Bank Tertua Milik Raja Thailand Jadi Investor Gojek?

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Rabu, 10 Juli 2019 19:15
Bank Tertua Milik Raja Thailand Jadi Investor Gojek?
Berapa besarnya?

Dream – Kantong perusahaan penyedia jasa Gojek makin tebal saja. PT Aplikasi Karya Anak Bangsa (Gojek Indonesia) dikabarkan telah mendapatkan investasi jumbo dari salah satu bank Thailand, Siam Commercial Bank Pcl.

Bank yang mayoritas sahamnya dimiliki oleh Maharaja Vajiralongkorn yang merupakan raja Thailand itu menyuntikkan dana untuk membantu layanan keuangan Gojek di Indonesia.

Dikutip dari Deal Street Asia, Rabu 10 Juli 2019, sumber Bloomberg tak menyebutkan jumlah dana yang dikucurkan kepada Gojek. Siam Commercial Bank akan mengandalkan transaksi online untuk menggenjot pendapatan.

Bank-bank Asia Tenggara semakin bekerja sama dengan pemain bisnis teknologi yang masuk ke wilayah mereka.

Grab, salah satu pesaing terkuat Gojek, sebelumnya mendapatkan investasi senilai US$50 juta (Rp705,27 miliar) dari Kasikonbank Pcl Thailand. Investasi dari bank Thailand ini bertujuan untuk membuat “ dompet digital bersama”.

Sekadar informasi, Siam Commercial Bank merupakan bank investasi tertua di Thailand. Bank ini jadi pihak terbaru untuk bergabung dalam investasi putara seri-F Gojek.

Perwakilan bank dan Gojek enggan berkomentar tentang kabar suntikan dana ini.

Mengutip data situs perusahaan Siam Commercial Bank, Raja Maha Vajiralongkorn Bodindradebayavarangkun diketahui merupakan pemilik 23,35 persen saham bank tertua di Thailand tersebut. Bank ini telah berdiri sejak 1906.

Gojek sendiri telah mengantongi investasi senilai US$1 miliar (Rp14,1 triliun) dari pendanaan putaran pertama. Pihak-pihak yang tergabung dalam sesi ini adalah Google Alphabet, JD.com, Tencent Holdings, dan Capital Provident.

Pada minggu ini, Gojek mengumumkan investasi tambahan dari Mitsubishi Motors Corp, Mitsubishi Corp, dan Mitsubishi UFJ Lease and Finance Co sebagai pembiayaan seri F.

Perusahaan yang digawangi oleh Nadiem Makarim ini menjadi booming pada 2015 dan kini melayani konsumen di seluruh Asia Tenggara. Kini, Gojek bernilai US$10 miliar (Rp141,05 triliun). Layanan yang diberikan bervariasi, mulai dari ojek online sampai pengiriman barang. 

1 dari 5 halaman

Kata Gojek Soal Investasi Bank Thailand

Dikutip dari Liputan6.com, Chief Corporate Affairs Gojek Nila Marita belum ingin membeberkan lebih dalam terkait suntikan dana yang diperoleh dari Bank Thailand, yaitu Siam Commercial Bank.

" He-he-he, kalau perihal (suntikan dana) itu dijawab besok ya," tuturnya saat dihubungi Liputan6.com.

Tak hanya itu, Nila juga masih enggan mengungkapkan berapa besar dana yang diperoleh Gojek oleh bank lokal tertua di negara Thailand tersebut.

" Kami belum bisa jawab dulu," kata dia.

2 dari 5 halaman

Gojek Rampungkan Pendanaan dari Google dan Tencent, Nilainya Rp13 T?

Dream – Perintis transportasi online, PT Gojek Indonesia telah merampungkan fase awal pendanaan seri F. Santer beredar nilai pendanaan yang dikucurkan tersebut mencapai US$ 1 miliar atau sekitar Rp13,9 triliun.

Tiga investor kakap dalam pendanaan seri F ini berasal dari Google, JD.com, dan Tencent yang menjadi leader. Dua perusahaan lainnya adalah Mitsubishi Corporation dan Provicent Capital.

