Helikopter, Cara Miliarder Atasi Kemacetan Jakarta

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Sabtu, 10 Desember 2016 13:01
Helikopter, Cara Miliarder Atasi Kemacetan Jakarta
Sekali terbang, penumpang harus merogoh kocek Rp19 juta.

Dream – Banyak orang Jakarta yang berjam-jam berada di jalanan yang macet. Tak jarang, mereka bertanya-tanya tentang solusi untuk mengatasi kemacetan di ibu kota ini.

Ada satu solusi yang bisa mengatasi peliknya kemacetan ibu kota, yaitu helikopter.

Dilansir dari The Guardian, orang-orang super kaya bisa menggunakan alat transportasi ini untuk bepergian ke bandara, lanjut ke rapat di kantor, bahkan ke rumah sakit untuk berkunjung ke dokter. Dengan helikopter, mereka sama sekali tidak menyentuh jalan raya yang macet.

Di Indonesia, ada satu perusahaan konglomerasi terbesar yang pertama kali menggunakan helikopter sebagai “ mobil” petinggi perusahaan, yaitu Lippo Group. Kendaraan ini digunakan sebagai transportasi para eksekutif grup itu sejak tahun 1997.

Kini, perusahaan tersebut menerbangkan enam unit helikopter untuk melayani para petingginya. Dengan helikopter, waktu tempuh untuk berkendara di jantung kota Jakarta yang semula dua jam, bisa dipangkas menjadi 12 menit.

Muliawan Sutanto —seorang financial adviser untuk divisi penerbangan di grup, Air Pacific, menjelaskan, ada tiga unit helikopter yang berjaga-jaga untuk pimpinan Lippo Group. Helikopter ini juga digunakan untuk evakuasi medis di mana setiap orang harus merogoh kocek US$1.500 atau Rp19,99 juta untuk setiap kali penerbangan privat dengan helikopter (atau biasa disebut helimousine).

1 dari 2 halaman

Helikopter Kurang Infrastruktur?

Helikopter Kurang Infrastruktur? © Dream

Di Jakarta, harapan bepergian dengan jarak waktu singkat pun seakan mengecil. Sebuah studi menyebutkan bahwa seorang pengendara menghabiskan sepertiga waktu mereka untuk bermacet-macetan di jalan raya.

Transportasi publik di Ibukota terbilang tidak efisien. Transportasi publik seperti mass rapid transit (MRT) pun baru terbangun setelah direncanakan sepuluh tahun silam. Dalam pembangunannya, konstruksi infrastruktur MRT mengeblok lalu lintas di jalan utama.

Helikopter pun ternyata juga memerlukan infrastruktur. “ Di Jakarta ada 60 helipad, tapi mayoritas mereka tidak memiliki sertifikat untuk pendaratan,” kata Sutanto.

Dia mengatakan ada delapan yang mendapatkan sertifikat dan enam di antaranya dimiliki oleh Lippo Group.

Dia mengatakan, operasional helipad itu memerlukan perawatan dan repainting terus-menerus. Jika ingin digunakan pada malam hari, infrastruktur helikopter ini harus dipasang alat navigasi yang terbilang mahal.

 

2 dari 2 halaman

Berharap Bisnis Taksi Helikopter Berkembang

Berharap Bisnis Taksi Helikopter Berkembang © Dream

Sutanto mengatakan, ada potensi pasar yang bagus di Jakarta untuk bisnis ini. Sebuah perusahaan transportasi berbasis aplikasi, Uber, telah merilis penerbangan dengan helikopter dari New York ke Sao Paolo.

Uber juga menawarkan perjalanan gratis di Jakarta dengan helikopter pada tahun lalu. Mereka bekerja sama dengan provider lokal, Premi Air. Tapi, rencana kerja samanya belum dibuat.

Sutanto mengatakan, beberapa penerbangan Air Pacific ini dibatalkan karena perlambatan ekonomi seiring dengan penurunan harga minyak dunia. Perlambatan minyak dunia pun membuat klien memangkas biaya operasional dengan kendaraan ini.

“ Sebuah perusahaan pertambangan yang bekerja dengan kami, menghentikan kerja sama dan menganggapnya sebagai pengeluaran tidak perlu,” kata dia.

Sutanto mengatakan beberapa perusahaan serupa juga membuka bisnis yang sama, tapi ternyata permintaan bisnisnya bukan di Jakarta. Kini, kata dia, Lippo membuka akses gratis ke helipad yang ada di rooftop bangunan, tujuannya untuk menggenjot bisnis penerbangan privat ini.

“ Orang-orang di Indonesia enggan membayar. Mereka memiliki untuk duduk di mobil selama berjam-jam. Tapi, (kebiasaan) ini akan berubah. Lalu lintas akan menjadi lebih buruk,” kata dia. (eko)

Beri Komentar