Darurat Cacar Monyet, Dan Kematian Itu Makin Akrab

Reporter : Edy Haryadi
Senin, 15 Agustus 2022 21:01
Darurat Cacar Monyet, Dan Kematian Itu Makin Akrab
Virus ini tidak bisa diremehkan.

Dream – Ini adalah cerita tentang seorang pemuda berusia 22 tahun, Ia berasal dari Punniyoor di Thrissur, Kerala, India. Ia baru kembali ke negaranya  setelah berkunjung Uni Emirat Arab pada tanggal 22 Juli 2022.

Saat tiba di rumah, pemuda itu kemudian merasa tak enak badan. Ia demam dan ruam mulai muncul di seluruh tubuhnya. Ia pun memutuskan mengunjungi salah satu rumah sakit swasta di Thrissur, Kerala, pada Selasa 26 Juli 2022.

Namun demamnya tak membaik. Kondisinya malah kian memburuk. Akhirnya pada  hari Sabtu, 30 Juli, empat hari setelah dia dirawat, dia meninggal dunia.

“ Ia dinyatakan positif terinfeksi cacar monyet saat dia berada di luar negeri,” kata Menteri Kesehatan Negara Bagian Kerala, Veena George, seperti dikutip Indian Express.

Inilah kematian pertama akibat cacar monyet atau monkeypox di Asia. Kematian itu tak ayal menimbulkan alarm di banyak negara.

Tempat isolasi cacar monyet di India© India Express

(Tempat isolasi cacar monyet di India/Indian Express)

Kasus ini baru. Terpisah dari tiga kasus cacar monyet yang terdeteksi di Kerala sebelumnya. Salah satu dari tiga kasus sebelumnya telah dipulangkan dari rumah sakit, dan dua lainnya dilaporkan stabil. Kasus cacar monyet juga terdeteksi di Delhi sebanyak dua kasus.

Jumlah kasus global cacar monyet sekarang mencapai lebih dari 25.000 kasus, dengan lebih dari 7.000 kasus di Amerika Serikat.

Namun, sebagian besar kematian terjadi di Afrika, di mana wabah cacar monyet telah terjadi selama bertahun-tahun. Secara keseluruhan, lebih dari 75 orang dilaporkan tewas akibat cacar monyet di Afrika.

Di luar Afrika, hanya ada tiga kematian yang dilaporkan, tidak termasuk kematian di Kerala.

Kematian terkait cacar monyet pertama di luar benua Afrika dilaporkan terjadi di Brasil pada Jumat, 29 Juli 2022. Juga pada hari Jumat, ada kematian di wilayah Valencia, Spanyol. Dan pada hari Sabtu 30 Juli 2022, seorang pasien meninggal di wilayah Andalusia, Spanyol. Dua kematian di Spanyol adalah kematian terkait cacar monyet pertama di Eropa.

Laporan awal media Brasil menunjukkan, kematian di Brasil menimpa seorang pria berusia 41 tahun yang menderita limfoma dan immunocompromised dan karena itu berisiko lebih tinggi terkena penyakit parah.

Menurut Ars Tecnica, dua kasus lainnya di Spanyol  dilaporkan meninggal karena ensefalitis —radang otak— yang merupakan komplikasi potensial dari cacar monyet.

Di Spanyol, seorang berusia 31 tahun dan 44 tahun dilaporkan meninggal karena ensefalitis atau radang otak terkait cacar monyet. Laporan sejauh ini menunjukkan bahwa keduanya sebelumnya sehat dan tidak mengalami gangguan kekebalan.

Dan kematian, akibat cacar monyet --mengutip penyair Subagio Sastrowardoyo-- makin akrab…

***

Orang terinfeksi cacar monyet umumnya memang bisa sembuh dengan sendirinya. Namun, pada orang dengan kondisi tertentu, cacar monyet memang bisa menimbulkan kematian.

Hal itu ditegaskan Ketua Satgas Monkeypox Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Hanny Nilasari seperti dikutip Liputan6.

" Kalau orang itu punya daya tahan tubuh lemah bisa komplikasi. Misalnya, infeksi kulit, saluran pernapasan, bahkan hingga infeksi otak dan berakhir kematian," ujar Hanny Nilasari.

