Miliarder Palestina Lawan Israel dengan Megaproyek

Reporter : Syahid Latif
Kamis, 14 Desember 2017 14:28
Miliarder Palestina Lawan Israel dengan Megaproyek
"Waktu akan membuktikan jika ini adalah langkah besar kamu membangun Palestina."

Dream - Jalan boulevar itu begitu luas. Barisan toko fashion berderet diantara gedung bergaya Romawi. Itulah pemandangan baru di Rawabi, Palestina. Kota yang bersinar di tengah konflik berkepanjangan Palestina-Israel.

Seorang pebisnis Amerika berdarah Palestina telah berjuang melawan tentangan Israel, kritik dari komunitasnya dan stabilitas politik dengan membangun proyek mewah bernilai US$1,4 miliar di Tepi Barat. Mengubahnya menjadi suar baru dari Palestina.

Satu dekade berlalu, baru 3000 orang yang tinggal di sejumlah menara di kawasan bukit sebelah utara Ramallah ini. Pembangunan masih terus berlangsung dan beberapa ruas jalan sepi. Namun harapan tak pupus. Akan ada 40 ribu orang tinggal di kota baru ini.

" Rawabi, khususnya dalam 4-5 bulan, telah menjadi kota tujuan warga Palestina," ujar Bashar Al Masri dikutip dari laman thenational.ae.

Sosoknya memang terdengar asing. Namun di Palestina namanya terkenal. Dialah salah satu orang terkaya Palestina. Laman richoncomeways.com menyebut kekayaan Al Masri pada 2016 mencapai US$1,5 miliar.

 Bashar Al Masri

(Bashar Al Masri/http://www.richincomeways.com)

Kekayaan Masri berasal dari bisnis yang dirintisnya di bidang properti, Massar International.

Laman Time.com menuliskan dibalik kekayaan dan penampilan necisnya, masa lalu Masri penuh dengan perjuangan. Dia besar di sebuah kawasan konflik Tepi Barat Nablus. Lahir tahun 1961, pasukan Israel menjajah Tepi Barat sekaligus mengakhiri pendudukan Yordania pada 1967.

Masri muda menghabiskan masa mudanya dengan melawan pendudukan Israel yang mulai menguasai kawasan itu. " Saat kecil, saya percaya pada kekerasan," kata Masri. " Saya aktivis sekolah, merencanakan demonstrasi, dan menulis surat ke Sekjen PBB Kurt Waldheim," kenangnya.

Seperti anak muda lainnya, Masri juga sering melempar batu ke barisan tentara Israel. Aksi yang membawanya masuk penjara pada 1975 saat berusia 14 tahun. Saat usia 16 tahun, Masri kembali masuk penjara sebelum akhirnya diterbangkan ke sekolah menengah atas di Kairo, Mesir.

Dia lalu melanjutkan studi teknik kimia dan manajemen di universitas Amerika dan Inggris. Namun saat gerakan intifada bergelor di tahun 1987, Masri pulang kampung.

" Saat periode itu, saya sama sekali tak keluar dari aksi demonstrasi. Saya lebih banyak berperan di sisi perencanaan," ujarnya.

 Rawabi

(Penduduk kota Rawabi/Shutterstock)

Usai menamatkan pendidikan, Bisnis rintisan Masri di bidang real estate mulai berkembang. Berbagai kontrak bisnis di Maroko, Libya, Yordania, dan Mesir ditanda tangani. Dia juga bekerja sebagai konsultan di London, Arab Saudi, dan Washington DC, Amerika Serikat.

Jauh dari tanah kelahiran jadi kesempatan bagi Masri untuk merenungkan kondisi Tepi Barat. Dia terkenang dengan rumah masa lalunya dan memutuskan bertemu dengan beberapa teman sekolahnya. Sayang, beberapa tahun usai lulus sekolah, tak banyak pekerjaan ditawarkan. " Saat itu benar-benar situasi menyedihkan. Tak ada pekerjaan, tak ada yang bisa dikerjakan."

Dan di tahun 1994 usai Oslo Accord, dan keinginan balik kampung, Masri mulai membangun mimpinya membangun Rawabi. Kota baru yang menyediakan akomodasi murah dibandingkan Ramalah serta pekerjaan bagi penduduk lokal.

 Rawabi

(Sudut kota Rawabi, Palestina/Shutterstock)

Awalnya, pekerjaan ini sempat tersendak setelah muncul gerakan intifada pada 2000. Setahun setelahnya, pembangunan kontruksi kota baru mulai berjalan.

Meski perjuangan untuk membantu Palestina masih sangat panjang, Masri tak putus asa. Impian menyediakan rumah murah dan layak serta pekerjaan masih terus diperjuangkannya. Langkah alternatif daripada kekerasan.

" Tak ada orang yang ingin menyakiti orang lain akan membeli apartemen dan tinggal di kota seperti ini," kata Masri.

Masri bukannya tak mendapat tentangan. Beragam kritik muncul di balik niatnya membangun Rawabi. Masri harus menghadapi tudingan kedekatannya denga Isreael. The Boycott, Divestment and Sanction Movement mengklaim masa lalu Masri digunakan untuk menjalin perjanjian dengan politisi dan pebisnis elit Israel. Langkah yang dianggap upaya Masri menumpuk keuntungan dari pengeluaran orang Palestina.

Tanpa jaminan proyeknya bisa menguntunkan, Masri meyakinan jika pembangunan kota seperti Rawabi akan membantu warga Palestina membangun negeri sendiri. " Waktu akan membuktikan jika ini adalah langkah besar untuk membangun negara kami," tegas Masri.

(Sah/Time.com/thenational.ae)

 

 

Beri Komentar
4 Januari, Hari Bahagia dan Paling Sedih Rizky Febian