24 Tahun Sebagai Petugas Kebersihan Bandara Kini Menjadi Pilot

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Senin, 23 Desember 2019 09:48
24 Tahun Sebagai Petugas Kebersihan Bandara Kini Menjadi Pilot
Dia mendapatkan profesi idamannya setelah dua dekade berjuang.

Dream - Di mana ada keinginan, di situ ada jalan. Selama mengabdikan diri pada tujuan, keinginan, serta bekerja keras, impian bisa terwujud.

Hal itulah yang sepertinya ingin disampaikan oleh Mohammed Abubakar. Cita-citanya menjadi pilot akhirnya terwujud meski harus dengan bekerja keras selama 24 tahun lamanya. 

Dikutip dari World of Buzz, Mohammed berasal dari sebuah kota kecil di Nigeria, Afrika. Pemuda ingin sangat ingin bekerja sebagai penerbang.

Perjalanan ini dimulai saat Mohammed mendaftar ke Politeknik Kaduna. Tapi, dokumen persyaratan tak bisa dikumpulkan tepat waktu. Alhasil, dia tidak bisa menempuh pendidikan di perguruan tinggi itu.

1 dari 5 halaman

Tak Patah Arang

Putus asa? Tidak. Mohammed tak membiarkan kegagalan meredam semangatnya untuk menjadi pilot.

Dia melamar pekerjaan menjadi juru bersih di Bandara Kabo Air. Kala itu, dia hanya dibayar uang 200 naira Nigeria, setara Rp7.687 per hari.

Dengan gaji yang sangat kecil, Mohammed tak mengeluh dan terus melakoni pekerjaan dengan ikhlas. Susah payah pria ini merintis karier dari bawah.

" Banyak yang tak percaya saya takkan menerima pekerjaan itu karena uang sedikit yang dihasilkan. Saya kemudian dipekerjakan sebagai staf darat di maskapai," kata dia.

Mohammed pun melakoni banyak pekerjaan di maskapai tersebut. Kecuali sebagai tenaga keamanan.

2 dari 5 halaman

Kerja Keras Berbuah Manis

Kerja keras Mohammed berbuah hasil. Dia pun diangkat menjadi awak kabin sebuah maskapai penerbangan.

Dia mendapatkan promosi sebagai pramugara full time di Aero Corporation. Di sana, dia memberikan pengetahuan tentang layanan penjadwalan penerbangan perusahaan.

Selama bekerja, Abubakar selalu menyisihkan sebagian penghasilannya untuk ditabung. Dia berniat menggunakan uang itu untuk sekolah penerbangan.

Berkat bantuan dari direktur pelaksana perusahaan, Mohammed mendaftar program pendidikan pilot di Kanada. Di sana, dia mengantongi lisensi pilot pertamanya.

Setelah melalui aral yang melintang, Mohammed resmi menjadi pilot maskapai komersial di Azman Air.

3 dari 5 halaman

Wow! Jual Ayam Goreng Rp3.000/Potong, Untung Rp50 Juta/Bulan

Dream - Saat sedang di Kuala Lumpur, Malaysia, mencari makanan yang harganya ramah di kantong cukup sulit. Maklum, KL adalah kota metropolis sehingga semuanya mahal.

Tetapi, bukan berarti makanan murah tidak ada. Cobalah berkunjung ke Kampung Datuk Keramat, tidak begitu jauh dari Twin Tower yang menjadi ikon Negeri Jiran itu.

Ada satu warung tenda menjual ayam goreng tepung yang selalu ramai.

Selain karena rasanya, warung tenda yang dikelola Mat Tohid Abdul Kadir, 38 tahun dan istrinya, Nur Razlin Ramli, 33 tahun ini membanderol dagangannya dengan harga cukup 1 ringgit sepotong, setara Rp3.300.

Harga tersebut sangat tidak masuk akal. Mengingat harga makanan di KL biasanya dibanderol minimal sekitar 15 ringgit, setara Rp50 ribu.

 Ayam goreng 1 ringgitAyam goreng 1 ringgit © istimewa

Meski begitu, pendapatan Tohid tidak bisa dibilang kecil. Dalam sebulan, dia mampu menghasilkan 15 ribu ringgit, setara Rp50 juta dari ayam goreng 1 ringgit yang dijualnya.

 

4 dari 5 halaman

Sempat Jatuh

Dalam menjalankan usahanya, Tohid juga mengalami banyak sekali kesulitan. Dia dan istrinya mampu menghadapi dengan kuat hingga usahanya menuai sukses.

Ada kisah pilu di balik kesuksesan Tohid berdagang ayam goreng tepung. Sebelumnya, dia pernah berdagang ayam golek atau ayam bakar namun bangkrut lantaran kurang laku.

" Memang orang suka ayam golek, tapi tidak akan makan banyak, dan sekarang orang sulit mengeluarkan uang sampai 10 ringgit (setara Rp33 ribu)," kata Tohid.

Selain itu, kondisi perekonomian masa lalu juga berpengaruh pada usahanya kala itu. Dulu, kata dia, kondisi ekonomi cukup stabil.

 Ayam goreng 1 ringgitAyam goreng 1 ringgit © istimewa

" Dulu tidak seperti sekarang, ekonomi kita tidak stabil. Dulu orang-orang mengandalkan gaji tetap namun sekarang lebih banyak orang jualan daripada pembeli," ucap dia.

 

5 dari 5 halaman

Harga Yang Terjangkau

Belajar dari kondisi yang terjadi, Tohid mulai memikirkan usaha yang lebih relevan. Juga yang sesuai dengan kondisi perekonomian tak stabil.

" Kalau ngomong soal 1 ringgit, orang mungkin tidak berpikir bisa menggunakannya untuk membeli makanan. Taruhlah 4 atau 5 ringgit, mereka masih merasa ayam itu murah dan bisa membelinya," kata dia.

Sejak memulai usaha ayam goreng pada 2017, Tohid mengaku banyak menghadapi tantangan. Apalagi soal saingan dagang.

" Di sini ada tiga warung yang sama seperti kami, tetapi Alhamdulillah pelanggan tetap setia kepada kami," kata dia.

Dalam satu hari, Tohid bisa menjual 70 hingga 80 ekor ayam. Kadang juga bisa mencapai 100 ekor.

" Kami pernah mendapatkan pemasukan 15 ribu ringgit waktu itu," kata dia.

 

Beri Komentar
Video Polisi Tes Kandungan Sabu Cair dalam Mainan Anak-anak