Kenali Tata Cara Membayar Fidyah Puasa Ramadan, Beserta Bentuk dan Takarannya

Reporter : Sugiono
Selasa, 23 April 2019 15:00
Kenali Tata Cara Membayar Fidyah Puasa Ramadan, Beserta Bentuk dan Takarannya
Kenali tata cara membayar fidyah puasa Ramadan, beserta bentuk dan takarannya, bagi ibu hamil dan menyusui. Termasuk cara membayar fidyah dengan uang atau beras.

Dream - Tidak lama lagi umat Islam di seluruh dunia akan menunaikan ibadah puasa Ramadan.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah menetapkan awal puasa 1440 Hijriah jatuh pada Senin 6 Mei 2019.

Dalam menetapkan 1 Ramadan, Muhammadiyah menggunakan metode hisab Wujudul Hilal.

Sementara itu, pemerintah, dalam hal ini Kementerian Agama, belum menetapkan jatuhnya 1 Ramadan 1440 H.

Keputusan baru diambil setelah melalui sidang Isbat yang akan digelar sekitar akhir April nanti.

Di bulan Ramadan, kaum Muslimin yang memenuhi syarat untuk berpuasa diwajibkan menjalankan ibadah tersebut.

Allah Ta'ala mewajibkan berpuasa kepada semua kaum Muslimin di bulan Ramadan. Namun bagi orang yang tidak mampu, seperti orang yang telah tua renta maka Allah memberikan keringanan.

Mereka bisa mengganti puasa Ramadan dengan membayar fidyah, misalnya memberi makan orang miskin.

Membayar fidyah juga dilakukan oleh mereka yang sakit keras dan kecil kemungkinannya untuk sembuh.

Hukum membayar fidyah untuk mengganti puasa ini sudah ditetapkan Allah dalam Alquran, yang berbunyi:

" Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin." (QS. Al-Baqarah: 184)

Jadi, membayar fidyah hukumnya wajib bagi mereka yang tidak mampu menjalankan ibadah puasa karena sebab-sebab khusus.

Di dalam kitab-kitab fikih, fidyah lebih dikenal dengan istilah ith'am, yang artinya memberi makan.

Melihat pentingnya masalah ini, Sahabat Dream sebaiknya mengenal tata cara membayar fidyah puasa Ramadan, baik dengan uang atau beras.

Selain itu, membayar fidyah juga sebaiknya dilakukan oleh para ibu hamil dan menyusui jika mereka tidak puasa di bulan Ramadan.

Dengan mengetahui tata cara membayar fidyah, lengkap dengan takaran dan bentuknya, kaum Muslim tetap bisa menjalankan ibadah dengan tenang.

Namun sebelum mengenal tata cara membayar fidyah puasa Ramadan, kita harus tahu orang-orang yang wajib membayar fidyah ini.

Orang-orang Yang Wajib Membayar Fidyah Puasa Ramadan

Berikut ini orang-orang yang wajib membayar fidyah puasa Ramadan yang dirangkum dari berbagai sumber:

  1. Orang sakit dan secara umum ditetapkan sulit untuk sembuh lagi.

  2. Wanita hamil dan menyusui, apabila puasanya mengkhawatirkan anak yang dikandung atau disusuinya.

  3. Orang yang menunda kewajiban meng-qadha' puasa Ramadan tanpa uzur syar'i hingga akan tiba Ramadan tahun berikutnya.

    Selain meng-qadha', mereka juga wajib membayar fidyah puasa Ramadan di tahun sebelumnya, sebanyak hari puasa yang ditinggalkan di tahun lalu.

  4. Orang-orang tua renta yang lemah fisiknya dan tidak mampu menjalankan puasa.

  5. Mereka yang meninggal dengan membawa hutang puasa, maka bagi keluarganya yang masih hidup hendaknya membayarkan fidyah atas nama almarhum/almarhumah sebanyak jumlah hutang puasanya.

