Gulai Kambing Bumbu Jawa (Foto: Shutterstock)
Dream - Dalam hitungan hari, umat Islam akan merayakan Idul Adha. Hari kurban ini biasanya kita mendapat banyak sekali daging kambing mentah. Nah, mungkin Sahabat Dream juga berurban dan sedang mencari ide untuk mengolah kambing.
Gulai merupakan olahan favorit banyak orang. Hidangan ini terasa begitu spesial saat disajikan di Hari Raya. Kali ini gulai dibuat dengan bumbu khas Jawa. Ingin membuatnya sendiri di rumah? Yuk, kita intip resepnya.
Bahan-bahan:
- 1 liter santan kelapa segar
- 500 gram daging kambing, potong kecil-kecil
- 2 cm kayu manis
- 1 lembar daun salam
- 1 cm lengkuas
- 2 lembar daun jeruk purut
- 4 buah kapulaga
- 1 batang serai, memarkan
- 2 sdm bawang goreng
- 5 butir cengkeh
- gula dan garam secukupnya

- 3 butir kemiri
- 2 siung bawang putih
- 5 butir bawang merah
- 3 buah cabai rawit
- 1/4 sdt adas
- 1/4 sdt klabet
- 1 sdm ketumbar
- 1 cm jahe
- 1 cm kunyit
- 1/4 sdt jintan
- 1/4 sdt pala bubuk
Cara membuat
- Tumis bumbu halus, kayu manis, daun salam, lengkuas, daun jeruk, dan serai sampai harum.
- Masukkan daging kambing. Aduk rata dan masak hingga berubah warna.
- Tambahkan cengkeh, gula, dan garam.
- Tuang santan. Kecilkan api. Masak sampai terus diaduk hingga bumbu meresap.
- Setelah daging empuk dan matang, angkat dan sajikan dengan taburan bawang goreng.
Laporan Endah Wijayanti/ Fimela.com
Dream - Kuah santan kaya rempah, aromanya begitu menyeruak. Dimasak menggunakan anglo yang tingkat panas bara apinya diatur lewat kipas tangan rotan. Isinya berupa tulang-tulang kambing yang masih memiliki sedikit daging menempel.

Hidangan ini merupakan primadona kota Solo, Jawa Tengah, apalagi kalau bukan Tengkleng. Makanan yang berbahan dasar tulang kambing ini adalah salah satu mahakarya masyarakat Solo yang sudah turun temurun.
Mengapa tulang dan bukan daging? Dahulu, daging kambing adalah barang istimewa. Tentu saja yang bisa menikmati hanyalah para bangsawan, priyayi dan juga kompeni-kompeni Belanda.
Para pekerja, tukang masak, dan masyarakat biasa hanya bisa menikmati tulang kambing yang masih ada sedikit daging yang menempel. Meski hanya tulang kambing dan beberapa tempelan daging, masyarakat Solo mengolahnya jadi sajian masakan yang begitu istimewa.
Tak heran, hingga kini tengkleng jadi sajian spesial dan selalu dicari. Bukan hanya disukai masyarakat Solo tapi juga daerah lain. Baca selengkapnya cerita kenikmatan tengkleng di Diadona.id.
Dream - Nangka muda dengan warna cokelat kehitaman disajikan di kuali tanah liat. Begitu legit saat digigit. Disajikan dengan suwiran ayam, telur pindang dan kerecek. Membayangkan sajian gudeg memang bisa langsung memantik selera makan.
Menu gudeg kini bisa dengan mudah ditemui di berbagai daerah di Indonesia, meskipun yang otentik berada di Yogyakarta. Sahabat Dream pernah berpikir mengapa menu tersebut dinamakan gudeg?

Jawabannya harus menelusuri sejarah Mataram. Konon, makanan yang menjadi ikon Kota Yogyakarta ini sudah ditemukan pada masa Kesultanan Mataram Islam pertama. Jauh lebih dulu sebelum nama kota Yogyakarta digaungkan.
Saat Kesultanan Mataram Islam hendak didirikan, Panembahan Senopati harus 'babat alas' Alas Mentaok atau membuka hutan belantara untuk memperluas wilayah. Panembahan Senopati memerintah prajurit Mataram dan semua kaum pekerja untuk 'babat alas' yang kelak bernama Yogyakarta ini.
Ternyata, di Alas Mentaok tersebut terdapat banyak pohon nangka dan kelapa. Pada saat itu, nangka yang sudah matang langsung dimakan dan kelapa muda juga dijadikan minuman. Nangka muda dan kepala tua tentunya sayang dibiarkan begitu saja.

Akhirnya nangka muda dan santan yang dihasilkan dari kelapa dimasak dan dijadikan santapan bersama. Banyaknya prajurit dan pekerja pada saat itu, mengharuskan memasak dalam jumlah yang banyak.
Dimasaklah nangka muda dengan santan dari kelapa ditambah gula aren, berbagai macam bumbu, serta rempah-rempah, di dalam kuali besar.
Baca kelanjutan kisah gudeg di Diadona.id