" GOJEK telah sukses mempelopori model (multi-sided platform) dimana jutaan pengguna dapat mengakses berbagai layanan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari," kata Nadiem Makarim, CEO GOJEK Group dalam keterangan tertulisnya, Jumat, 1 Februari 2019. 

Nadiem tak menjelaskan berapa nilai pendanaan yang diperolehnya pada pendanaan seri F Gojek tersebut. Namun mengutip Straits Times, sumber di kalangan industri menyebut nilai investasi yang didapatkan lebih dari US$1 miliar (Rp13,96 triliun).

Investasi ini akan menjadikan valuasi perusahaan transportasi online mencapai US$8 miliar-US$10 miliar (Rp111,72 triliun-Rp139,66 triliun).

Gojek menyebutkan pendanaan yang telah diperoleh perusahaan akan digunakan untuk meningkatkan penetrasi pasar untuk setiap bisnisnya. Perusahaan yang digawangi Nadiem Makarim ini juga ingin memperkuat posisinya di Asia Tenggara seiring dengan ekspansinya di Singapura, Vietnam, dan Thailand.

Setelah penutupan seri F, para pendiri Gojek akan tetap memegang kendali dalam pengambilan keputusan dan penentuan arah kebijakan perusahaan. Tujuannya agar mereka bisa merealisasikan visi jangka panjang perusahaan. Plus, melakukan ekspansi dan pengembangan bisnis yang pesat.

Nadiem mengatakan Gojek yang berawal dari bisnis ojek, telah berhasil menjadi pemimpin industri di berbagai layanan utama, seperti transportasi, pesan-antar makanan, pembayaran digital, logistik, dan layanan mitra usaha hanya dalam waktu sekejap.

GO-FOOD bahkan diklaim telah menjadi layanan pesan-antar makanan terbesar di Asia Tenggara. Sementara data dari Financial Time Research menyebutkan GO-PAY menjadi platform pembayaran digital yang memfasilitasi tiga perempat dari pengguna mobile payment di Indonesia.

“ Kesuksesan yang telah kami capai hingga hari ini merupakan bukti keahlian dan kejelian GOJEK dalam menciptakan dampak sosial positif secara luas, dan di saat yang sama juga menciptakan value untuk investor kami," ujarnya.

Menurut Nadiem, putaran pendanaan ini menunjukkan kepercayaan serta keyakinan investor terhadap kemampuan perusahaan dalam mewujudkan visinya.

Perusahaan juga melanjutkan kemitraan strategisnya dengan JD.com, perusahaan patungan e-commerce Indonesia, JD.id, dan perusahaan patungan pengiriman logistik last mile, J-Express (JX).

Kemitraan ini akan melibatkan kolaborasi dalam solusi pembayaran, pemasaran, dan TI dengan JD.id, memungkinkan platform e-commerce untuk menjangkau lebih banyak konsumen Indonesia.

Sementara JX akan bekerja dengan jaringan kurir Gojek untuk menyediakan pelanggan dengan cakupan logistik nasional.

GOJEK merupakan platform mobile on-demand dan pembayaran digital terbesar di Asia Tenggara dengan total gross transaction value (GTV) lebih dari US$9 miliar dan total volume transaksi setahun mencapai 2 miliar pada akhir 2018.

Kinerja ini mengukuhkan kepemimpinan GOJEK di layanan pembayaran digital dan pesan-antar makanan. Ekosistem GO-PAY memproses US$6,3 miliar GTV, sementara GO-FOOD memproses US$2 miliar GTV di tahun sepanjang tahun 2018 - menjadikan GO-FOOD layanan pesan-antar makanan terbesar di Asia Tenggara.(Sah)

3 dari 5 halaman

Astra Tambah Investasi Rp1 Triliun untuk Gojek

Dream – PT Astra Internasional Tbk dan PT Aplikasi Karya Anak Bangsa (Gojek Indonesia) membangun perusahaan patungan (joint venture/JV).

Astra juga menambah investasi sebesar US$100 juta (Rp1,41 triliun). Dengan penambahan modal ini, dana yang disuntikkan Astra kepada Gojek menjadi US$250 juta (Rp3,53 triliun).

