Sudah Berusia 90 Tahun Tanpa Demensia Bukan Berarti Sudah Bebas Risiko, Studi Ungkap Faktornya

Stories | Senin, 14 September 2026 14:00

Reporter : Abidah

Penelitian terhadap lebih dari 800 orang berusia 90 tahun ke atas menemukan bahwa risiko demensia tetap dipengaruhi oleh jenis kelamin, ras dan etnis, serta faktor genetik bahkan pada usia lanjut.

DREAM.CO.ID - Memasuki usia 90 tahun dengan kemampuan berpikir dan mengingat yang masih baik tentu menjadi pencapaian yang tidak sedikit. Banyak orang mungkin menganggap seseorang yang mampu mencapai usia tersebut tanpa demensia telah melewati fase paling berisiko mengalami penurunan kognitif. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar.

Dilansir dari UC Davis Health, penelitian terhadap lebih dari 800 orang berusia 90 tahun ke atas menemukan bahwa risiko demensia tetap dipengaruhi oleh jenis kelamin, ras dan etnis, serta faktor genetik bahkan pada usia yang sangat lanjut. Temuan tersebut diterbitkan dalam jurnal The Lancet Healthy Longevity dan memberikan gambaran baru mengenai bagaimana risiko demensia bekerja setelah seseorang memasuki dekade kesepuluh kehidupannya.

Penelitian ini menjadi semakin penting karena jumlah orang berusia sangat lanjut terus bertambah. Para peneliti memperkirakan sekitar 230 juta orang berusia 90 tahun atau lebih dapat hidup di seluruh dunia pada 2100. Kondisi tersebut membuat pemahaman mengenai kesehatan otak pada usia ekstrem semakin dibutuhkan, terutama untuk mengetahui siapa yang masih memiliki risiko tinggi mengalami demensia dan faktor apa yang mungkin memberikan perlindungan.

2 dari 5 halaman

Risiko Demensia Tetap Ada Setelah Usia 90 Tahun

Temuan tersebut berasal dari LifeAfter90, studi longitudinal yang dikembangkan UC Davis Health bersama Kaiser Permanente. Penelitian ini mulai mengikuti orang dewasa berusia 90 tahun ke atas sejak 2018.

Para peserta tidak menunjukkan tanda-tanda demensia ketika pertama kali bergabung. Peneliti kemudian melakukan pemeriksaan setiap enam bulan untuk memantau perubahan kemampuan kognitif mereka. Karena sebagian peserta telah menjadi anggota Kaiser Permanente selama puluhan tahun, para peneliti juga dapat mengakses catatan kesehatan yang dalam beberapa kasus telah tersedia sejak 1960-an.

Analisis terbaru melibatkan lebih dari 800 peserta dengan usia median 92 tahun. Penelitian ini menjadi salah satu studi mengenai demensia setelah usia 90 tahun yang menggunakan kelompok peserta dengan keragaman ras dan etnis yang cukup besar.

Hasilnya menunjukkan bahwa kesenjangan risiko demensia yang telah terlihat pada usia lebih muda ternyata tidak menghilang ketika seseorang memasuki usia 90-an.

Perempuan berusia 90 tahun atau lebih memiliki risiko demensia sekitar dua kali lipat dibandingkan laki-laki. Perbedaan juga terlihat berdasarkan ras dan etnis. Peserta kulit hitam memiliki risiko sekitar 75 persen lebih tinggi dibandingkan peserta Asia. Para peneliti juga menemukan tingkat kejadian demensia yang lebih tinggi pada peserta kulit hitam dan Hispanik dibandingkan peserta kulit putih dan Asia.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa mencapai usia 90 tahun tanpa demensia tidak serta-merta menghapus perbedaan risiko yang telah terbentuk sepanjang perjalanan hidup.

 

3 dari 5 halaman

Gen Alzheimer Masih Berpengaruh

Selain faktor demografi, penelitian juga melihat peran APOE, gen yang memiliki hubungan kuat dengan penyakit Alzheimer. Gen tersebut memiliki beberapa varian dengan pengaruh yang berbeda terhadap risiko demensia.

