4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Ada Bukti DPR Tak Pernah Bahas Pasal 18 Ayat 3 PKPU
Dua Survei, Dua Wajah Kepuasan pada Pemerintah
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya
AXIS Nation Cup 2026 Hadirkan Grand Final Futsal Pelajar, Laga Para Juara dengan Panggung Musik di Istora Senayan
Anak Ditinggal Sendirian saat Masih Kecil, Di Mana Batas Kebebasan dalam Pola Asuh?
Benarkah Sarden Kalengan Bukan Makanan Olahan? Ini Penjelasannya
Tradisi Ngarak Bedug (www.karawanginfo.com)
Dream - Memasuki bulan Ramadan, di beberapa daerah akan ditemui tradisi-tradisi unik. Salah satu tradisi unik yang tidak ditemukan di belahan dunia lain ialah tradisi membangunkan sahur. Di Jakarta, tradisi membangunkan sahur disebut dengan tradisi 'ngarak bedug' atau mengarak bedug.
Tapi tiap wilayah di Jakarta memiliki sebutan yang berbeda untuk tradisi ini. Masyarakat Betawi di kawasan Joglo, Condet, Buncit hingga daerah Tangerang menyebut tradisi ini dengan nama Ngarak Beduk. Adapun orang-orang Betawi yang tinggal di Jakarta Timur seperti Bekasi sering menyebutnya dengan Beduk Sahur.
Tradisi Ngarak Beduk atau Beduk Saur telah ada sejak ratusan tahun yang lalu di Betawi. Itu karena Jakarta di masa lalu masih terdiri dari hutan dan rawa-rawa. Jadi, untuk membangunkan sahur, orang-orang Betawi mengandalkan suara beduk.
Ketika budaya Betawi mulai dipengaruhi oleh budaya Tiongkok, orang Betawi menggunakan petasan. Suara keras yang ditimbulkan petasan dapat membuat orang terkejut dan akhirnya bangun. Alasan inilah yang kemudian digunakan untuk membangunkan orang sahur saat Ramadan.
Tetapi, memasuki abad ke-19, tradisi membangunkan orang menggunakan petasan tidak lagi dipergunakan. Orang lebih memilih menggunakan alat musik tradisional. Rebana, genta, genjring, dan gendang dipilih dan dikombinasikan. Suara yang dihasilkan dari alat musik itu terkadang disertai dengan pembacaan puisi atau lagu Betawi.
Biasanya jumlah peserta dalam tradisi ini mencapai puluhan orang. Mereka memiliki tugas tersendiri. Beberapa orang menarik gerobak berisi beduk. Beberapa lainnya memukul beduk dan membunyikan genta, rebana dan genjring. Sementara itu beberapa orang besar bernyanyi lagu-lagu Betawi untuk membangunkan orang.
Dulu, tak jarang kesenian Ondel-Ondel terlibat dalam tradisi Ngarak Beduk. Bahkan tradisi Ngarak Beduk sering di perlombakan antar kampung. Sayangnya, kini tradisi ini mulai jarang dilihat ditengah-tengah aktivitas Ramadan. Keberadaannya kalah mentereng dengan alarm di telepon genggam atau suara dari pengeras suara di masjid.
Advertisement
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO

Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele

Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
