Ada Kabar Gembira Dari Merpati. (Foto: Wikipedia)
Dream – PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) akan kembali mengudara pada 2019. Maskapai pelat merah yang telah mati suri itu melaporkan telah mendapatkan investor baru, PT Intra Asia Corpora.
“ Kami berkeyakinan dan optimistis bakal kembali terbang,” kata Presiden Direktur Merpati, Asep Ekanugraha, di Jakarta, dikutip dari Liputan6.com, Senin 12 November 2018.
PT Intra Asia Corpora merupkan investor dalam negeri yang terafiliasi dengan Asuransi Intra Asia dan PT Cipendawa yang sempat terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan kode emiten CPDX.
Menurut Asep, investor itu berkomitmen menanamkan modal hingga Rp6,4 triliun demi Merpati kembali mengudara.
“ Semua persiapan, terutama dana operasional sudah kami dapatkan komitmennya,” kata dia.
Dengan suntikan dana tersebut, Merpati bisa kembali memiliki pesawat dan mulai mengurus rute terbang dan investasi operasional lainnya.
Tapi, keputusan Merpati terbang kembali itu akan bergantung dari proses sidang Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) yang dijadwalkan pada Rabu 14 November 2018.
" Memang, titik krusialnya, yang di putusan pengadilan terkait kasus utang kami yang akan diputuskan pada Rabu 14 November nanti. Ya, tentu saja kami berharap, Merpati diberi kesempatan untuk beroperasi lagi. Jika demikian, maka kami akan tancap gas, melaksanakan langkah strategis operasional, yang telah kami siapkan,” kata dia.
Sekadar informasi, kewajiban Merpati yang harus ditanggung dan belum terbayar saat ini mencapai Rp10 triliun. Asep optimistis dengan kucuran Rp6,4 triliun ini bisa menjadi modal awal dalam memulai bisnis dan secara bertahap melunasi kewajiban itu.(Sah)
Kalau Intra Asia Corpora masuk ke Merpati, apakah maskapai itu tak lagi menjadi BUMN? Asep belum bisa menjelaskan hal ini karena menyangkut perjanjian kedua perusahaan.
“ Hanya investor memang mengucurkan dana dengan soft lender. Artinya, pihak investor akan mendapatkan return dari Merpati setelah maskapai ini mapan mengudara,” kata dia.
Asep mengatakan dana itu tidak turun sepenuhnya, tetapi bertahap selama dua tahun. Dengan adanya dana itu, setidaknya Merpati bisa punya pesawat dan mulai mengurus izin rute terbang dan investasi operasional lainnya.
" Memang, titik krusialnya, yang di putusan pengadilan terkait kasus utang kami yang akan diputuskan pada Rabu 14 November nanti. Ya, tentu saja kami berharap, Merpati diberi kesempatan untuk beroperasi lagi," kata dia.
Asep mengatakan, kalau Merpati diizinkan untuk beroperasi, maskapai ini akan langsung " berlari" .
" Jika demikian, kami akan tancap gas, melaksanakan langkah strategis operasional, yang telah kami siapkan,” kata dia.
Asep mengatakan, kalau beroperasi kembali, Merpati takkan menggunakan Boeing dan Airbus. Perusahaan ini akan menggunakan pesawat buatan Rusia.
“ Tapi pesawat yang kita gunakan adalah buatan Rusia dan bukan yang pernah kecelakaan di Gunung Salak," kata dia di Jakarta.
Asep mengatakan tahun depan, Merpati takkan bermain di segmen penerbangan bertarif rendah. Maskapai ini akan menyasar ke wilayah Indonesia Timur serta penerbangan ke Indonesia Barat. Tak tertutup kemungkinan Merpati akan terbang ke luar negeri.
" Kami sudah belajar dari kejatuhan perusahaan dan saatnya menatap ke depan yang lebih baik. Apalagi selain pemerintah dan investor swasta yang mendukung, sudah banyak perusahaan asuransi yang ikut mendorong beroperasinya MNA lagi," kata dia.
Asep mengatakan struktur organisasi baru Merpati juga sudah selesai disusun. Investor swasta juga tak minta “ jatah” untuk duduk di struktur organisasi.
“ Investor hanya mau dana yang sudah ditanam bisa digunakan sebaik-baiknya, sehingga perusahaan bisa meraup laba seperti yang diharapkan,” kata dia.
(Sumber: Liputan6.com/Ilyas Istianur Praditya)