Infeksi otak inilah yang menimpa dua kasus kematian di Spanyol yang disebabkan oleh radang otak.

Hanny mengatakan risiko kematian pada pasien cacar monyet berkisar 0-16 persen akibat komplikasi, seperti infeksi sekunder pada saluran napas, darah tercemar, infeksi otak, dan infeksi mata.

" Kalau infeksinya ada di otak, atau menyerang semua organ tubuh, artinya terjadi sepsis, maka angka kematian tinggi," katanya.

Lebih lanjut Hanny mengungkapkan bahwa gejala yang paling banyak dilaporkan pada pasien cacar monyet adalah demam, sakit kepala, rasa tidak nyaman di saluran tenggorokan, pembesaran kelenjar getah bening, dan ruam atau lesi di kulit.

" Jadi bisa jadi ada ruam di telapak tangan dan mukosa, di sekitar mata, mulut, atau bahkan di dalam mulut, dan di sekitar anus atau area genital lain," kata Hanny.

Untuk kondisi cacar monyet di Indonesia sendiri, Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia Maxi Rein Rondonuwu mengungkapkan, ada 15 kasus suspek cacar monyet (monkeypox) di Indonesia. Data ini per 7 Agustus 2022.

" Masih sama seperti kemarin, belum ada perkembangan lagi, ya ada 15 suspek cacar monyet," ungkap Maxi seperti dikutip Liputan6

Dari data 15 kasus suspek cacar monyet tersebut, Maxi menekankan, seluruh pasien sudah selesai diperiksa. Mereka bukan masuk kategori suspek lagi, melainkan berubah status menjadi discarded atau tidak terbukti cacar monyet.

Maxi Rein Rondonuwu© RSUP Kanaou

(Maxi Rein Rondonuwu/RSUP Kanou)

Discarded artinya kasus suspek atau probable dengan PCR hasil negatif  monkeypox. " Mereka sudah selesai diperiksa negatif, bukan suspek lagi " terang Maxi.

Adapun 15 kasus suspek cacar monyet di Indonesia --yang akhirnya berstatus discarded -- sebarannya  ada di 8 pasien di DKI Jakarta, 3 pasien dari Jawa Barat, dua pasien di Jawa Tengah, dan satu pasien di Jawa Tengah.

Sebagai upaya penguatan surveilans cacar monyet di Indonesia, Kemenkes juga sudah menyiapkan tambahan 10 laboratorium. Total laboratorium menjadi 12 lab.

" Iya, ada tambahan 10 lab. Semua Balai Teknik Kesehatan Lingkungan Pengendalian Penyakit (BTKL-PP) kita, balai besar teknologi kesehatan kita dipakai," kata Maxi Rein Rondonuwu menambahkan.

" Itu ada di Medan, Palembang, Kalimantan adanya di Banjarmasin. Lalu Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, Ambon, Manado, Makassar ada juga."

Seluruh lab tambahan juga tersedia peralatan dan perlengkapan untuk pendeteksian sampel, termasuk kelengkapan reagen. Adanya penambahan 10 lab bertujuan memprioritaskan kasus yang kemungkinan datang dari pintu masuk kedatangan Indonesia. " Sudah siap. PCR kita lengkap, reagennya juga sudah didistribusikan," lanjut Maxi.

Sejauh ini Indonesia memang bisa dikatakan masih aman. Tapi di belahan dunia lainnya tidak demikian.

***

Sebuah studi yang dipublikasi dalam The New England Journal of Medicine menemukan bahwa cacar monyet (monkeypox) 95 % terjadi pada gay dan pria biseksual.

Artinya, pola penyebaran penyakit cacar monyet kini sudah berubah. Bila dulu penularan cacar monyet didominasi penularan dari hewan terinfeksi ke manusia (zoonosis) seperti terjadi di Afrika, kini menyebar ke seluruh dunia dari manusia ke manusia melalui hubungan seks.

Menurut BBC, cacar monyet memang telah mengejutkan dunia. Penyakit ini awalnya berjangkit di beberapa bagian Afrika tengah dan barat di mana orang tinggal dekat dengan hewan yang membawa virus cacar monyet di hutan.

