Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Kecemasan melanda pasar modal regional dan domestik. Munculnya kembali isu kenaikan suku bunga The Fed membuat indeks saham acuan berguguran.
Aksi jual asing juga menambah kekhawatiran pelaku pasar akan munculnya penarikan dana dari pasar saham nasional.
Pada penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa, 1 September 2015, Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) jatuh 2,276 poin (1,92%) ke level 139,580.
Sentimen negatif dari regional dan global membuat pelaku pasar menahan diri masuk pasar. Alhasil, indeks ISSI seharian mendekam di zona merah.
ISSI hanya sanggup mencetak level tertinggi di zona merah 141,630. Posisi terendah ISSI terukir di level 139,537.
Koreksi dalam ISSI ini dipicu melemahnya harga saham dari 141 emiten syariah. Sisanya, 32 emiten bertahan stagnan dan 50 saham syariah sukses bergerak naik.
Transaksi perdagangan saham syariah mencapai Rp 2,48 triliun dengan 33,9 miliar saham yang berpindahtangan.
Tak hadirnya sentimen positif di saat demo besar buruh juga mendorong saham-saham bluechips syariah berguguran.
Terpangkas 14,185 poin (2,37%), indeks Jakarta Islamic Index (JII) terpangkas ke level 584,099.
Sebanyak 25 emiten penghuni JII bergerak turun ke zona merah sementara 4 lainnya masih sanggup mengukir penguatan.
Empat saham bluechips syariah yang berhasil menguat itu adalah SILO yang naik Rp 500, LSIP Rp 15, PGAS Rp 10, dan KLBF Rp 5 per saham.
Sebaliknya, daftar emiten pencetak koreksi besar dihuni LPPF yang turun Rp 875, INTP Rp 850, UNVR Rp 800, UNTR Rp 525, dan ICBP Rp 400 per saham.
Indeks Harga Saham Gabungan di awal September ini tercatat anjlok 97,148 poin (2,15%) ke level 4.412,459. IHSG sempat jatuh ke posisi terendah 4.411,131 dengan level tertinggi di 4.484,789.
Lantai bursa relatif sepi dari transaksi pelaku pasar dengan hanya mencetak angka Rp 3,79 triliun. Investor asing kali ini berbalik melakukan aksi jual dengan nett sell Rp 232 miliar.
Dari pasar keuangan, rupiah kembali berada dalam tekanan dan sempat menyentuh level 14.100. Sore ini, rupiah melemah 30 poin (0,21%) menjadi Rp 14.097 per dollar AS.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya