Hidup Mati untuk Yerusalem

Reporter : Ahmad Baiquni
Minggu, 17 Desember 2017 20:07
Hidup Mati untuk Yerusalem
Donald Trump secara sepihak mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Mereka akan memindahkan kantor kedutaan ke kota bersejarah itu.

Dream – Datanglah masa itu, saat yang membuat dunia was-was. Hari pembacaan keputusan penting, penentuan nasib Yerusalem oleh bangsa asing. Dan vonis ini dijatuhkan nun jauh di sana. Enam ribu mil dari kota suci tiga agama itu. Tepatnya di Washington.

Siang itu, Donald Trump melangkah angkuh. Raut datar, tanpa ekspresi. Dikawal sang wakil, dia menuju ke tengah ruang konferensi. Tanpa tegur sapa, hanya gemertak tombol kamera wartawan yang memecah keheningan itu. Dia berhenti di depan podium bermikrofon hitam.

Semua diam, menunggu keputusan presiden Paman Sam. Tidak hanya puluhan jurnalis, mata dunia juga menyorot aula di Gedung Putih itu. Trump, yang berjas hitam dan berdasi biru, telah berdiri di mimbar kebesaran.

Dan, mulailah pidato itu. Kegagalan perdamaian Israel dan Palestina jadi pembuka. Kebijakan menolak pemindahan kedutaan ke Yerusalem selama dua dekade dikritik. Tak ada cara lain untuk memadamkan bara konflik wilayah itu, selain melaksanakan perintah undang-undang Amerika itu.

“ Oleh karena itu, saya telah menentukan bahwa ini saatnya untuk mengakui secara resmi Yerusalem sebagai ibu kota Israel,” kata Trump dalam pidato 6 Desember itu.

Memang sudah bisa ditebak. Kabar pengakuan ini telah merambat ke penjuru jagat sebelum pengumuman itu. Tapi, dunia tetap geger, mengutuk keputusan ini. Tiga jam setelah pidato Trump, Bethlehem di sudut Yerusalem bergolak.

Pengakuan ini memang hal baru. Tapi sebenarnya dasar yang dipakai Trump adalah peraturan lama. Keputusan ini diambil dengan pijakan Jerusalem Embassy Act, ketentuan yang diundangkan tahun 1995, saat pemerintahan Presiden Bill Clinton.

Isu pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel memang jadi perdebatan umum di AS pada era 1980an hingga 1990an. Isu ini juga kerap jadi bahan kampanye, termasuk Clinton.

Dia pertama kali mendeklarasikan diri mendukung pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel pada 1992, saat ikut konvensi calon presiden Partai Demokrat. Janji inilah yang mengubah kebijakan luar negeri AS di kemudian hari.

Saat kampanye pemilu, Clinton bahkan menyerang George H.W. Bush. Dia menyebut kandidat yang diusung Partai Republik itu akan tetap membuat Israel sulit karena tak akan mengakui Yerusalem sebagai ibukota negeri Zionis itu. Clinton dengan lantang mendukung pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Saat menghuni Gedung Putih, Clinton mulai dilobi kaum Yahudi untuk memindah kedutaan ke Yerusalem. Tapi ternyata mewujudkan rencana itu tak semudah teriak di panggung kampanye.

Pada 1995, kongres AS, yang dipelopori anggota senat Bob Dole, meloloskan Embassy Jerusalem Act. Undang-undang itu memerintahkan penguasa AS memindahkan kantor kedutaan besar di Tel Aviv ke Yerusalem, paling lambat tahun 1999. Namun sejak itu, Clinton mengabaikan undang-undang ini dengan menggunakan hukum waiver.

Sikap ini diikuti oleh dua presiden berikutnya, George W. Bush dan Barack Obama. Saban enam bulan sekali mereka memutuskan mengabaikan UU itu, dengan pertimbangan menjaga kestabilan kawasan Timur Tengah dan keamanan dalam negeri AS. Jadilah selama dua dekade kantor kedutaan besar mereka tetap di Tel Aviv.

Sama seperti Clinton, Trump juga berjanji mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Namun bedanya, dia tak menggunakan hukum waiver. Dia memilih melaksanakan Embassy Jerusalem Act 1995.

Bagi Trump, para pendahulunya hanya menggunakan isu pengakuan Yerusalem sebagai janji kampanye belaka. Mereka telah gagal mewujudkan undang-undang itu. “ Hari ini saya mewujudkannya,” tutur Trump.

Gayung bersambut, pada 5 Juni 2017, sebanyak 90 anggota senat setuju penerapan Embassy Jerusalem Act, sepuluh lainnya tidak memutuskan apa-apa. Janji kampanye Trump pun terwujud.

Israel, kata Trump, merupakan negara berdaulat. Punya hak sama dengan negara lain. Termasuk dalam menentukan ibu kota sendiri. Dan pengakuan itu diklaim menjadi syarat untuk mencapai perdamaian di kawasan itu.

