"Ibarat Manusia, Keuangan Syariah itu Darah"

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Jumat, 20 Mei 2016 11:14
Bukan sekadar mendapatkan project-project, IDB betul-betul ingin memajukan kehidupan manusia dengan cara Islami.

Dream - Indonesia sukses menggelar Sidang Tahunan Islamic Development Bank (IDB) ke-41 di Jakarta. Acara yang digelar pada 15-19 Mei ini dihadiri 5.035 peserta dari 56 negara anggota IDB.

Mengangkat tema " Enhancing Growth and Poverty Allevation Through Infrastructure Development and Financial Inclusion" , IDB ingin fokus terhadap pengentasan kemiskinan dan pertumbuhan ekonomi.

Bank pembiayaan pembangunan ini pun menggelar sejumlah seminar yang membahas isu pembangunan, seperti infrastruktur, pembangunan manusia, keuangan syariah, dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development goals/SDG's).

Tak hanya itu, IDB juga menandatangani kerja sama senilai US$1,6 miliar dengan 14 negara, termasuk Indonesia. Mayoritas kerja sama ini ditujukan untuk pembangunan infrastruktur dan pembangunan manusia.

Dalam acara ini, Dream berkesempatan mewawancarai Executive Director IDB untuk Indonesia, Isa Rachmatawarta, untuk mengetahui apa saja yang poin penting yang ingin disampaikan IDB. Berikut ini adalah petikan wawancara reporter Dream, Arie Dwi Budiawati, dengan Isa.

IDB sukses digelar di Jakarta. Sebenarnya, apa yang ingin disampaikan IDB?

Sebetulnya, yang pertama itu adalah ini memang agenda rutin yang dilakukan setiap tahun. Tapi, yang lebih penting itu adalah informasi mengenai IDB itu dikenal lebih banyak lah di Indonesia karena banyak yang IDB perbuat, banyak yang bekerja sama dengan IDB juga.

Tapi, kalau IDB sendiri belum dikenal luas di Indonesia, artinya tidak akan mulus nantinya. Saya kira, pada kesempatan ini, (IDB) bisa dikenal lebih baik, lebih luas oleh masyarakat kita oleh kalangan bisnis.

Banyak agenda didiskusikan dalam IDB, misalnya Sustainable Development Goal (SDG's) dan ekonomi syariah. Apa tujuannya?

Tujuannya, ingin menyebarkan peran ekonomi syariah di dalam kehidupan seluruh umat, bukan hanya di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia. Ekonomi syariah bukan hanya keuangan syariah, tapi juga sektor riilnya, pendidikannya. Kemudian secara sosioekonomi masyarakatnya dan sebagainya.

Jadi, kita berusaha untuk melihat kondisi manusia ini, bukan hanya dari segi ekonomi, tapi dari segi ekonomi sosialnya itu. Yang tidak pernah dibicarakan oleh IDB adalah isu politik. Isu politik tidak pernah ada di agenda IDB.

Kami ingin permasalahan-permasalahan itu secara lebih komprehensif sehingga akan membuat umat manusia diselesaikan permasalahannya dengan komprehensif. Insya Allah, dengan pendekatan Islami. Itu yang ingin IDB lakukan ke depan. Jadi, bukan sekadar mendapatkan project-project, tapi juga betul memajukan kehidupan manusia dengan cara Islami.

Bagaimana pandangan IDB terhadap keuangan syariah? Seberapa besar potensinya?

IDB melihat keuangan syariah menjadi potensi. Dunia sendiri secara nyata memang makin bertambah aplikasi yang dilihat. Bukan hanya orang islam, tapi non muslim. Ini alternatif yang nampaknya harapan jadi ekonomi riil. 

Even secara ekonomi ini di Hongkong, Inggris, gunakan permodalan secara syariah untuk support ekonomi syariah. Itu menunjukkan keberadaan ekonomi syariah itu bukan hanya oleh karena komunitas muslim, bahkan bukan orang non muslim.

Harapan lebih jauh?

(Kami ingin menjadikan keuangan syariah) menjadi darah dari kehidupan perekonomian itu. Ekonomi itu tidak bisa bergerak kalau tidak ada acting, kalau nggak ada financing, nggak ada transaksi keuangan.

Kalau dibaratkan manusia, itu menjadi darahnya. Keuangan syariah menjadi sangat penting supaya ekonomi bisa dilakukan secara Islami.

Keuangan syariah di Indonesia agak stagnan. Apa saran dari IDB?

Saya rasa IDB tidak akan menganggap lebih ahli daripada Indonesia. Tapi, dari berbagai diskusi, kuncinya memang edukasi. Kita harus educate berbagai pihak tentang ekonomi syariah. Kalau ini bukan ekonomi yang berkompetisi dengan ekonomi konvensional, tapi bisa berjalan seiringan dan berikan alternatif untuk menuju kekurangan yang ada di konvensional tanpa menggantikannya.

Indonesia sudah lama bekerja sama dengan IDB. Apa yang sudah diperoleh Indonesia?

Di masa lalu, Indonesia kerja sama dengan IDB, terutama yang di pendidikan yang akan dilihat peluangnya masuk ke infrastruktur. Bagi Indonesia, IDB sudah banyak memberikan dukungan untuk institusi-institusi terbesar. Terus, pengembangan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM), IDB juga support. Sehingga PNPM terbilang berhasil.

IDB kan, proyek PNPM diapresiasi karena dianggap sebagai kesuksesan pendanaan untuk bantu kaum yang lemah, dhuafa, sehingga membuat orang pedesaan menjadi lebih berdaya. Itu timbal baliknya.

Indonesia dan IDB menandatangani kerja sama Member Country Patnership Strategy (MCPS) senilai US$5,2 miliar. Apa keuntungan buat Indonesia?

Pertama, ya, tidak semuanya bentuknya bantuan. Ada beberapa yang bentuknya financing. Artinya, kita pinjamin dari IDB. Sehingga bagi IDB itu adalah investasi dan buat kita (Indonesia) itu adalah investasi, dalam pengertian, kita mengharapkan return yang maksimal dari investasi IDB. Itu tidak selalu diukurnya dengan uang, tapi juga dari bertambahnya skill, bertambahnya kemampuan, bertambahnya kapasitas dalam negeri, kapasitas manusia, kapasitas sistem yang lebih baik. Makanya yang saya bilang tidak semua yang diberikan pinjaman. Tapi berikan investasi yang bermanfaat.

Itu salah satu cara bentuk kerja sama kita (Indonesia) dengan IDB itu sejalan dengan apa yang dimau oleh negara kita, dengan pembangunan kita. Itu approve IDB, kerja sama dengan MDB yang lain, seperti World Bank. Kerja sama mereka dengan proyek sesuai dengan karakter pembangunan kita. Ini mirip seperti Rancangan Pembangunan Jangka Menengah(RPJMN) di kita.

Beri Komentar
ANGRY BIRDS 2, Animasi Lucu dengan Pesan Tersembunyi - Wawancara Eksklusif Produser John Cohen