Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro menyatakan Indonesia masih perlu mewaspadai perlambatan ekonomi dunia dan risiko kebijakan moneter AS, meski kinerja sektor keuangan menunjukkan tren positif.
“ Dari World Economic Outlook IMF, kita melihat bahwa prediksi pertumbuhan ekonomi tahun 2015 sudah diturunkan menjadi 3,1 persen untuk pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2015,” ujar Bambang seperti dikutip dari laman situs Kementerian Keuangan, Kamis, 14 Mei 2015.
Sebelumnya, pada awal Januari lalu, IMF memproyeksi perekonomian dunia dapat tumbuh pada kisaran 3,6 persen pada tahun ini. Revisi atas prediksi pertumbuhan ekonomi dunia tersebut, lanjut Bambang, membuat beberapa perekonomian besar dunia juga mengalami perlambatan pertumbuhan.
“ Yang utama adalah Tiongkok,” ujarnya.
Bambang menambahkan, perekonomian Tiongkok untuk tahun 2015 ini diperkirakan hanya akan tumbuh di kisaran 6,8 persen.
“ Prediksi sekitar 6,8 sampai 7 persen adalah prediksi yang lebih masuk akal untuk ekonomi Tiongkok yang baisanya di masa lalu bisa tumbuh di atas 10 persen dan dalam jangka waktu yang begitu lama,” jelasnya.
Selain perlambatan di global dan beberapa perekonomian penting, di sisi lain, Indonesia juga dihadapkan pada risiko global dari normalisasi kebijakan moneter di Amerika Serikat. Hal ini sebagai akibat dari belum stabilnya pemulihan ekonomi di Amerika Serikat.
“ Memang proses recovery ekonomi di Amerika (Serikat) sudah berjalan, tetapi banyak pihak di Amerika sendiri yang menganggap itu belum stabil. Belum stabil dalam konteks penciptaan lapangan kerja, pengurangan pengangguran, ternyata belum seperti yang diharapkan,” tandasnya.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya