Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Ilustrasi
Dream - Penemuan mengejutkan disampaikan ahli makanan di Arab Saudi. Para ahli menuding tidak semua produk yang berlabel dan dijual sebagai makanan halal di beberapa negara Timur Tengah adalah benar-benar halal.
Para ahli industri halal yang bertemu di sela pameran makanan terbesar Gulfood 2015, Dubai, mengatakan tudingan dugaan ini muncul akibat kurangnya konsistensi mengenai definisi halal, khususnya terkait kontroversi soal hewan dilumpuhkan sebelum disembelih,
Islam mewajibkan umat Islam untuk mengkonsumsi produk halal, yang pada dasarnya tidak mengandung alkohol atau babi.
Ebrahim Al Rahim, profesor di Um Al Qura University di Arab Saudi, mengatakan bahwa beberapa produk unggas yang diimpor oleh negara-negara di kawasan Teluk dari Barat tidak sesuai dengan syariah.
"Ayam yang diimpor di sebagian besar negara-negara di wilayah ini diberi label halal, meski pun dibius sebelum disembelih," kata Ebrahim seperti dilansir laman Zawya, Kamis, 12 Februari 2015.
Menurut Ebrahim, sebagian ulama percaya bahwa beberapa jenis hewan yang dilumpuhkan sebelum disembelih sesuai dengan syariah. Namun, sebagian lainnya menilai cara melumpuhkan hewan sebelum disembelih tidak sesuai dengan syariah sehingga membuatnya masuk kategori tidak halal.
Ebrahim mendesak agar negara pengimpor di wilayah Teluk menjelaskan standar agar terhindar dari mengimpor produk non-halal.
Direktur Departemen Standarisasi Otoritas Standardisasi dan Metrologi Emirat (ESMA), Farah Ali Al Zarooni menegaskan, undang-undang Halal Scheme yang baru direvisi Uni Emirat Arab (UEA) menetapkan produk halal harus diperiksa mulai dari proses produksi, distribusi dan penyimpanan.
"Skema baru memberikan spesifikasi jelas kepada mereka yang mengeluarkan sertifikat. Di masa lalu, badan akreditasi tidak terlibat dalam skema halal," kata Farah.
Selama ini UEA memang telah memiliki standar halal bagi makanan dan kosmetik. Selanjutnya, negara ini akan mengeluarkan standar atau pedoman halal untuk produk kulit dan tekstil.
Advertisement

Benarkah Kecerdasan Manusia Menurun? Studi Ungkap Tren Mengkhawatirkan Sejak 2012

Mengapa Anak Suka Makan Upil? Sains Punya Penjelasan di Balik Kebiasaan Ini

Kurang Tidur Bisa Ganggu Gula Darah dan Kesehatan Jantung, Olahraga 10–15 Menit Ini Bisa Membantu

Sering Buang Angin Tanpa Sebab Jelas? Kebiasaan Mengunyah Permen Karet Bisa Jadi Pemicunya

IHSG Lanjutan Menguat ke Level 5.387, Saham Bank Pelat Merah Bermekaran

Teori Lipstik: Mengapa Penjualan Lipstik Mewah Bisa Meningkat Saat Ekonomi Memburuk?

Suka Camilan Gurih Dan Renyah? Ini Pilihan Untuk Temani Aktivitas Sehari-hari