Cerita Sukses Gedung Asrama Haji Dibangun dari Utang Syariah

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Selasa, 24 Mei 2016 11:15
Cerita Sukses Gedung Asrama Haji Dibangun dari Utang Syariah
Sukuk sebagai sumber pembiayaan tak melulu digunakan untuk infrastruktur.

Dream - Surat utang syariah atau Sukuk tak hanya digunakan pemerintah untuk pembiayaan program infrastruktur, tapi juga pembangunan layanan umum lainnya. Salah satu program layanan umum yang dibiayai dengan sukuk adalah revitalisasi gedung asrama haji embarkasi Medan.

Dilansir dari situs Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, Selasa 24 Mei 2016, gedung yang bernama Madinah Al Munawwarah mendapatkan alokasi pembiayaan dari penerbitan sukuk negara pada tahun 2014 dan 2015.

Gedung tersebut merupakan salah satu dari sembilan asrama haji yang termasuk dalam program revitalisasi asrama haji oleh Kementerian Agama. Pengerjaan gedung dan fasilitas di dalamnya yang setara dengan hotel bintang tiga ini baru selesai pada Februari 2016 dan pertama kali digunakan untuk kegiatan Rapat Evaluasi Peningkatan Asrama Haji pada Maret 2016 lalu.

Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin, mengatakan pada tahun 2014 dan 2015, kementerian ini mendapatkan alokasi dana yang bersumber dari sukuk negara untuk kegiatan revitaliasi asrama haji di beberapa provinsi, masing-masing sebesar Rp200 miliar untuk tahun 2014 dan Rp385 milliar untuk tahun 2015. Dengan adanya alokasi dana APBN dari penerbitan Sukuk Negara, Kementerian Agama tidak perlu menunggu alokasi dana APBN dari Rupiah Murni seperti selama ini sehingga dapat mempercepat perwujudan program-programnya.

Surat berharga syariah ini dapat digunakan untuk pembiayaan proyek-proyek pembangunan infrastruktur, penyediaan layanan umum, pemberdayaan industri dalam negeri, serta pembangunan lain sesuai kebijakan strategis Pemerintah. Penyiapan proyek yang baik serta pelaksanaan proyek yang disiplin, taat aturan, dan tepat waktu menjadi kunci sukses keberhasilan penerbitan sukuk negara untuk pembangunan proyek.

Dia pun mengharapkan agar fungsi asrama haji tidak hanya dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan fasilitas yang representatif bagi calon jamah haji, namun juga dapat mendukung pengembangan kehidupan keagamaan bagi masyarakat umum, organisasi masyarakat, serta kegiatan lainnya dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

" Gedung ini dapat pula dimanfaatkan untuk kegiatan syiar dakwah Islam, pengembangan budaya, dan segala bentuk kegiatan keagamaan lainnya, sehingga dapat memberikan manfaat dan maslahat yang lebih besar kepada umat," kata dia di Medan.

Sekadar informasi, gedung revitalisasi asrama haji Medan memiliki lima lantai dengan luas 10.120 meter persegi. Gedung tersebut memiliki kamar VVIP, VIP, Superior, Standard, ruang fitness, restorasi, dua aula masing-masing berkapasitas 200 dan 500 orang, serta dilengkapi dengan empat lift.

Beri Komentar