Tapi sekarang virus cacar monyet sudah mendunia, menyebar dengan cara yang belum pernah terlihat sebelumnya dan dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Kini, ada hampir 25.000 kasus penyakit cacar monyet yang dikonfirmasi di 88 negara, kebanyakan pada pria yang berhubungan seks dengan pria lain.

Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO mengatakan ini adalah keadaan darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional.

Tapi cacar monyet lebih sulit berpindah dari satu orang ke orang lain. Ini membutuhkan kontak fisik yang dekat --seperti melalui kulit yang terinfeksi, kontak tatap muka yang berkepanjangan atau permukaan yang terkontaminasi seperti seprai atau handuk.

Virus telah masuk ke sekelompok orang yang melakukan hubungan seks atau kontak intim dengan pasangan lain dan menyebar.

Virus ini tidak digolongkan sebagai infeksi menular seksual. Tetapi sebuah penelitian di New England Journal of Medicine memperkirakan 95 % infeksi cacar monyet didapat melalui hubungan seks, terutama hubungan seks antar laki-laki.

Seks, jelas, penuh dengan semua kontak kulit-ke-kulit intim yang digunakan virus untuk menyebar.

Pria di Houston, AS, terpapar cacar monyet© Outsmart Magazine

(Pria di Houston, AS, terpapar cacar monyet/Outsmart Magazine)

Di Spanyol, menurut Sky News, ada sekitar 4.298 orang telah terinfeksi virus cacar monyet. Artinya ini merupakan kasus terbanyak di Eropa.

Dari jumlah itu, sekitar 3.500 adalah laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki lain, sedangkan 64 kasus adalah perempuan.

Sekitar 120 pasien --setara dengan 3,2%-- membutuhkan perawatan di rumah sakit, kata kementerian Spanyol.

Ini memang dapat mempermudah pengendalian virus karena, secara keseluruhan, karena ini adalah kelompok yang lebih memahami kesehatan seksual. Ini juga memungkinkan sumber daya untuk ditargetkan pada mereka yang membutuhkannya --seperti memvaksinasi pria yang berhubungan seks dengan pria daripada seluruh populasi.

Namun, stigma, diskriminasi dan pelecehan dapat menghentikan orang mencari bantuan, terutama di negara-negara di mana seks antar laki-laki adalah ilegal.

Pimpinan teknis WHO untuk monkeypox, Dr Rosamund Lewis, mengatakan " mungkin" untuk mengakhiri wabah tetapi memperingatkan " kita tidak memiliki bola kristal" dan tidak jelas apakah organisasi tersebut akan dapat " cukup mendukung negara dan masyarakat untuk menghentikan wabah ini."

***

Pada tanggal 12 Mei 2022, dr Nesli Basgoz, seorang dokter penyakit menular di Rumah Sakit Umum Massachusetts, Amerika Serikat, bertemu dengan seorang pasien berusia 31 tahun dengan gejala yang membingungkan.

Setelah perjalanan ke Kanada, pria itu melihat benjolan gatal di sekitar alat kelaminnya; beberapa hari kemudian, ia mengalami demam, pembengkakan kelenjar getah bening, dan berkeringat sampai basah kuyup. Dia aktif secara seksual selama perjalanannya, jadi Basgoz mempertimbangkan penyakit gonore, sifilis, herpes, dan H.I.V. Tapi sepertinya tidak ada yang cocok dengan gejalanya.

Dia diberi antibiotik dan antivirus, tetapi lepuh kecil berisi cairan meletus di lengan dan kakinya, dan borok di dekat duburnya, serta peradangan di dalam, menjadi sangat menyakitkan sehingga dia kesulitan duduk dan tidur. Basgoz menghubungi departemen kesehatan negara bagian, yang mengatakan bahwa pihaknya belum menerima laporan tentang penyakit serupa.

