CONNECT WITH US!

Kota Suci Tiga Agama

Reporter : Puri Yuanita | Minggu, 30 Juli 2017 19:00
Wanita Melintas Di Dome Of The Rock, Palestina (Sumber: Shutterstock)
Islam, kristen, dan Yahudi memiliki situs-situs suci yang jadi bagian sejarah perkembangan agamanya.

Dream - Terbentang lebih dari 258 hektare. Luas luas lahan itu. Bangunan-bangunan tua berdiri berjejeran. Mencakar langit tapi tidak tinggi. Hanya beberapa meter saja. Dari kejauhan, semua serba putih. Ada sedikit hamparan pohon. Menghijau mengelilingi areal itu.

Memandang lebih jauh, sebuah bangunan berwarna kurning emas berdiri. Mencolok sendiri diapit bangunan berwarna putih. Itulah kubah Kubah Shakhrah. Pada halamannya, pepohonan tumbuh rindang. Hijau diantara bangunan putih. Penanda bangunan kuning emas itu sangat lapang.

Inilah ikon kota Yerusalem. Sudah berdiri sejak beratus-ratus tahun lalu. Di kota yang berjuluk Kota Suci Tiga Agama. Rumah bagi tiga agama langit, Islam, Kristen, dan Yahudi. Mereka tinggal di wilayahnya masing-masing. Membelah Yerusalem menjadi tiga wilayah.

Bagi masyarakat, Yerusalem bukan sekadar tempat tinggal. Kota ini sangat dicintai. Di sinilah orang-orang suci, para nabi, hidup. Menyebarkan agama dan meninggalkan catatan hidup dan prasasti penanda adanya peradaban.

Yerusalem juga rumah bagi situs-situs suci agama itu. Setengah penduduk dunia datang untuk menghargai kota kecil yang sama.

Terletak di persimpangan antara Afrika, Eropa, dan Asia, Yerusalem punya arti istimewa. Disinilah peradaban manusia pernah hidup. Ratusan tahun yang lalu. Kala kerajaan-kerajaan besar pernah berdiri atau menguasai kota ini. Mesir Kuno, Persia, Babylonia, Yunani, dan Romawi. Meninggalkan peradaban lewat bangunan megah. Serta situs-situs bersejarah orang-orang suci.

Bagi umat Muslim, Yerusalem adalah kota yang penting. Komplek Haram Al-Sharif atau tanah suci yang mulia menyimpan beragam cerita. Komplek bangunan suci itu dikelilingi tembok berbentuk persegi panjang di bagian timur dalam wilayah Kota Lama Yerusalem yang termasuk kawasan Yerusalem Timur.

 Penampakan Mengagumkan Bagian Dalam Dome of the Rock

Di komplek tanah suci ini berdiri Masjid Al-Aqsa. Tempat ibadah suci ketiga muslim, setelah Masjidil Haram di Mekah dan Masjid Nabawi di Madinah. Di masjid itulah Rasulullah Muhammad SAW melakukan perjalanan Isra dari Mekah. Diyakini pula, jika di Masjid Al-Aqsa, Nabi Muhammad SAW pernah melaksanakan sholat bersama dengan roh seluruh nabi.

Di kota ini pula berdiri Kubah Shakhrah yang kini dikenal Dome of the Rock. Di dalamnya sebuah batu bersejarah tergeletak. Batu yang dipercaya jadi tempat pijakan Nabi Muhammad menaiki tangga untuk bertemu langsung dengan penciptanya, Allah SWT. Peristiwa yang dikenal sebagai Miraj.

Melihat sejarah tersebut, Yerusalem jadi tempat paling penting bagi kaum Muslim. Penduduk terbesar di antara penganut agama lain.

Di sisi lain, Yerusalem juga punya arti khusus bagi para pemeluk Kristen. Di dalamnya terdapat Gereja Makam Kudus, yang menjadi situs penting bagi umat Kristen di seluruh dunia.

Situs ini dipercaya sebagai saksi bisu sejarah perjalanan Yesus, kematian, penyaliban hingga kebangkitannya.

Menurut tradisi Kristen, Yesus disalib di sana. Tepatnya di wilayah Golgotha atau Bukit Calvary. Dan dimakamkan di dalam Gereja Makam Kudus yang juga menjadi lokasi kebangkitannya.

 Netanyahu: Yerusalem Tetap di Dalam Kedaulatan Israel

Sementara bagi umat Yahudi, Yerusalem adalah kota suci mereka. Disinilah tinggal para manusia pilihan seperti Raja Solomon ibrahim, dan daud. Situs-situs penting ada di Yerussalem. Dari istana megah Raja Sulaiman, sampat batu raksasa yang diyakini tempat daud menerima kita suci Zabur. Di lokasi ini pula, Ibrahim diyakini menjalankan perintah meyembelih putranya, Ismail, sebagi bukti keimanan.

Satu lokasi yang disucikan umat Yahudi adalah Kotel atau Tembok Barat. Terkenal dengan sebuat Tembok Ratapan, bagian ini dipercaya sebagai bagian dari dinding yang tersisa dari bangunan Bait Suci. Dinding dari komplek bangunan yang menurut cerita dibangun Raja Solomon.

 Tembok ratapan di Yerusalem

Di dalam bangunan tersebut dulunya terdapat ruang Maha Kudus, yang merupakan situs suci bagi umat Yahudi. Kaum Yahudi percaya bahwa lokasi ini merupakan lokasi batu fondasi penciptaan bumi dan tempat dimana Ibrahim bersiap untuk mengorbankan anaknya Ismail.

Situs-situs suci yang diyakini umat tiga agama, membuat Yerusalem menjadi tempat paling sakral. Namun kesucian itu pula yang membuat Yerusalem berkali-kali menjadi lokasi terjadinya kekerasan.

Ya, Yerusalem sebagai tempat suci berubah jadi area pertikaian tak berkesudahan. Bukan cuma di zaman modern seperti saat ini, tapi sejak beratus tahun lalu. Peradaban silih berganti seiring beralihnya kerajaan yang berkuasa.

Dan di era modern, kekerasan itu terus terjadi. Intensitasnya semakin tinggi. Apalagi setelah Yerusalem diduduki militer Israel pada 1967. Ketegangan kerap terjadi terutama di wilayah Yerusalem Timur, lokasi berdirinya Al-Aqsa. Namun masalah sudah muncul ratusan tahun yang lalu.

Bangsa Yahudi yang merasa Yerussalem sebagai rumah mereka. Gerakan Zionis pertama muncul antara 1880-1914. Kala itu ribuan bangsa Yahudi pulang ke Palestina. Wilayah yang dulu dikuasai kekaisaran Islami, Ottoman.

Keberadaaan Yahudi di Palestinan tak lepas dari terbitnya Deklarasi Balfour. Deklarasi yang ditandatangi Inggris dan Ameriksa Serikat ini mendukung keberadaan Yahudi di Palestina. Namun bagi bangsa Palestina, tindakan ini tak lebih dari upaya raja Arab meminta dukungan untuk merdeka dari Ottoman.

 Israel Mundur dari Al Aqsa, Warga Palestina Bersorak

Di Tahun 1918, setelah Perang Dunia I, Inggris akhirnya menguasai seluruh Palestina dari Kerajaan Ottoman. Sampai 1948, kehidupan orang arab dan Yahudi sepenuhnya dikontrol oleh Inggris. Di tahun 1921, Inggris memutuskan menyerahkan kekuasaannya di bagian timur Palestina dekat Laut Jordan kepada Emir Abdullah. Inilan asal mula berdirinya Yordania.

Puncak keberadaan Yahudi di Palestina terjadi pada November 1947. Rapat Umum Perserikan Bangsa-bangsa (PBB) merekomendasikan otoritas Palestina untuk membagi wilayahnya. Satu wilayah untuk Yahudi dan satunya lagi untuk Palestina. Perintah yang membuat perlawanan muncul dari negara-negara Arab yang menolak.

