Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dream - Tahun 2017 merupakan tahun penuh pengharapan bagi para pelaku sektor properti. Harapan ini muncul seiring tren rebound yang terjadi jelang akhir tahun 2016.
Namun, sektor ini pun masih menghadapi tantangan-tantangan pada tahun ini supaya pertumbuhannya tidak terlalu melambat.
Country General Manager Rumah123.com, Ignatius Untung, dalam konferensi pers "Consumer Choice Awards 2017" di Jakarta, Kamis 26 Januari 2017 mengatakan setidaknya ada dua faktor yang menentukan keberlangsungan bisnis properti di tahun ini.
Faktor pertama adalah situasi politik. Bagi pelaku usaha, politik sangat mempengaruhi iklim bisnis dan menentukan langkah bisnis mereka.
Sekadar informasi, tahun ini merupakan tahun penyelenggaraan Pilkada secara serentak.
"Mudah-mudahan tidak bertambah panas. Kalau suasana politik tambah panas, (pelaku bisnis) dan pengembang juga akan berpikir," kata dia.
Sementara tandangan kedua adalah pemerintah harus memiliki terobosan untuk mencegah harga properti tidak melambung terlalu cepat. Saat ini memang diakui telah ada satu kebijakan yang bisa mendorong kenaikan harga properti ketika harganya naiknya terlalu pelan.
"(Program) BPJS (Ketenagakerjaan) bisa dipakai DP rumah itu akan membuat naik cepat. Ya, harus dipikirkan bagaimana harga rumah tidak naik terlalu cepat," kata dia.
Sekadar informasi, sebelumnya ada program fasilitas pembayaran uang muka dari BPJS Ketenagakerjaan, namun sudah ditutup sejak tahun 2015 karena kurang sosialisasi. Kini, instansi ini menggandeng PT Bank Tabungan Negara Tbk (Persero) untuk memberikan pinjaman lunak bagi peserta BPJS Ketenagakerjaan untuk uang muka pembelian rumah.
Kemudian, kata Untung, ketika harga properti melambung, itu bukan berarti marjin yang diterima pengembang juga ikut terkerek. Yang ada, marjin mereka sedikit, bahkan bisa turun.
Hal ini disebabkan oleh semakin mahalnya harga tanah dan banyaknya biaya-biaya yang dikeluarkan developer. Di sinilah, pemerintah seharusnya masuk supaya biaya yang dikeluarkan tidak terlalu banyak dan harga properti tidak terlalu tinggi.
"Pemerintah harus memberikan insentif bagi pengembang," kata dia.(Sah)
Advertisement

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun


Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh

IHSG Lanjutan Menguat ke Level 5.387, Saham Bank Pelat Merah Bermekaran

Teori Lipstik: Mengapa Penjualan Lipstik Mewah Bisa Meningkat Saat Ekonomi Memburuk?

Suka Camilan Gurih Dan Renyah? Ini Pilihan Untuk Temani Aktivitas Sehari-hari