Presiden Direktur Astra, Prijono Sugiarto, mengatakan, perusahaan JV duibentuk untuk mengembangkan bisnis ride hailing untuk mobil. Prijono mengharapkan kerja sama ini bisa membantu ketersediaan layanan transportasi online untuk masyarakat.

“ Kami berharap kerjasama ini dapat membantu masyarakat luas masuk ke sektor ekonomi formal, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia,” kata dia di Jakarta, dikutip dari laman Astra, Senin 4 Maret 2019.

Sekadar informasi, Indonesia termasuk negara yang ekonomi digitalnya tumbuh paling pesat di Asia Tenggara. Dengan laju pertumbuhan majemuk tahunan (CAGR) sebesar 49 persen pada periode tahun 2015-2018, sektor ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan mencapai US$100 miliar (Rp1.143,49 triliun) pada tahun 2025 dari US$27 miliar (Rp381,64 triliun) pada tahun 2018.

Kemitraan strategis yang terjalin antara Astra dan GOJEK diharapkan dapat memaksimalkan potensi Indonesia untuk terus menjadi pelopor ekonomi digital yang terdepan di kawasan Asia Tenggara.

CEO Gojek, Nadiem Makarim, mengatakan, potensi ekonomi digital di Asia Tenggara, termasuk di Indonesia, harus dimaksimalkan oleh para pelaku bisnis dengan menggabungkan kekuatan di masing-masing industri.

“ Gabungan kekuatan Astra di bidang otomotif dan GOJEK di bidang teknologi melalui kerja sama ini diharapkan akan membuka lebih banyak peluang bagi masyarakat untuk memiliki sumber penghasilan, sehingga mampu untuk meningkatkan kesejahteraan,” kata dia.

4 dari 5 halaman

Sediakan Ribuan Armada

Nantinya perusahaan patungan itu akan menyediakan ribuan unit armada. Sistem pengelolaan operasional kendaraan ini didukung oleh Astra Fleet Management System (Astra FMS) dan teknologi ride hailing pada Gojek, terutama Go-Car.

Perusahaan ini akan memberikan kesempatan kepada mitra untuk memberikan layanan transportasi online pintu ke pintu dengan kualitas prima kepada pelanggan sekaligus meraih pendapatan yang layak melalui layanan Go-Car.

5 dari 5 halaman

Valuasi US$10 Miliar, Gojek Berhak Sandang Status Decacorn

Dream – Satu lagi kabar baik dari Indonesia. PT Aplikasi Karya Anak Bangsa, perusahaan pemilik platform transportasi  Gojek resmi menyandang status startup decacorn.

Sekadar informasi, perusahaan yang bisa menyandang status decacorn adalah bisnis startup yang memiliki valuasi US$10 miliar atau lebih.

Dikutip dari CB Insight, Jumat 5 April 2019, laporan The Global Unicorn Club, mencatat valuasi Gojek telah mencapai sebesar US$10 miliar (Rp141,49 triliun). 

Nilai valuasi Gojek hanya beda US$1 miliar (Rp14,15 triliun) dari kompetitornya, GrabTaxi. Nilai valuasi GrabTaxi ditaksir sudah menyentuh US$11 miliar (Rp155,64 triliun).

 

 Gojek mencatatkan nilai valuasi US$10 miliar.

Untuk saat ini, Grab dan Gojek masih harus mengaki keunggulan Uber. Perusahaan jasa transportasi online ini mencatat nilai valuasi US$72 miliar atau sudah menembus Rp1.018,76 triliun.

Gojek menjadi perusahaan decacorn lokal pertama asal Indonesia berkat suntikan dana yang masif dari sejumlah investor. Sebut saja Astra International, Google, dan Seqouia Capital India.

Dana itu digunakan untuk mengembangkan bisnisnya ke Asia Tenggara dan mengoptimalkan layanan dompet digitalnya, Go-Pay.

Beri Komentar
Bukan Pertama Kali, Ini Deretan Kebrutalan Anjing Milik Bima Aryo