“ Sekitar 70 tahun lalu, Amerika Serikat di bawah Presiden Truman mengakui negara Israel. Sejak saat itu, Israel telah menetapkan ibu kotanya di kota Yerusalem,” kata Trump.

***
Terbentang di antara Laut Tengah dan Laut Mati, wilayah ini dikenal sebagai kota suci Islam, Yahudi, dan Nasrani. Kota ini menjadi tempat hidup sejumlah komunitas itu, juga bangsa Armenia.

Wilayah ini juga menjadi tempat berhimpit situs suci tiga agama tersebut. Bagian barat ada Gereja Makam Kudus. Tempat suci kaum Nasrani. Mereka yakin, di sanalah Yesus disalib oleh tentara Romawi.

Di timur, ada kompleks Al Haram Ash Syarif. Atau juga disebut Temple of Mount. Di dalam area empat belas hektare ini terdapat sejumlah situs suci pula. Kubah As Sakra yang beken dengan nama kubah emas berdiri di tengah. Beken dengan sebutan Dome of Rock.

Di bawah kubah inilah terdapat sebuah batu. Umat Islam yakin Nabi Muhammad memulai perjalanan ke Sidrat Al Muntaha atau langit lapis ke tujuh. Mi’raj. Pada tahun 620 M itu, Rasul menerima perintah sholat lima waktu.

Orang Nasrani meyakini batu itu sebagai tempat Jacob melihat tangga menuju surga. Juga tempat Abraham mengurbankan Ishak.

Kaum Yahudi lain lagi. Mereka yakin tempat itu merupakan bekas kuil pertama. Tempat suci bangunan Nabi Sulaiman, mereka mengenalnya sebagai Raja Solomon. Kaum Yahudi juga yakin, di sanalah terkubur kitab Nabi Musa.

Di sebelah barat Al Hasan Ash Syarif, ada tembok Al Buraq. Umat Islam yakin di tempat inilah Nabi Muhammad mengikat Buraq. Kendaraan untuk naik ke langit ke tujuh.

Sementara, kaum Yahudi yakin tembok itu merupakan sisa-sisa bangunan kuil ke dua yang dibangun Raja Solomon. Inilah The Wailing Wall. Di tembok itulah bangsa Yahudi mereka meratap. Memanjatkan segala doa.

Di bagian selatan Al Haram Asyarif inilah berdiri Masjidil Aqsa. Memiliki panjang sekitar 83 meter. Lebar 56 meter. Mampu menampung limaribu jemaah. Jika ditambah dengan daerah sekeliling, luasnya sekitar 144.000 meter persegi. Muat untuk 400.000 jemaah.

Bagi umat Islam, Masjidil Aqsa sangat berarti. Tempat itu menjadi kiblat pertama. Sebelum digantikan Kabah, bangunan suci di Mekah, Arab Saudi. Juga menjadi masjid tersuci ke tiga, setelah Masjidil Haram dan Masjid Nabawi di Madinah. Di sana pula dikisahkan Rasul pernah menjadi imam sholat ribuan Nabi.

Sejak dibangun, Yerusalem sudah mengalami jatuh bangun. Setidaknya pernah dihancurkan dua kali, dikepung 23 kali, diserang 52 kali, dan dirampas serta direbut kembali sebanyak 44 kali.

Hingga saat ini, Yerusalem tetap menjadi isu kunci konflik Palestina dan Israel. Pada era modern, tepatnya tahun 1917, wilayah ini menjadi jajahan Britania Raya. Pada 1922, Liga Bangsa-Bangsa memercayakan Britania Raya untuk menjalankan fungsi administratif di Yerusalem.

Setelah berakhirnya kekuasaan administratif Britania, pada 1947, Perserikatan Bangsa-Bangsa merekomendasikan Yerusalem berada di bawah rezim internasional. Namun rencana itu gagal setelah meletus perang Arab-Israel pada 1948. Israel mencaplok Yerusalem Barat. Sedangkan Yerusalem Timur, termasuk Kota Lama, dikuasai Yordania.

Pada 29 November 1949, PBB mengeluarkan sikap dengan mengakhiri Mandat Britania Raya lewat terbitnya Resolusi 181. Berdasarkan voting para anggota, PBB membagi wilayah tersebut. Yerusalem, termasuk Betlehem, berada di bawah kendali internasional.

Pihak Yahudi mendapat hak atas pesisir di sekitar Danau Galilea, Gurun Negev, dan Tel Aviv. Sementara itu, pihak Arab hanya mendapatkan sisa dari Palestina di sebelah selatan Tel Aviv.

Israel kemudian merebut Yerusalem Timur dari Yordania dalam Perang Enam Hari pada 1967. Negara Zionis itu kemudian memasukkan wilayah ini menjadi Yerusalem. Pada 1980, Israel mengundangkan Hukum Yerusalem, yang menyebut wilayah itu sebagai ibu kota yang tak terpisahkan dari Israel.

