7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Presiden Terpilih Amerika Serikat, Donald Trump.
Dream – Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga BI-day Reserve Repo Rate (BI-7 day RR) sebesar 4,75 persen. Bank sentral mempertimbangkan kondisi pasar pasca-kemenangan Donald Trump dalam Pemilihan Presiden Amerika Serikat (AS).
Dilansir dari laman Bank Indonesia, Jumat 18 November 2016, suku bunga depocity facility tetap bertengger di level 4,00 persen dan lending facility 5,50 persen.
“ Kebijakan itu sejalan dengan kehati-hatian Bank Indonesia dalam merespons meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan global pasca pemilihan umum (Pemilu) di AS,” kata Direktur Departemen Komunikasi BI, Arbonas Hutabarat, di Jakarta.
Tak hanya itu, Arbonas mengatakan, BI juga mempertimbangkan kondisi makroekonomi yang terjaga di Indonesia, yang terlihat dari rendahnya inflasi dan terkendalinya defisit transaksi berjalan.
Pemulihan ekonomi diprediksi masih melambat. Tapi, harga komoditas mulai membaik. Setelah pemilu AS, lanjut dia, perekonomian Negeri Paman Sam membaik.
Hal ini terlihat dari membaiknya pertumbuhan domestik bruto (PDB), stabilnya tingkat pengangguran, dan meningkatnya inflasi.
“ Sejalan dengan perkembangan tersebut, peluang kenaikan Fed Fund Rate (FFR) pada Desember 2016 semakin menguat,” kata dia.
Pengaruh tak hanya datang dari Amerika Serikat, tetapi juga dari negara-negara lainnya, seperti India dan Tiongkok yang diprediksi masih menjadi motor penggerak ekonomi dunia.
Dari pasar komoditas, harga minyak dunia pun masih rendah seiring dengan tingginya produksi minyak negara pengekspor minyak. Sebaliknya, harga komoditas ekspor di Indoensia terus membaik, seperti minyak kelapa sawit, batubara, dan beberapa tambang lainnya.
“ Ke depan, BI akan terus mencermati perkembangan dalam masa transisi pemerintahan Amerika Serikat, serta kebijakan yang akan ditempuh di Amerika Serikat, terutama terkait dengan kebijakan fiskal, suku bunga, dan perdagangan internasional,” kata dia. (Ism)
Advertisement
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?