Deretan Negara Bangkrut Akibat Utang Menggunung

Reporter : Razdkanya Ramadhanty
Selasa, 29 Juni 2021 07:13
Deretan Negara Bangkrut Akibat Utang Menggunung
Negara bisa saja bangkrut lantaran tak mampu membayar utang.

Dream - Utang negara kini menjadi topik panas, termasuk di Indonesia. Bagaimana tidak, utang di sejumlah negara terus meningkat untuk menambal anggaran negara, termasuk menangani pandemi Covid-19.

Di Indonesia misalnya, posisi utang terus meningkat. Menurut Liputan6.com, utang Indonesia sudah mencapai Rp6.361 triliun hingga akhir Februari 2021. Posisi ini meningkat Rp128 triliun dari periode Januari 2021 yang mencapai Rp6.233 triliun.

Namun, berdasarkan Undang-Undang (UU) Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) proporsi utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), utang pemerintah masih dalam batas aman. Sampai dengan akhir Februari hanya sekitar 40 persen terhadap PDB. Sementara di dalam UU APBN diizinkan mencapai 60 persen terhadap PDB.

Utang memang mejadi pilihan bagi sebuah negara untuk mencari dana. Meski demikian, bak dua mata pedang, utang juga bisa menyebabkan sebuah negara terjerembab dalam kebangkrutan karena tak mampu membayarnya.

Dikutip dari Merdeka.com, Senin 28 Juni 2021, berikut empat negara yang bangkrut karena tidak dapat membayar utang:

1 dari 4 halaman

1. Argentina

Pada 2001, Argentina dinyatakan bangkrut lantaran gagal membayar utang negara sebesar US$100 miliar, atau sekitar sekitar Rp1.449 triliun.

Malapetaka ini berawal dari kebijakan Pemerintah Argentina yang mematok US$1 sama dengan 1 peso Argentina.

Berbagai langkah restrukrisasi pun dilakukan. Menurut catatan, pada 2005 dan 2010 negara tersebut dapat mengumpulkan para kreditor dengan nilai restrukrisasi utang mencapai US$100 miliar tersebut. Akhirnya Agrnetina berhasil melakukan restrukturisasi utang dengan diskonto utang sebesar 70 persen. Artinya, utang tersisa kurang lebih sebesar US$30 miliar.

Namun pada 2018, pemerinah Argentina secara tak terduga mengajukan pinjaman US$50 miliar atau sekitar Rp729,69 triliun ke International Monetary Fund (IMF)/Dana Moneter Internasional. Peminjaman ini didorong krisis ekonomi dan menyebabkan inflasi merajalela. Nilai tukar peso Argentina melemah 40 persen sepanjang 2018.

2 dari 4 halaman

2. Zimbabwe

Pada 2008, salah satu negara di kawasan Afrika itu terlilit utang sebesar US$4,5 miliar atau sekitar Rp65 triliun. Dengan kondisi perekonomian yang buruk, pemerintah Zimbabwe juga harus mengatasi pengangguran yang semakin tak terkendali hingga 80 persen.

Kala itu, perekonomian Zimbabwe berdampak luas bagi kehidupan masyarakat. Warganya sudah berhenti menggunakan bank, tak membayar pajak, hingga tak lagi menggunakan mata uang nasional sebagai alat transaksi jual beli.

Penelitian yang dilakukan Yale University menunjukkan dengan perekonomian yang tak kunjung membaik, Zimbabwe dikatakan sebagai negara dengan kemerosotan ekonomi tercepat di dunia.

3 dari 4 halaman

3. Yunani

Pada 2015, Yunani secara resmi telah menyandang status bangkrut dengan total utang sebesar US$360 miliar atau setara Rp5.216 triliun.

Keterpurukan ekonomi Yunani ditandai dengan banyaknya gelandangan dan kelaparan yang tinggi. Menurut catatan, jumlah tunawisma atau gelandangan naik 40 persen. Pemerintah Yunani memperkirakan setidaknya ada sekitar 20.000 orang yang tidak memiliki tempat tinggal di Athena dari jumlah penduduk total sebesar 660.000.

Naiknya angka gelandangan di Yunani disebut sebagai dampak krisis ekonomi yang melanda sejak 2010 silam. Tak hanya itu, angka pengangguran pun merokat dari 10,6 persen pada 2004 menjadi 26,5 persen pada tahun 2014.

4 dari 4 halaman

4. Venezuela

Pada 2014, Bank Sentral Venezula mengungkapkan bahwa krisis Venezuela terjadi akibat utang luar negeri yang meliputi utang publik. Sekitar 55 persen dari utang Venezuela berasal dari obligasi utam domestik dan luar negeri, tagihan treasury, dan pinjaman bank.

Kemudian utang keuangan PDVSA sebanyak 21 persen, utang luar negeri sebanyak 15 persen melalui pembiayaan diperoleh melalui dana China. Lalu utang CADIVI sebanyak 9 persen. Ini adalah utang non-keuangan CADIVI (mata uang untuk impor, dividen, pendapatan dan jasa secara umum).

Pada bulan November 2017, The Economist memperkirakan utang Venezuela mencapai US$105 miliar atau sekitar Rp 1.521 triliun dan cadangannya sebesar US$10 miliar sekitar Rp144 miliar triliun.

Sumber: merdeka.com

Beri Komentar