Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Gubernur BI, Agus Martowardojo
Dream - Perekonomian Indonesia masih tumbuh positif pada tahun 2015. Padahal, perekonomiannya mendapatkan tekanan eksternal dan domestik. Pengalaman kondisi ekonomi tahun lalu memberian banyak pelajaran bagi Indonesia.
Gubernur Bank Indonesia (BI), Agus D. W. Martowardojo, menjelaskan tekanan tekanan global yang dihadapi Indonesia itu berasal dari ketidakseimbangan pemulihan ekonomi dua negara besar dunia. Di saat Amerika Serikat mulai pulih, perekonomian Tiongkok justru melambat.
Situasi global ini pun berimbas pada perekonomian Indonesia ditandai dengan kinerja ekspor Indonesia merosot akibat anjloknya harga komoditas dunia. Serta sumber-sumber pendanaan domestik yang kurang berkembang.
Antisipasi pun ditempuh pemerintah dan BI dengan bergantung pada sumber pembiayaan luar negeri.
" Perekonomian Indonesia selama tahun 2015 telah memberikan kita tiga pelajaran penting," kata Gubernur Bank Indonesia (BI), Agus D. W. Martowardojo, dalam peluncuran " Laporan Perekonomian Indonesia" di kompleks BI, Jakarta, Kamis 28 April 2016.
Pelajaran pertama, kata Agus, adalah perlunya kebijakan makroekonomi diterapkan secara disiplin, hati-hati, konsisten, dan tepat waktu. Hal ini menjadi kunci dalam menjaga stabilitas makroekonomi dan mendorong pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan.
Pelajaran kedua adalah penerapan kebijakan makroekonomi ini perlu dukungan dari para regulator, seperti BI dan pemerintah pusat. Adanya kerja sama dalam menerapkan kebijakan ini bisa mengeluarkan Indonesia dari goncangan ekonomi.
" Dukungan ini juga bisa menempatkan perekonomian pada posisi yang tepat untuk mendapatkan momentum tambahan," kata dia.
Yang ketiga, kata mantan menteri keuangan ini, adalah pentingnya implementasi reformasi struktural dan diversifikasi sumber pertumbuhan ekonomi yang bisa memperkuat pondasi ekonomi. Dengan begitu, perekonomian pun menjadi lebih berdaya tahan dan tumbuh secara berkelanjutan.
" Berbagai pelajaran itu menjadi bekal penting karena kami yakin tak ada kebetulan dari dinamika suatu bangsa," kata dia.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya