Dream - Pihak Lion Air memberikan santunan kepada keluarga awak kabin pesawat JT610. Jumlahnya mencapai Rp1,5 miliar untuk masing-masing korban.
" Kalau awak pesawat ada asuransi personal accident (PA), nilainya US$100 ribu (setara Rp1,5 miliar). Itu akan jadi hak untuk kru pesawat," ujar Managing Director Lion Air Group, Daniel Putut Kuncoro, dikutip dari Liputan6.com, Minggu 4 November 2018.
Daniel mengatakan pihaknya akan menggelar validasi data keluarga awak selaku ahli waris. Setelah validasi dinyatakan selesai, santunan akan diberikan.
" Detail dan teknis, setelah semuanya beres, baru kita berikan," ucap dia.
Direktur Manajemen Risiko Jasa Raharja, Wahyu Wibowo, mengatakan pihaknya turut memberikan santunan kepada keluarga awak kabin. Menurut dia, berdasarkan ketentuan dalam Undang-undang, santunan diberikan kepada ahli waris masing-masing Rp50 juta.
" Kepada beberapa yang belum menerima karena memang beberapa ahli waris itu belum bisa ditemui sehingga kami dari yang sebelumnya teridentifikasi baru ada empat yang sudah bisa diserahkan," ucap Wahyu.
Sumber: Liputan6.com/Ika Defianti.
Dream - Syahrul Anto wafat saat menjalankan tugas penyelaman mencari bangkai pesawat Lion Air JT610 di Laut Karawang, pada Jumat kemarin, 2 November 2018. Sang istri, Lian Kurniawati, 39 tahun, mengaku pasrah dengan apa yang dialami Syahrul.
Lian mengingat sang suami pernah mengirimkan pesan singkat melalui aplikasi percakapan WhatsApp sebelum menyelam. Dia baru tersadar pesan itu ternyata jadi penanda sang suami pergi selama-lamanya.
" Sepertinya sudah firasat, tapi saya baru sadar sekarang," ujar Lian, dikutip dari Liputan6.com, Minggu 4 November 2018.
Dansatgas SAR, Kolonel Laut (P) Isswarto, menjelaskan Syahrul diduga meninggal akibat dekompresi. Menurut dia, Syahrul bekerja dengan tidak mengukur waktu.
" Harusnya naiknya pelan-pelan, lima meter berhenti dulu, sampai muncul (ke permukaan), dia mungkin langsung," ucap Isswarto.
Isswarto mengatakan penyelaman pada Jumat lalu seharusnya selesai pukul 16.00 WIB karena cuaca yang kurang bersahabat dan gelapnya kondisi di bawah air. Tetapi, Syahrul masih berada di bawah air hingga pukul 16.30 WIB.
" Korban dari sipil, penyelam Basarnas," ucap dia.
Dalam pesan itu, Syahrul berbicara mengenai takdir. Berikut isi pesan yang dimaksud.
" Pagi itu, satu demi satu penumpang mendekat ke pintu keberangkatan di Soekarno Hatta. Petugas check in menyambut mereka dengan senyum.
Sekitar 180 orang mendekati takdirnya. Ada yang tertinggal karena macet di jalan, ada yang pindah ke pesawat lebih awal karena ingin cepat sampai. Dan ada juga yang batal karena ada urusan lain yang tiba-tiba.
Tak ada yang tertukar. Allah menyeleksi dengan perhitungan yang tak pernah salah. Mereka ditakdirkan dalam suatu janjian berjamaah. Takdirnya seperti itu tanpa dibedakan usia, proses pembelian tiket, check in, terbang dan sampai akhir perjalanan hari ini, hanya sebuah proses untuk jalan pulang, menjumpai Allah yang tertulis di Lauhul Mahfuz.
Sebuah catatan yang tidak pernah kita lihat, tapi kita jumpai. Takdir sangatlah rapih tersusun, kehendak Allah tak terjangkau dengan akal manusia. Allahu Akbar.
Lalu, kapan giliran kita pergi? Hanya Allah yang tahu. Kesadaran iman kita berkata Bersiap setiap saat. Kapanpun dan dalam keadaan apapun. Mari kita benahi ketaqwaan kita untuk bekal pulang ke kampung abadi. Hanya itu jalan terbaik."
Sumber: Liputan6.com/Dian Kurniawan
Dream - Tato bunga di punggung kanan Monni, 41 tahun, menyimpan banyak cerita. Foto sketsa di kertas stensil bergambar bunga itu tersimpan di tangan penato.
Di kemudian hari tato bunga di punggung kanan perempuan itu diungkap ke publik. Tato itu jadi petunjuk polisi mengungkap identitas pemiliknya.
Keluarga memberi tahu di mana Monni membuat tato tersebut. Tim Disaster Victim Identification (DVI) segera menelusuri.
" Ini adalah maket pembuat tato," kata Kepala RS Polri, Kombes Pol Musyafak, Jumat, 2 November 2018.
Berdasar keterangan polisi, Monni beralamat di Jalan Kartini nomor 7, Sawah Besar, Jakarta Pusat.
Di hari ini, bukan hanya Monni yang berhasil diidentifikasi polisi sebagai penumpang pesawat nahas Lion Air JT610. Hizkia Jorry Saroinsong, 23 tahun, turut teridentifikasi karena sidik jari yang ditemukan Inafis Polri.
Selain itu, dua orang itu terdapat pula Chandra Kirana, 29 tahun. Sepatu Reebok putih miliknya jadi petunjuk polisi untuk menyimpulkan identifikasi.
Foto Chandra Kirana yang mengenakan sepatu Reebok putih itu, kata Musyafak, diambil saat dia di Bali.
Polisi tak sekadar mencocokan. Data lain diambil. CCTV yang diberikan Angkasa Pura jadi petunjuk. Chandra memang betul naik pesawat Lion Air JT610.
" Data antemortem dari foto yang sebelah kanan, saat di Bali, yang di kanan CCTV, identik dengan yang ada di posmortem," ujar Musyafak.
Berikut data tiga penumpang Lion Air yang berhasil diidentifikasi dam diumumkan ke publik pada Jumat, 2 November 2018.
- Chandra Kirana (29), jenis kelamin lelaki warga Pasar Bhayangkara, Gang Cempaka, RT 03/08, keluarahan Pasar, kecamatan Talang Ubi, Kabupaten Pali, Sumatera Selatan.
- Monni (41), perempuan warga Jalan Kartini nomor 7, Sawah Besar, Jakarta Pusat
- Hizkia Jorry Saroinsong (23) beralamat di Jalan Kenari, Jakarta Pusat