© Pexels.com/Google Deep Mind
DREAM.CO.ID - Bayangkan dua orang yang tumbuh dalam lingkungan berbeda, menempuh pendidikan yang berbeda, dan menjalani kehidupan yang berbeda pula. Salah satunya mungkin senang bertemu banyak orang, sementara yang lain lebih nyaman menghabiskan waktu sendirian. Ada yang sangat teratur dan disiplin, sedangkan yang lain cenderung spontan. Perbedaan semacam ini selama ini banyak dipahami sebagai hasil perpaduan pengalaman hidup, lingkungan, dan karakter bawaan.
Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa faktor genetik mungkin memiliki hubungan yang lebih luas dengan kepribadian daripada yang selama ini diperkirakan. Tim ilmuwan internasional menemukan lebih dari 1.200 varian genetik yang berkaitan dengan lima dimensi utama kepribadian atau Big Five personality traits.
Penelitian yang dipimpin oleh Revived Genomics of Personality Consortium tersebut menggabungkan data dari 46 kohort penelitian di berbagai negara. Para peserta memberikan sampel DNA dan mengisi kuesioner yang digunakan untuk mengukur lima karakter utama, yakni openness to experience atau keterbukaan terhadap pengalaman, conscientiousness atau kehati-hatian dan kedisiplinan, extraversion atau ekstroversi, agreeableness atau keramahan, serta neuroticism atau kecenderungan mengalami emosi negatif.
Kelima karakter tersebut menggambarkan pola berpikir, perasaan, dan perilaku yang relatif stabil dalam diri seseorang. Para peneliti kemudian membandingkan variasi genetik peserta dengan perbedaan skor kepribadian untuk mencari varian DNA yang memiliki hubungan dengan karakter-karakter tersebut.
Tidak Ada Satu Gen yang Menentukan Kepribadian
Temuan tersebut tidak berarti ilmuwan telah menemukan gen tertentu yang secara langsung menentukan apakah seseorang introvert, ekstrovert, disiplin, atau mudah cemas. Justru, penelitian ini menunjukkan bahwa kepribadian merupakan hasil dari pengaruh banyak varian genetik dengan efek yang sangat kecil.
Ted Schwaba, penulis utama penelitian dari Department of Psychology, Michigan State University, menegaskan bahwa tidak ada satu " gen kepribadian" . Setiap varian hanya memberikan pengaruh yang sangat kecil, tetapi efek tersebut dapat menjadi lebih berarti ketika banyak varian diperhitungkan secara bersama-sama.
Dengan kata lain, DNA tidak bekerja seperti cetak biru sederhana yang menentukan kepribadian seseorang sejak lahir. Pengaruh genetik muncul dari kombinasi banyak variasi kecil yang berinteraksi dengan faktor lain sepanjang kehidupan.
Para peneliti juga menemukan bahwa pola genetik tertentu tetap terlihat pada kelompok masyarakat yang berbeda. Varian yang berkaitan dengan ekstroversi pada orang dewasa muda di Belanda, misalnya, juga dapat membantu memprediksi kecenderungan ekstroversi pada orang lanjut usia di Amerika Serikat.
Analisis terhadap individu yang memiliki hubungan kekerabatan juga memberikan petunjuk bahwa temuan tersebut tidak semata-mata muncul karena orang-orang tumbuh dalam lingkungan yang sama. Meski demikian, lingkungan tetap memainkan peranan penting dalam pembentukan kepribadian.
Hal yang membuat penelitian ini menarik adalah temuan bahwa varian genetik yang berkaitan dengan kepribadian ternyata juga memiliki hubungan dengan berbagai aspek kehidupan.
Pola genetik tersebut dikaitkan dengan kesehatan fisik dan mental, umur panjang, pendidikan, pilihan serta hasil karier, pendapatan, hingga bagaimana seseorang dipandang oleh orang-orang terdekatnya.
Sejumlah hubungan bahkan terlihat dalam kebiasaan sehari-hari. Varian genetik yang berkaitan dengan conscientiousness, misalnya, juga berhubungan dengan kecenderungan seseorang lebih aktif pada siang hari. Sementara itu, varian yang berkaitan dengan openness dan extraversion memiliki hubungan dengan kecenderungan menjadi night owl, yakni lebih aktif pada malam hari.
Temuan ini memperlihatkan bahwa hubungan antara kepribadian dan berbagai aspek kehidupan mungkin jauh lebih kompleks daripada sekadar persoalan psikologi.
Schwaba mengatakan bahwa kepribadian tampaknya relevan dalam banyak bidang penelitian. Ia mencontohkan hubungan antara varian yang berkaitan dengan neuroticism dan lebih banyak waktu yang dihabiskan di rumah sakit. Sementara itu, varian yang berhubungan dengan openness juga dikaitkan dengan pendapatan dan kecenderungan berpindah pekerjaan.
Penelitian ini juga memberikan gambaran bahwa gen dan lingkungan tidak selalu bekerja secara terpisah. Keduanya dapat saling berinteraksi dan bahkan memperkuat kecenderungan tertentu.
Salah satu contoh yang ditemukan peneliti berkaitan dengan openness to experience. Varian genetik tertentu yang berkaitan dengan sifat tersebut juga berhubungan dengan kemungkinan seseorang pindah ke lingkungan yang lebih kosmopolitan.
Pilihan lingkungan semacam itu kemudian berpotensi memberikan pengalaman baru yang kembali memengaruhi atau memperkuat karakter keterbukaan seseorang. Artinya, seseorang bukan sekadar menerima pengaruh dari gen maupun lingkungan secara pasif. Kecenderungan bawaan juga dapat memengaruhi pilihan lingkungan yang kemudian membentuk pengalaman hidupnya.
Karena itu, hasil penelitian ini sebaiknya tidak digunakan untuk menyimpulkan bahwa seseorang " ditakdirkan" memiliki kepribadian tertentu berdasarkan DNA. Gen memang memiliki peran, tetapi pengalaman hidup, lingkungan sosial, pendidikan, kebiasaan, dan berbagai faktor lain tetap ikut membentuk bagaimana seseorang berpikir, merasa, dan bertindak.
Temuan tersebut justru membuka peluang penelitian yang lebih luas. Studi mengenai genetika kepribadian pada masa depan dapat membantu ilmuwan memahami hubungan antara karakter manusia dengan kesehatan, pendidikan, pekerjaan, hingga kualitas hidup. Dengan memahami hubungan tersebut secara lebih hati-hati, para peneliti berharap genetika kepribadian tidak hanya menjadi kajian psikologi, tetapi juga dapat memberikan perspektif baru bagi bidang kedokteran, kesehatan masyarakat, pendidikan, dan dunia kerja.
Advertisement

Terlalu Banyak Minum Kopi Bisa Berdampak pada Kepadatan Tulang, Studi Menemukan

Keracunan Makanan Bisa Memicu IBS yang Bertahan Berbulan-bulan, Bahkan Bertahun-tahun

Penuh Haru, Doa Bersama untuk 5 Jurnalis yang Hilang di Selat Sunda

Kidal vs Kanan: Fakta-Fakta Menarik tentang Dominasi Tangan Manusia


Benarkah Kita Bisa Tidur Hanya 4 Jam tetapi Tetap Segar? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Stres dan Kesehatan Mental Ternyata Bisa Berkaitan dengan Gangguan Kandung Kemih yang Kita Alami