Setahun kemudian, pemimpin Zionis secara sepihak mendeklarasikan berdirinya Negara Israel. Kekerasan semakin menjadi antara negara Arab dan negara yang baru berdiri ini. Semakin kacau karena Inggris telah meninggalkan wilayah jajahannya. Kekerasan tak berhenti sejak saat itu.

Bentrok antara warga Palestina dengan pasukan keamanan Israel selalu terjadi. Munculnya gerakan ekstrem di kedua negara semakin membuat masalah makin rumit.

Pertikaian semakin memanas tatkala Israel mulai membatasi akses umat Muslim yang ingin beribadah di Masjidil Aqsa. Akses bagi semua warga Muslim Palestina baik laki-laki maupun perempuan yang berusia di bawah 30 tahun dilarang.

Pada tahun 1994 perjanjian damai pun dibuat antara Israel dan Yordania. Status pelindung Al-Aqsa dan tempat-tempat suci Islam lainnya di Yerusalem timur yang diduduki Israel berada di bawah kendali Yordania.

Di bawah status quo, umat Yahudi diperbolehkan masuk ke dalam komplek Haram Al-Sharif namun tidak diperbolehkan untuk beribadah. 

Pada 2015, tepat satu bulan sebelum Ramadan, Yordania dan Israel mencapai sebuah kesepakatan baru untuk meredakan pertikaian yang sering terjadi di Haram Al-Sharif.

Pada kesepakatan itu, Israel setuju untuk menghilangkan batasan usia bagi umat Muslim yang ingin beribadah di Masjid Al-Aqsa. Israel juga setuju untuk berhenti menyita kartu identitas perempuan Muslim yang ingin beribadah.

Setelah perjanjian baru antara Israel dan disepakati, awalnya semua kembali normal dan tampak damai. Tetapi bentrok kembali terjadi. Sejumlah warga Palestina melakukan protes karena Israel mengizinkan pengunjung dari umat Yahudi masuk ke Masjid Al-Aqsa saat Ramadan, yang seharusnya hanya boleh dilakukan oleh umat Muslim yang ingin beribadah.  

Bentrok yang terus terjadi antara warga Palestina dan keamanan Israel membuat pemerintah setempat kembali menerapkan aturan sepihak yakni melarang laki-laki dari warga Palestina yang berusia di bawah 50 tahun untuk masuk ke dalam Masjid Al-Aqsa. Mereka yang melawan pun bakal dihadang dengan granat dan peluru karet.

 Selamatkan Al Aqsa!

Dan di tahun 2017, kekerasan itu kembali terjadi. Jemaah sholat Jumat di Masjidil Al Aqsa mendadak diserbu. Ratusan petugas lengkap dengan helm, tameng dan rompi anti peluru merangsek masuk masjid. Letusan terdengar di segala penjuru. Berdentum-dentum di sela jerit manusia. Asap putih mengepul di mana-mana.

Itulah situasi mengerikan di Masjidil Aqsa, 14 Juli 2017. Sholat Jumat bubar. Polisi Israel mengobrak-abrik tempat suci itu. Berdalih mencari orang-orang yang menyerang rekan mereka. Aparat Israel.

Kekacauan itu berawal dari Lion Gate. Pintu di tembok timur kompleks Kota Tua Yerusalem. Pukul tujuh pagi, tiga polisi Israel diserang. Dua tewas. Satu terluka. Mereka berasal dari komunitas Druze.

Yerusalem, kota suci dimana situs-situs keagamaan berdiri kini nyaris tak pernah lepas dari ketegangan. Kota suci ini selalu diwarnai gejolak pertikaian. Beban derita Muslim Palestina seolah tak juga berkesudahan. Demi kebebasan beribadah, banyak dari mereka yang akhirnya meregang nyawa.


(Berbagai sumber)

Kitchen Hacks | Tips Rebus Pasta Agar Al Dente