Bos Taksi Malaysia Protes dan Cibir Gojek Buat Negara Miskin, Ini Kata Manajemen

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Selasa, 27 Agustus 2019 15:48
Bos Taksi Malaysia Protes dan Cibir Gojek Buat Negara Miskin, Ini Kata Manajemen
Gojek justru menanggapi penolakan di Malaysia dengan cara ini.

Dream – PT Aplikasi Karya Anak Bangsa (Gojek Indonesia) siap berekspansi ke Malaysia. Namun niat perusahaan mengembangkan sayap ke negeri jiran tersebut ditentang oleh perusahaan taksi setempat.

Yang menyakitkan, seorang pengusaha taksi di Malaysia menilai Gojek hanya pantas beroperasi di Indonesia karena termasuk negara miskin.

Pernyataan kontroversial pengusaha transportasi Malaysia itu tak lantas membuat Gojek patah arang. 

“ Gojek, pada dasarnya, sangat terbuka dengan kompetisi. Itulah yang memacu kami untuk berbuat yang lebih baik lagi,” kata Chief Public Policy & Government Relation Gojek Group, Shinto Nugroho, dalam “ Gerakan Online Nusantara” di Jakarta, Selasa 27 Agustus 2019.

Shinto mengatakan penolakan dari berbagai pihak itu membuatnya tertantang untuk memberikan pelayanan yang lebih maksimal.

“ Kalau mau berkompetisi yang sehat, boleh. Yang penting, kan, tidak monopoli,” kata dia.

Shinto mengatakan Gojek mendapatkan sambutan oleh pemerintah Malaysia.

“ Kami tentunya sangat berterima kasih atas kesempatan yang diberikan oleh pemerintah Malaysia,” kata dia.

1 dari 4 halaman

Bos Taksi Sebut Indonesia Negara Miskin

Dikutip dari Free Malaysia Today, founder Big Blue Taxi, Shamsubahrin Ismail, tak sepakat dengan rencana Gojek mengaspal di Malaysia, apalagi konsep ojek pnline. Ismail meminta pemerintah Malaysia fokus dengan masalah taksi online dengan yang konvensional terlebih dahulu.

Jika ojek online ini sampai “ goal”, Ismail menilai itu sebuah langkah mundur pemerintah.

“ Karier di Gojek tidak menyediakan masa depan yang menjanjikan. Para pemuda kita bisa berkarier lebih dari itu,” kata dia.

Ismail juga mengatakan Malaysia berbeda dengan Indonesia. Dia juga menyebut Gojek pantas berada di Indonesia karena rasio kemiskinannya tinggi, tidak seperti di Malaysia.

“ Gojek bisa beroperasi di Indonesia karena rasio kemiskinan tinggi sekali, tak seperti Malaysia,” kata dia.

Ismail juga mengatakan ojek online tidak pas berada di Malaysia karena budaya. Dikatakan bahwa perempuan di Indonesia bisa memeluk driver ojek online yang mayoritas adalah pria.

“ Tapi, bagaimana dengan Malaysia? Apakah kita mau melihat para perempuan kita memeluk para pengemudi di sini dan di sana?” kata dia.

(Sah, Laporan : Alfi Salima Puteri)

2 dari 4 halaman

Gojek Diizinkan Mengaspal di Malaysia

Dream - Pemerintah Malaysia telah memberi lampu hijau kepada Go-Jek untuk beroperasi di negeri jiran itu. Persetujuan itu diambil dalam rapat kabinet yang digelar Rabu lalu, setelah melalui diskusi panjang.

" Kabinet secara prinsip telah setuju penerapan layanan Go-Jek," kata Menteri Pembangunan Kewirausahaan Malaysia, Datuk Seri Mohd Redzuan Yusof, dikutip dari The Star, Kamis 22 Agustus 2019.

Malaysia telah memerintahkan kementerian Pemuda dan Olah Raga serta Kementerian Transportasi untuk merevisi maupun membuat peraturan yang memungkinkan ojek motor beroperasi di negaranya. Proses ini, kata Mohd Redzuan, butuh waktu satu atau dua bulan.

Mohd Redzuan mengatakan, pelegalan ojek motor sangat penting bagi Malaysia. " Kami ingin memastikan apapun yang kami terapkan untuk membangun perekonomian pemuda kami, ini tidak melanggar hukum," tegas dia.

3 dari 4 halaman

Tapi, Ditentang Sopir Taksi

Namun, kebijakan ini ditentang oleh para pengemudi taksi di Malaysia. Mereka menyebut layanan ini bisa mengurangi pendapatan para sopir taksi.

Presiden Gabungan Persatuan Taksi, Mobil Sewa, dan Taksi Bandara Malaysia, Kamaruddin Mohd. Hussain, mengatakan, keputusan untuk memperbolehkan Gojek di Malaysia, diambil tanpa mendengarkan opini para sopir taksi.

" Keputusan ini bisa membuat para pengemudi taksi kehilangan pendapatannya. Yang lebih buruk, keselamatan orang-orang bisa berada dalam bahaya," kata Kamaruddin.

Dia juga kecewa dengan keputusan pemerintah.

" Kami kecewa karena masalah taksi online tak kunjung diselesaikan. Ini lagi ditambah ojek online. Apa yang akan terjadi kepada industri transportasi publik di negara ini," kata Kamaruddin kepada Sinar Harian.

4 dari 4 halaman

Layanan Transportasi Harus Mengutamakan Keselamatan Masyarakat

Kamaruddin mengatakan, para pengemudi taksi bukannya menolak perkembangan teknologi. Mereka berpikir pemerintah seharusnya memastikan apapun layanan yang diperkenalkan seharusnya mengikuti hukum dan memprioritaskan keselamatan orang-orang.

" Jika Perdana Menteri, Mahathir Mohammad, bisa meluangkan waktu untuk bertemu dengan menteri-menteri lain tentang penjelasan ojek online, dia juga seharusnya bisa mengalokasikan waktu untuk bertemu dengan kami dan mendengarkan masalahnya," kata dia.

Sekadar informasi, para pengemudi protes terhadap layanan taksi online, seperti Grab dan MyCar. Beberapa pengemudi taksi online dikabarkan diserang dan diusir karena menurunkan atau menaikkan penumpang sebelum pemerintah mengimplementasikan SIM PSV untuk para sopir taksi online.

Beri Komentar
Video Kondisi Terkini WNI dari Wuhan di Natuna