Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (http://kingworldnews.com/)
Dream - Perekonomian dunia diambang bahaya besar dengan kemungkinan terjun pada resesi baru. Jika ancaman ini benar-benar terjadi dikhawatirkan hanya sedikit negara yang bisa memeranginya.
Peringatan cukup mengerikan tersebut disampaikan Kepala Ekonom HSBC, Stephen King yang menggambarkan situasi itu seperti kapal yang berlayar tanpa sekoci penyelamat.
Dengan rata-rata suku bunga di negara berkembang yang mendekati nol persen, amunisi kebijakan moneter konvensional tak lagi bisa menolong.
" Sebagai dampaiknya, ekonomi dunia seolah belajar di tengah lautan tanpa sekoci penyelamat yang bisa digunakan dalam keadaan darurat," ujar King dalam laporan The World Economy's Tintatic Problem seperti dikutip laman news.com.au, Kamis, 28 Mei 2015.
Kabar buruk ini muncul hampir bersamaan dengan proyeksi PBB yang memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini menjadi 2,8 persen. Angka ini hanya sedikit lebih baik dari kondisi resesi dimana ekonomi dunia biasanya hanya tumbuh 2,5 persen.
" Dalam kondisi ini, harga komoditas akan memimpin pelemahan di negara-negara berkembang," ujar King.
Kondisi lainnya adalah kenaikan harga dolar AS yang tak bisa direspon bank sentral AS, The Fed, meski melalui kebijakan pemotongan sukuk bunga
" AS akan terseret dalam resesi karena sesuatu yang tak bisa dikontrolnya," sambung King.
Sementara China yang menjadi tumpuan ekonomi juga diyakini bakal menghadapi kondisi yang tak kalah buruk.
Pada resesi tahun 1970-an yang melanda AS, The Fed pernah memangkas suku bunga acuan ke level minimum 5 basis poin. Kebijakan suku bunga rendah inilah yang kini tengah dilakukan AS.
Di sisi lain, defisit anggaran masih dianggap kurang aman dengan tingkat suku yang terlalu tinggi.
Upaya mencegah jurang resesi sebetulnya sudah dilakukan banyak negara dalam enam tahun terakhir.
" Sekarang masalah seolah berputar. Jika perusahaan tak berinvestasi ekonomi akan stagnan dan suku bunga tetap rendah. Jika suku bunga rendah namun perusahaan tak mau menurunkan bunganya, mereka tak mau investasi," ujarnya. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya