparan media sosial kini semakin saling terkait erat. Para peneliti menyarankan kombinasi antara perawatan dermatologi, dukungan psikologis, dan literasi media bisa membantu remaja membangun hubungan yang lebih sehat, baik dengan kondisi kulit mereka sendiri maupun dengan konten yang mereka konsumsi sehari-hari.

{NATIVE VIDEO TOP}
Join Dream.co.id