Jerit Pebisnis Gaza: Kami Bikin Saos Tomat, Bukan Roket

Reporter : Syahid Latif
Jumat, 22 Agustus 2014 09:05
Jerit Pebisnis Gaza: Kami Bikin Saos Tomat, Bukan Roket
Sejumlah pabrik di wilayah Gaza telah menjadi puing-puing setelah serangan roket Israel menyasar pusat ekonomi Palestina itu.

Dream - Dengan dalih mencari para pejuang Palestina, militer Israel terus melancarkan serangan ke wilayah konflik Gaza. Serangan darat dan udara yang tidak berhenti sampai menghancurkan fisik bangunan, tapi juga perekonomian Gaza.

Hancurnya berbagai bangunan pabrik seolah menandakan ambisi Israel untuk menghancurkan ekonomi Gaza.

Ayman Hamada, seorang pemilik pabrik makanan kaleng, pekan lalu sempat melintasi reruntuhan kerajaan bisnis yang dirintisnya dengan susah payah.

Mengutip laporan Washingtonpost, Jumat, 22 Agustus 2014, di masa jayanya, gedung ini mampu mempekerjakan 150 orang dan menjual salah satu merek pasta tomat terkenal di Gaza.

Ayman hanya bisa pasrha melihat bara api yang masih mengepul dari pabriknya bernilai US$ 5 juta.

" Saya berusia 45 tahun. Jujur saya selalu berpikir Israel masih mempunyai moral dan pemikiran logis. Kali ini, dengan pasti saya menyaksikan mereka menyerang terus-terusan pabrik kami," katanya. " Israel takkan melakukan kesalahan seperti ini."

Pabrik bukan satu-satunya barang kesayangangan Ayman yang hancur. Selama perang, rumah Ayman juga ikut mengalami kerusakan. Pria ini mengaku menerima pesan telepon dari salah satu kontaknya di divisi ekonomi militer Israel, yang meminta maaf terhadap kejadian tersebut.

Padahal, lanjutnya, adik perempuannya diketahui tewas akibat serangan udara Israel. " Mereka tak menelepon untuk musibah (kematian) itu," katanya.

Di kantornya di Gaza City, Ayman menunjukan tayangan ulang salah satu dari lima kamera pengawas yang dipasangnya di pabrik.

" Anda lihat sendiri, kondisinya sepi. Tak ada pejuang di pabrik saya. Tak ada roket yang diluncurkan. Saya membuat saus tomat bukan roket," geramnya.

Tak cuma Ayman, para pengusaha di Gaza juga mengeluhkan posisinya yang seolah terjepit diantara Mesir, pejuang Hamas dan Israel, yang memberlakukan pembatasan perdagangan dan wisata. Bisnis pun harus berjalan terseok karena Gaza tak bisa mendirikan dan mengoperasikan bandara atau pelabuhan.

Pihak Israel memberikan klarifikasi terhadap serangan rudal dan roket yang menyasar pabrik-pabrik di Gaza. Pihak militer tetap pada pendiriannya bahwa pabrik-pabrik yang diserang kerap digunakan sebagai tempat produksi senjata dan roket. Para pejabat militer Israel bersikeras bahwa pabrik-pabrik tersebut sah sebagai 'sasaran militer'.

Pengakuan ini disampaikan pemilik pabrik terbesar di Gaza yang hancur lebur karena serangan artileri dan roket Israel.

Tudingan tersebut memang sulit dibuktikan. Namun ratusan pabrik di Gaza terlihat hancur akibat gelombang pengrusakan yang lebih besar, dibandingkan total kerusakan dua perang sebelumnya.

Pejabat resmi Israel mengklaim, serangan selama ke sejumlah pabrik hanya ditargetkan pada lokasi-lokasi yang diduga menjadi sarang para teroris. Namun, Israel masih harus mengumpulkan bukti-bukti untuk klaimnya itu.

" Kami tidak diperintahkan menghancurkan pabrik-pabrik," kata Lt. Kol. Eran Shamir-Borer, seorang pejabat militer di Dewan Penasihat Militer Israel. " Anda tidak boleh menyerang ekonomi musuh."

Ditambahkannya, menyerang penopang perekonomian musuh dinilai melanggar aturan internasional dan dianggap sebagai kejahatan perang.

Namun Israel tidak dapat membuktikan pernyataannya, tidak menarget pabrik-pabrik di Gaza. Pejabat militer Israel menyalahkan Hamas yang menggunakan kota padat penduduk sebagai basis pertahanannya, sehingga timbul korban tewas dari sipil yang tidak sedikit. (Ism)

Beri Komentar
Summer Style 2019