Sejak itulah Israel menjadikan Yerusalem sebagai pusat pemerimtahan, termasuk Knesset atau parlemen Israel, kediaman perdana menteri dan presiden, juga mahkamah agung mereka. Namun dunia internasional menolak pencaplokan ini dan tetap menganggap Yerusalem Timur sebagai wilayah Palestina yang diduduki Israel.

Pada 10 Desember 1981, muncul Resolusi 36/120 E. Dua puluh tahun berselang, pada 3 Desember 2001, terbit Resolusi 56/31. Dalam dua resolusi itu, PBB menyatakan berbagai pengakuan Israel terhadap Yerusalem “ tidak berlaku lagi dan harus segera dibatalkan.”

Tapi Israel memilih tak acuh. Keputusan PBB itu diabaikan begitu saja dan terus mencaplok kawasan Palestina. Klaim AS pun semakin membuat upaya damai yang didorong dunia sia-sia.

Bahkan, AS juga mengingkari komitmennya untuk turut serta mewujudkan solusi dua negara atas konflik Israel-Palestina. Tentu, klaim tersebut melukai keseriusan banyak negara, termasuk Indonesia, untuk mewujudkan kedamaian di bumi Palestina.

***
Pengakuan AS terhadap Yerusalem sebagai ibu kota Israel menuai protes. Di Palestina warga terlibat bentrok dengan tentara serta polisi Israel. Sejumlah orang meninggal dunia, lainnya terluka.

Kecaman juga datang dari pemimpin berbagai negara. Di Indonesia, Presiden Joko Widodo menyampaikan kecaman beberapa jam setelah pidato pengakuan Trump atas Yerusalem. “ Indonesia mengecam keras pengakuan sepihak Amerika Serikat terhadap Yerusalem sebagai ibukota Israel,” kata Jokowi di Istana Bogor.

Palestina memang menjadi bagian peting perjalanan kemerdekaan Indonesia. Sebab, merekalah yang pertama mengakui kemerdekaan Indonesia. “ Saya dan rakyat Indonesia tetap konsisten untuk bersama dengan rakyat Palestina dalam memperjuangkan kemerdekaan dan hak-haknya sesuai dengan amanah Pembukaan UUD 1945,” tambah Jokowi.

Kecaman serupa juga datang dari Presiden Turki, Recep Tayib Erdogan; Raja Arab Saudi, Salman bin Abdul Aziz; dan Presiden Rusia, Vladimir Putin.

Tak hanya mengecam, negara-negara yang tergabung dalam Organisasi Kerjasama Islam atau OKI menggelar Konferensi Tingkat Tinggi Luar Biasa di Istanbul, Turki. Pertemuan yang dihelat tanggal 13 hingga 14 Desember itu menyepakati tetap mendukung penyelesaian konflik Israel-Palestina dalam kerangka dua negara dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kota Palestina.

 OIC© hurriyet

Pemimpin Uni Eropa juga menolak untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Pada 11 Desember, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, bertandang ke markasUni Eropa.

Bukan tanpa agenda. Netanyahu meminta negara-negara Uni Eropa untuk mengikuti jejak AS mengakui Yerusalem sebagai ibu kota megaranya. Namu upaya itu tak berhasil. Uni Eropa menyatakan tak akan mendukung keputusan Trump.

Salah satu sekutu terdekat Israel, Republik Ceko, bahkan mengatakan pengakuan AS pada Yerusalem sebagai ibu kota Israel adalah keputusan paling buruk untuk upaya perdamaian. Sementara, Prancis menyatakan status Yerusalem hanya bisadiputuskan oleh kesepakatan antara Israel dan Paletina, bukan pihak lain.

Pendapat serupa dilontarkan Presiden Rusia, Vladimir Putin, setelah bertemu Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan. “ Rusia dan Turki berpikir keputusan AS untuk mengakui Kota Yerusalem sebagai ibu kota Israel tidak membantu situasi di Timur Tengah” kata Putin.

Pengamat Timur Tengah, Zuhairi Misrawi, mengatakan, keputusan Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel merupakan cara untuk mendapat simpati kelompok Yahudi dan Kristen Evangelist kanan. Sebab, di dalam negeri AS terdapat banyak masalah.

“ Trump juga sedang banyak kasus di dalam negeri, terutama skandal di dalam kampanye pilpres,” ucap Zuhairi saat berbincang kepada Dream.

Dia mengingatkan AS agar tidak meremehkan tuntutan negara-negara OKI dan Timur Tengah yang berwacana ingin memutuskan hubungan ekonomi dengan mereka. Sebab, negara-negara itu mulai mengalihkan kerja sama dengan Rusia. “ Nah ini akan dahsyat pertarungannya,” ucap Zuhairi.

Yerusalem memang kota penuh makna. Kota penuh sejarah. Doa, darah, dan air mata, mewarnai perjalanan kota itu. Hidup dan mati para pejuang untuk mempertahankan Yerusalem.

Laporan: Maulana Kautsar

Beri Komentar
Cara Samuel Rizal Terapkan Hidup Sehat Pada Anak