Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Suasana Di Pasar Benhil (Dream.co.id/Ratih Wulan)
Dream - Pasar Bendungan Hilir (Benhil) dikenal masyarakat sebagai pusat makanan. Pasar ini menjadi semacam tujuan bagi masyarakat urban Jakarta untuk memanjakan lidah.
Apalagi ketika bulan Ramadan tiba. Pasar ini penuh sesak oleh banyaknya pengunjung yang berburu takjil dan hidangan berbuka puasa.
Beraneka macam takjil dengan beragam olahan tersuguh di tiap-tiap lapak. Tampilan yang menarik dan harga bersahabat sanggup membuat pengunjung tergiur.
Dari ratusan stan makanan, tampak tiga gerobak penjual es cendol durian dijejali pembeli. Satu porsinya dibandrol seharga 10.000 rupiah. Aroma durian yang legit berhasil menggoda para orang yang lewat di sekitarnya.
"Es cendol durian di sini enak banget beda sama yang dijual di tempat lain. Saya langganan kalau pas puasa," ujar pengunjung Pasar Benhil, Sari, saat berbincang dengan Dream.co.id.
Tak jauh dari situ, berdiri Slamet, penjual ikan bakar yang sedang melayani para pembeli. Berbagai macam ikan yang sudah dibelah dan dijapitkan pada sebilah bambu. Racikan bumbu berwarna orange melumuri ikan-ikan tersebut dan menggoda setiap mata yang melihatnya.
"Ikannya macam-macam. Ada kerapu, nila, lele dan yang paling laris gurame," terang Slamet.
Slamet rela berdagang jauh di Pasar Benhil dari tempat tinggalnya di Jakarta Utara. Dia membuka lapak di pasar ini sejak pukul tiga sore.
Diakuinya, bulan Ramadan memberi berkah tersendiri baginya. Berjualan selama dua hari Ramadan saja, Slamet sudah mengantongi banyak pemasukan.
"Ini tadi udah ada sekitar Rp1,5-2 juta yang saya dapat," ungkap dia.
Slamet mengatakan sewa lapak di pasar ini tergolong mahal. Selama bulan Ramadan saja, Slamet dan sejumlah pedagang lain harus mengeluarkan uang sebesar Rp2,7 juta untuk sewa lapak, ditambah tagihan kebersihan Rp20.000 setiap hari.
Tetapi, jumlah itu tidak terlalu besar bagi mereka. Sebab, jumlah pendapatan yang mereka hasilkan jauh melebihi modal sewa lapak tersebut sehingga tidak memberatkan.
Selain ikan bakar dagangan Slamet, ada menu lain yang juga menjadi favorit pengunjung. Salah satunya adalah lemang, hidangan asal Minangkabau terbuat dari ketan dan dimasak di dalam bambu yang dibakar.
"Kalau porsi utuh harganya Rp30 ribu tapi bisa juga beli separonya. Ini ada tape ketan itemnya cuma Rp5.000 aja," jelas Ida pada para pembeli.
Sementara di tenda lain, terlihat lapak risol mayo aneka rasa, bubur mutiara dan Gudeg Jogja yang juga diserbu pengunjung.
"Kayaknya makanan kaya biji salak dan bubur mutiara ini kan khas banget ya kalau puasa. Nggak afdol kalau buka belum mencicipi makanan-makanan seperti ini," tambah Shifa yang datang bersama teman-temannya.
Advertisement

Benarkah Kecerdasan Manusia Menurun? Studi Ungkap Tren Mengkhawatirkan Sejak 2012

Mengapa Anak Suka Makan Upil? Sains Punya Penjelasan di Balik Kebiasaan Ini

Kurang Tidur Bisa Ganggu Gula Darah dan Kesehatan Jantung, Olahraga 10–15 Menit Ini Bisa Membantu

Sering Buang Angin Tanpa Sebab Jelas? Kebiasaan Mengunyah Permen Karet Bisa Jadi Pemicunya

IHSG Lanjutan Menguat ke Level 5.387, Saham Bank Pelat Merah Bermekaran

Teori Lipstik: Mengapa Penjualan Lipstik Mewah Bisa Meningkat Saat Ekonomi Memburuk?

Suka Camilan Gurih Dan Renyah? Ini Pilihan Untuk Temani Aktivitas Sehari-hari