Tata Cara Membayar Fidyah Puasa Ramadan

Tujuan dari cara membayar fidyah adalah untuk mengganti satu hari puasa yang sudah ditinggalkan dengan memberi makan satu orang miskin.

Namun, umumnya tata cara membayar fidyah puasa Ramadan bisa dilakukan dengan dua model berikut:

  1. Memasak sendiri makanan, kemudian mengundang orang miskin sejumlah hari-hari yang ditinggalkan selama bulan Ramadan.

    Cara membayar fidyah model ini dilakukan oleh sahabat Rasulullah SAW, Anas bin Malik, ketika beliau sudah menginjak usia senja dan tidak sanggup untuk berpuasa.

    Tentang cara membayar fidyah puasa Ramadan sebagaimana dilakukan oleh Anas bin Malik terdapat pada hadis yang dishahihkan sanadnya oleh Syeikh Al-Albani dalam kitab Irwa' berikut ini:

    " Bahwa beliau tidak mampu berpuasa selama setahun, lalu beliau membuat satu nampan besar bubur dan mengundang tiga puluh orang miskin dan mengenyangkan mereka." (HR. Ad-Daruquthni).

  2. Memberikan bahan makanan mentah kepada orang miskin. Lebih sempurna lagi jika kita juga memberikan bahan makanan yang bisa dijadikan lauk.

    Seperti dijelaskan di atas, cara membayar fidyah dapat dilakukan perseorangan setiap harinya atau dengan mengumpulkan jumlah orang miskin sesuai hari puasa yang telah ditinggalkan.

1 dari 6 halaman

Waktu Membayar Fidyah yang Diperbolehkan dan Tidak Diperbolehkan

Seorang Muslim boleh membayar fidyah pada hari itu juga ketika tidak melaksanakan puasa.

Namun, dia juga bisa mengumpulkan sampai hari terakhir bulan Ramadan, seperti yang dilakukan oleh Anas bin Malik.

Waktu membayar fidyah yang tidak diperbolehkan adalah membayar sebelum datang bulan Ramadan.

Sebagai contoh, ada orang sakit yang kemungkinan sulit sembuh membayar fidyah pada bulan Sya'ban.

2 dari 6 halaman

Bentuk dan Takaran Fidyah Puasa Ramadan

Bentuk fidyah puasa Ramadan ini berupa makanan. Biasanya merupakan makanan pokok sesuai dengan daerah dan budaya masyarakatnya.

Makanan pokok ini bisa berbentuk siap saji atau hanya berupa bahan mentah. Keduanya boleh-boleh saja, karena memang tidak ada aturan khusus yang mengikat.

Sementara untuk takaran fidyah puasa Ramadan, ada penjelasan tersendiri. Sebagian ulama seperti Imam As-Syafi'i, Imam Malik dan Imam An-Nawawi menetapkan bahwa takaran fidyah yang harus dibayarkan kepada setiap 1 orang fakir miskin adalah 1 mud gandum sesuai dengan ukuran mud Nabi shalallahu'alaihi wasallam.

Maksudnya mud adalah telapak tangan yang ditengadahkan ke atas untuk menampung makanan (mirip orang berdoa).

Dalam kitab Al-Fiqhul Islami Wa Adillatuhu disebutkan jika diukur dengan ukuran zaman sekarang, 1 mud setara dengan 675 gram atau 0,688 liter.

Sementara ulama yang lain seperti Abu Hanifah berpendapat ½ sha' atau 2 mud gandum dengan ukuran mud Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam, atau setara dengan setengah sha' kurma atau tepung. Sebagian ulama memperkirakan ½ sha' beratnya 1,5 kg dari makanan pokok.

Pendapat lain dari kalangan Hanafiyah, seperti Imam Al-Kasani dalam Bada'i'i wa As-Shana'i'. Satu sha' itu setara dengan 4 mud, sama dengan jumlah zakat fitrah yang dibayarkan. Bila ditimbang, 1 sha‘ itu beratnya 2.176 gram. Bila diukur volumenya, 1 sha‘ setara dengan 2,75 liter.