Di rumah sakit, Basgoz melihat pria itu dua kali sehari. Suatu sore, dia melihat lesung pipit yang khas telah terbentuk di tengah melepuh. Keesokan paginya, dia bangun sebelum pukul lima pagi dengan firasat dan mulai menjelajahi Internet untuk mencari informasi tentang genus virus yang dapat berpindah antar spesies hewan, termasuk cacar monyet.

dr Nesli Basgoz, penemu kasus cacar monyet pertama di AS© Boston Globe

(dr Nesli Basgoz, penemu kasus cacar monyet pertama di AS/Boston Globe)

Untuk mengkonfirmasi diagnosis, dia mengirim sampel ke laboratorium kesehatan masyarakat negara bagian dan kemudian ke Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit. Dan pasien itu dinyatakan positif menderita cacar monyet.

Tetapi wabah saat ini telah menantang buku teks medis. Beberapa pasien, termasuk pria yang dirawat Basgoz, mengalami gejala hanya beberapa hari setelah terpapar. Menjadi jelas bahwa cacar monyet dapat menyebabkan ruam sebelum menyebabkan demam, dan lesi itu mungkin sedikit jumlahnya atau terbatas pada area genital. “ Pedoman didasarkan pada apa yang telah kita lihat di masa lalu,” kata Basgoz seperti dikutip The New Yorker.

Pasien dr Nesli Basgoz itu adalah pasien cacar monyet pertama yang terdeteksi di Amerika Serikat.

Lebih dari 25 ribu kasus cacar monyet kini telah dilaporkan di lusinan negara, termasuk lebih dari 7.000 kasus di AS. Di Eropa, kasusnya meningkat lebih dari tiga kali lipat dalam beberapa pekan terakhir. Angka resmi kemungkinan mengecilkan jumlah sebenarnya dari infeksi yang terjadi, karena pengujian yang tidak memadai dan kurangnya kesadaran publik tentang penyakit tersebut.

Pada akhir Juni, Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO mengidentifikasi wabah itu sebagai " ancaman kesehatan yang terus berkembang" , tingkat kewaspadaan tertinggi kedua. Minggu depan, badan tersebut akan mengadakan kembali komite daruratnya dan dapat menyatakan cacar monyet sebagai darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional.

Virus yang kita sebut cacar monyet pertama kali diidentifikasi pada tahun 1958 oleh para ilmuwan Denmark yang mempelajari primata di laboratorium, tetapi " cacar monyet" ini bukanlah reservoir alaminya. Virus ini bersirkulasi terutama di antara hewan pengerat seperti dormice, tupai tali, dan tikus berkantung di Afrika.

Pada tahun 1970, seorang anak laki-laki berusia sembilan tahun di Republik Demokratik Kongo menjadi orang pertama yang diketahui terinfeksi, dan selama beberapa dekade, penyakit ini sebagian besar terbatas di Afrika Tengah dan Barat, di mana ia menyebar di antara pemburu dan orang lain yang menangani daging hewan liar.

Bahkan, ketika negara-negara Afrika memperingatkan adanya wabah cacar monyet dan meminta dukungan dunia untuk menahannya, virus itu sebagian besar diabaikan oleh komunitas global.

Cacar monyet yang menyerang anak-anak Nigeria© ThisDayLive

(Cacar monyet yang menyerang anak-anak Nigeria/ThisDayLive)

Cacar monyet hadir dalam dua jenis, atau clades. Clade yang mendominasi di Afrika Tengah lebih mematikan, dengan tingkat fatalitas kasus yang dilaporkan setinggi sebelas persen. Clade Afrika Barat, yang sekarang beredar di seluruh dunia, tidak terlalu parah. Namun, sebelum wabah saat ini, bahkan versi ini memiliki tingkat kematian yang dilaporkan hampir empat persen, menurut tinjauan baru-baru ini yang dilakukan oleh Bavarian Nordic, produsen vaksin monkeypox Denmark.

Virus menyebar terutama melalui kontak dekat dengan kulit, tempat tidur, handuk, atau pakaian orang yang terinfeksi. Hal ini membuat seks menjadi cara penularan yang sangat efisien. Wabah saat ini terutama menyerang laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki.

Pada tingkat lebih rendah, cacar monyet dapat menyebar melalui tetesan pernapasan yang dihasilkan ketika orang batuk atau bersin, tetapi tampaknya tidak berlama-lama di udara atau menularkan secara efisien dari jarak jauh, dan tidak diperkirakan menyebar sebelum orang mengembangkan gejala.

