Ortu hanya Lulus SD, Anaknya Bisa Lulus S2 Inggris dan Kerja di Badan PBB

Reporter : Alfi Salima Puteri
Jumat, 25 Februari 2022 15:13
Ortu hanya Lulus SD, Anaknya Bisa Lulus S2 Inggris dan Kerja di Badan PBB
"Kita tidak bisa minta dilahirkan dengan kondisi sesuai kemauan kita," tulis dia.

Dream - Latar belakang keluarga tak menjadi penentu seberapa sukses seseorang. Seperti Nisa Sri Wahyuni yang sukses mengenyam pendidikan epidemiologi di luar negeri lalu bekerja di WHO menangani vaksin Covid-19. Padahal, orangtuanya hanya tamatan sekolah dasar dan bekerja sebagai sopir ojek online (ojol).

Nisa pertama kali membagikan cerita tentang pencapaian dan latar belakang keluarganya tersebut di jejaring karier LinkedIn pada Kamis, 17 Februari 2022. Unggahan itu disertai dengan foto ia bersama ayahnya berseragam ojol, serta momen kelulusannya di Inggris berujung viral.

" Jadi ini foto favoritku bersama ayah. Bagi kalian orang Indonesia pasti akrab dengan seragam yang dipakai ayahku. Seragam sopir ojek online yang kita tahu sebagai Gojek," tulis Nisa mengawali ungahannya tersebut dalam bahasa Inggris.

Ia lalu bercerita dengan bangga tentang sosok ayahnya. Nisa mengungkapkan bahwa sebelum menjadi sopir ojol, sang ayah merupakan petugas keamanan alias satpam di sebuah sekolah.

1 dari 3 halaman

Baik ayah maupun ibunya, hanya bisa menyelesaikan pendidikan sampai bangku Sekolah Dasar (SD). Namun, kedua orangtuanya memiliki impian besar untuk melihat Nisa meraih pendidikan yang lebih tinggi dari mereka.

Impian tersebut yang lantas memotivasi mereka untuk pindah ke Jakarta. Orangtuanya disebut Nisa banting tulang agar putrinya bisa mengenyam pendidikan sebaik mungkin. Nilai-nilai tentang etos kerja dari orangtua yang ditanam sejak kecil juga memompa semangat Nisa untuk tekun belajar.

" Tujuan dari unggahan ini bukan untuk menunjukkan latar belakang ekonomi orangtuaku, tapi lebih kepada pelajaran bahwa kerja keras pasti akan terbayarkan," tulisnya.

2 dari 3 halaman

Berdasarkan profil di laman LinkedIn Nisa, ia diketahui merupakan sarjana Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia angkatan 2015.

Saat kuliah, ia sempat dipercayakan menjadi asisten dosen. Hari-harinya juga disibukkan dengan berbagai kegiatan sosial dan penelitian. Meskipun begitu, Nisa berhasil menyelesaikan studinya dalam kurun waktu 3,5 tahun dan lulus dengan status cumlaud pada 2017.

Dua tahun berselang, ia diterima di Imperial College London untuk studi S2 dalam bidang epidemiologi. Sambil kuliah, Nisa menjalani perannya sebagai duta mahasiswi MSc Epidemiology, sebuah program kolaborasi UNICEF dengan kampusnya.

3 dari 3 halaman

Usai menyelesaikan kuliah S2 di Inggris, Nisa mendapat penawaran untuk berkarier di Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO sebagai konsultan teknis vaksinasi Covid-19 level A.

" Kita tidak bisa minta dilahirkan dengan kondisi sesuai kemauan kita, tapi kita memiliki kekuatan yang dianugerahi Tuhan untuk selalu bekerja semaksimal mungkin. Selalu lakukan dan berikan yang terbaik, karena kerja keras pasti selalu membuahkan hasil, dan satu lagi, percayalah pada proses," pesannya.

Beri Komentar