Bahan-bahan pokok inilah yang nantinya akan diberikan kepada fakir miskin untuk setiap harinya selama tidak berpuasa di bulan Ramadan.

3 dari 6 halaman

Cara Membayar Fidyah Puasa Ramadan dengan Uang

Untuk membayar fidyah puasa Ramadan dengan uang ini masih jadi perdebatan. Menurut kalangan Hanafiyah, fidyah boleh dibayarkan dalam bentuk uang sesuai dengan takaran yang berlaku (1,5 kg makanan pokok per hari dikonversi jadi rupiah).

Namun pendapat dari mayoritas ulama, mulai dari Syafiiyah, Malikiyah dan Hanabilah, fidyah tidak boleh dibayarkan dalam bentuk uang.

Membayar fidyah puasa Ramadan harus dalam bentuk makanan pokok, baik mentah ataupun yang sudah dimasak. Hal ini sesuai dengan firman Allah yang berbunyi:

" Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin." (QS. Al-Baqarah: 184).

Untuk itu, cara membayar fidyah puasa Ramadan yang paling dianjurkan adalah dengan menggunakan makanan pokok yang sesuai dengan daerah dan masyarakatnya.

4 dari 6 halaman

Cara Membayar Fidyah Puasa Ramadan dengan Beras

Sebagaimana disebutkan di atas, cara membayar fidyah puasa Ramadan adalah dengan menggunakan bahan mentah, seperti gandum, beras, atau makanan pokok yang sesuai dengan daerah dan budaya masyarakatnya.

Karena itu, membayar fidyah puasa Ramadan dengan beras boleh saja asalkan sesuai dengan takaran yang sudah dijelaskan di bagian Bentuk dan Takaran Fidyah Puasa Ramadan.

5 dari 6 halaman

Cara Membayar Fidyah Bagi Ibu Hamil dan Menyusui

Salah satu kelompok umat yang diperbolehkan meninggalkan puasa Ramadan adalah ibu hamil dan menyusui. Mengingat kondisi ibu hamil tidak stabil dan ia juga harus mencukupi nutrisi makanan demi janin yang dikandung.

Hadis yang menjelaskan tentang membayar fidyah bagi ibu hamil, termasuk ibu menyusui, bisa dilihat berikut ini:

" Wanita hamil dan menyusui, jika takut (terjadi sesuatu) terhadap anak-anaknya, maka mereka (boleh) berbuka dan memberi makan seorang miskin." (HR. Abu Dawud)

Ibnu 'Umar radhiallahu'anhu ketika ditanya tentang seorang wanita hamil yang mengkhawatirkan anaknya, maka beliau berkata, " Berbuka dan gantinya memberi makan satu mud gandum setiap harinya kepada seorang miskin." (Al-Baihaqi dari Imam Syafi'i, sanadnya shahih).

Untuk bentuk dan takaran fidyah bagi ibu hamil dan menyusui sama dengan yang lainnya. Intinya, cara membayar fidyah bagi ibu hamil dan menyusui bergantung pada jumlah hari puasa yang ditinggalkan.

6 dari 6 halaman

Keutamaan Membayar Fidyah Puasa Ramadan

Kata fidyah berasal dari bahasa Arab faada yang artinya tebusan atau menebus.

Secara istilah, fidyah didefinisikan sebagai sejumlah benda atau makanan yang diberikan kepada fakir miskin dengan takaran tertentu untuk mengganti amal ibadah yang ditinggalkan.

Namun, membayar fidyah dengan memberikan makanan kepada fakir miskin tak hanya untuk melunasi hutang puasa Ramadan.

Membayar fidyah juga sebagai wujud berbagi kepada sesama manusia. Sehingga mereka yang tergolong fakir miskin bisa merasakan makanan enak atau mendapatkan bahan pokok agar beban hidup mereka menjadi lebih ringan.

Demikian tadi penjelasan tentang cara membayar fidyah puasa Ramadan, dengan uang, beras, untuk ibu hamil dan menyusui.

(Dirangkum dari berbagai sumber)

Beri Komentar