Pada kebanyakan orang, gejala cacar monyet dapat diobati dengan perawatan kulit dan obat pereda nyeri. Dalam kasus yang parah, dokter mungkin memberikan tecovirimat, atau Tpoxx, obat antivirus yang menjadi pengobatan pertama yang disetujui oleh Food and Drug Administration (FDA) untuk mengobati cacar, atau brincidofovir, yang disetujui pada 2021.

Vaksin baru Bavarian Nordic untuk cacar monyet, Jynneos, disetujui pada 2019 oleh FDA dan jauh lebih aman. Vaksin diberikan dalam dua dosis, terpisah dua puluh delapan hari. Menurut C.D.C., dosis pertama yang diberikan dalam empat hari setelah terpapar dapat mencegah infeksi sama sekali, sementara dosis dalam dua minggu dapat mengurangi gejala.

Tetapi pasokan vaksin Jynneos terbatas. Bahaya bergantung pada produsen vaksin tunggal sudah terlihat. Pasokan vaksin akan meningkat secara signifikan di akhir tahun; dan pada akhir 2022, AS harus memiliki sekitar dua juta dosis. Tetapi lusinan negara lain yang menghadapi wabah cacar monyet di seluruh dunia harus berebut lima juta dosis Jynneos di antara mereka.

***

Karena kegawatannya, Presiden AS Joe Biden pada hari Kamis 4 Agustus 2022 menyatakan wabah cacar monyet sebagai darurat kesehatan nasional di seluruh Amerika Serikat..

Menurut The New York Times, deklarasi tiu disampaikan oleh Xavier Becerra, Sekretaris Kesehatan Presiden Biden, menandai darurat nasional kelima sejak 2001, dan datang ketika negara itu tetap dalam keadaan darurat akibat pandemi virus corona. Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO sendiri telah mengumumkan darurat kesehatan global atas wabah itu tanggal 23 Juli 2022.

Pengumuman Becerra disampaikan pada briefing berita sore, di mana dia bergabung dengan sejumlah pejabat tinggi kesehatan lainnya, memberi badan-badan federal kekuatan untuk dengan cepat mengarahkan uang untuk mengembangkan dan mengevaluasi vaksin dan obat-obatan, untuk mendapatkan akses ke pendanaan darurat dan untuk mempekerjakan pekerja tambahan. untuk membantu mengelola wabah, yang dimulai pada bulan Mei.

Xavier Becerra,© News Lefatlet

(Xavier Becerra/News Leaftlet)

“ Kami siap untuk mengambil respons ke tingkat berikutnya dalam mengatasi virus ini,” kata Becerra, seraya menambahkan bahwa “ kami mendesak setiap orang Amerika untuk menganggap serius cacar monyet, dan bertanggung jawab untuk membantu kami mengatasi virus ini.”

Dr. Anne Rimoin, seorang ahli epidemiologi di University of California, Los Angeles, dan anggota panel penasihat W.H.O. tentang cacar monyet, mengatakan bahwa deklarasi tersebut akan mengirimkan “ pesan kuat bahwa ini penting, bahwa itu harus ditangani sekarang.”

Dr. Rimoin adalah salah satu penasihat ilmiah yang mendesak W.H.O. untuk mengkategorikan cacar monyet sebagai “ darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional”, sebutan yang digunakan organisasi tersebut hanya tujuh kali sejak 2007.

Usul itu akhirnya disetujui. Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal W.H.O, Dr Tedros memang menolak masukan para penasihat untuk menyatakan cacar monyet sebagai darurat global, status yang saat ini hanya dipegang oleh dua penyakit lain, yakni polio dan Covid-19.

Walau dinyatakan hanya sebagai darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional oleh WHO, tak ada salahnya untuk tetap waspada pada virus cacar monyet. Karena penularan kini sudah meluas: bisa terjadi bila menyentuh pakaian, seprai, atau benda yang dipegang penderita. Bila tidak, bakal semakin banyak jatuh korban. Dan kematian  makin akrab… (eha)

Sumber: Indian Express, ArsTecnicca, Liputan6, BBC, Sky News, The New Yorker, The New York Times

Beri Komentar