Salah satunya adalah APOE2, yang dikenal memiliki efek perlindungan terhadap Alzheimer. Dalam penelitian ini, efek tersebut ternyata tetap terlihat bahkan setelah seseorang berusia lebih dari 90 tahun. Peserta yang membawa varian APOE2 memiliki risiko demensia sekitar 60 persen lebih rendah.

Sementara itu, hubungan APOE4 dengan demensia ternyata lebih kompleks. Secara keseluruhan, varian APOE4 tidak menunjukkan peningkatan kejadian demensia yang besar pada seluruh kelompok peserta. Namun, ketika peneliti memisahkan peserta berdasarkan kelompok tertentu, APOE4 berkaitan dengan risiko yang lebih tinggi pada laki-laki.

Pada peserta kulit hitam, keberadaan APOE4 bahkan dikaitkan dengan risiko demensia sekitar dua kali lipat.

Para peneliti kini ingin memahami mengapa pengaruh varian APOE4 dapat berbeda antara laki-laki dan perempuan pada usia sangat lanjut. Mereka juga berencana mempelajari hubungan gen tersebut dengan angka kematian pada orang yang mengalami maupun tidak mengalami demensia setelah mencapai usia 90 tahun.

 

4 dari 5 halaman

Ada Orang dengan Banyak Faktor Risiko tetapi Tetap Sehat

Salah satu bagian paling menarik dari penelitian ini justru datang dari kelompok peserta yang tampaknya "melawan" pola risiko.

Beberapa orang memiliki faktor yang selama ini dikenal berkaitan dengan risiko demensia, seperti tekanan darah tinggi dan kolesterol tinggi, sejak usia 60-an atau 70-an. Namun, mereka tetap memiliki fungsi kognitif yang baik ketika memasuki usia 90-an.

Hal serupa terjadi pada sebagian peserta yang membawa APOE4. Meskipun varian tersebut dapat meningkatkan risiko Alzheimer dalam kondisi tertentu, sejumlah pembawa APOE4 dalam penelitian ini tetap mencapai usia 90 tahun tanpa mengalami demensia.

Kelompok inilah yang kini menjadi perhatian para peneliti. Mereka ingin mengetahui apakah terdapat faktor biologis, lingkungan, atau aspek lain dalam kehidupan yang membantu otak mempertahankan fungsi kognitif meskipun seseorang memiliki sejumlah faktor risiko.

Memahami mekanisme perlindungan tersebut dapat membuka jalan bagi penelitian mengenai cara mempertahankan kesehatan otak hingga usia sangat lanjut.

 

5 dari 5 halaman

Usia 90 Tahun Bukan Garis Akhir Risiko

Rachel Whitmer, profesor kesehatan masyarakat dan neurologi UC Davis Health sekaligus penulis senior penelitian, menekankan bahwa dokter tidak seharusnya menganggap seseorang yang berasal dari kelompok berisiko tinggi otomatis sudah terbebas dari risiko demensia hanya karena berhasil mencapai usia 90 tahun tanpa gangguan kognitif.

Temuan ini sekaligus memperlihatkan pentingnya pendekatan kesehatan otak sepanjang perjalanan hidup. Risiko demensia tidak berhenti begitu seseorang mencapai usia tertentu. Sebaliknya, sejumlah faktor yang telah memengaruhi kesehatan otak sejak usia lebih muda masih dapat berkaitan dengan kondisi seseorang ketika memasuki usia sangat lanjut.

Pada saat yang sama, keberadaan kelompok lansia yang tetap sehat secara kognitif meski memiliki faktor risiko memberikan harapan sekaligus pertanyaan baru bagi dunia medis. Jika para peneliti dapat menemukan mengapa sebagian otak mampu mempertahankan fungsinya selama puluhan tahun, mekanisme tersebut mungkin dapat menjadi petunjuk untuk membantu lebih banyak orang menjaga kesehatan kognitif hingga usia lanjut.

{NATIVE VIDEO TOP}
Join Dream.co.id