Gaza Dirancang Jadi `Silicon Valley` Palestina

Reporter : Syahid Latif
Sabtu, 26 Juli 2014 15:03
Gaza Dirancang Jadi `Silicon Valley` Palestina
Orang-orang Gaza yang tertarik bisnis teknologi berlomba membuat startups dan mendapatkan pendanaan dari investor global.

Dream - Sebuah fakta yang cukup menarik terjadi di Gaza. Wilayah yang selalu identik dengan perang ini ternyata menyimpan informasi mengejutkan. Di balik berkecamuknya perang, ada sebuah usaha untuk menjadikan Gaza sebagai 'Silicon Valley' Palestina.

Silicon Valley merupakan tempat tumbuhnya industri startup di Amerika Serikat (AS). Wilayah ini telah banyak melahirkan perusahaan-perusahaan teknologi informasi besar yang kelak menjadi penguasa di dunia.

Dikutip Dream dari laman Huffingtonpost, Jumat, 25 Juli 2014, sebelum Israel menyerbu Gaza pada 8 Juli lalu, sebuah acara empat tahunan bernama Gaza Startup Weekend digelar pada 19-21 Juni. Di acara tersebut, orang-orang Gaza yang tertarik bisnis teknologi berlomba membuat startups dan mendapatkan pendanaan dari investor global.

Mariam Abultewi adalah perempuan pertama di Gaza yang startups-nya mendapat pendanaan dari investor. Abultewi merancang startups dan aplikasi berbasis mobile bernama Wasselni yang diluncurkan secara resmi 5 bulan yang lalu. Dengan Wasselni, orang bisa memesan taksi hanya dengan sentuhan jari.

Menjadi seorang entrepreneur perempuan di Gaza tidak mudah, kata Abultewi menceritakan awal perjalanannya mendirikan startups. Selain mendapat tantangan keluarga, startups yang didaftarkannya pada Gaza Startup Weekend 2011 tidak berhasil mendapat dukungan dan akhirnya ditolak.

Namun dia tidak patah arang, pada tahun 2012 Abultewi mendaftarkan lagi sebuah startups bernama Wasselni dan ternyata dinyatakan sebagai pemenang. Startup itu akhirnya mendapat pendanaan di Yordania dari sebuah program mentoring Palestina bernama Pallino. Sejak peluncuran Wasselni, ribuan orang telah menjadi anggotanya dan 120 perusahaan taxi menjadi partner-nya.

" Investor internasional kesulitan mengucurkan dana secara langsung kepada startups di Gaza," kata Tom Sperry, salah satu juri Gaza Startup Weekend. Investor dilarang menyalurkan dana ke Gaza karena pemerintahannya dijalankan oleh Hamas yang dipandang sebagai teroris oleh sebagian dunia Barat dan Amerika Serikat.

" Jadi lebih baik dilakukan secara lokal atau regional," imbuh Sperry. Untuk itu, Bank of Palestine dan Palestine Islamic Bank berkomitmen untuk menolong masalah investasi startups di Gaza.

Selain itu, startups yang didukung investor Barat atau Amerika Serikat tidak didaftarkan sebagai startups di Gaza tapi di negara-negara sekitarnya, seperti Yordania, kata Iliana Montauk, Direktur Gaza Sky Geeks - sebuah akselerator startups lokal.

Menyelenggarakan acara berkelas di Jalur Gaza sangat beresiko. Banyak sekali kendalanya, seperti penolakan Israel untuk memberi izin juri dari Ramallah, para tamu internasional yang ditarik pulang karena serangan udara Israel dan sebagainya.

Selain masalah politik dan ekonomi, perempuan yang berbisnis bidang teknologi harus menghadapi tantangan dan harapan yang berlebihan dari anggota keluarganya. (Ism)

Beri Komentar