Dream - Banyak yang mengira kenaikan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve, mampu melemahkan berbagai mata uang negara lain. Namun dihari yang sama usai kenaikan 25 basis poin itu, nilai tukar rupiah justru mampu menekan kekuatan dolar.
Berdasarkan data perdagangan Reuters, Kamis, 17 Desember 2015, rupiah pagi ini membuka perdagangan dengan menguat ke level Rp 13.898. Padahal pada penutupan kemarin, rupiah sempat bertengger di Rp 14.070.
Hingga sesi penutupan, nilai tukar rupiah mampu menguat di level Rp 14.013 meski sempat terkerek ke Rp 14.059 dan naik ke level tertinginya di Rp 13.902 per dollar AS.
Pengamat dari NH Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada menyatakan penguatan nilai tukar mata uang beberapa negara disebabkan keputusan kenaikan suku bunga ini memberikan kepastian pada perekonomian dunia.
" Adanya kecenderungan akan dinaikannya Fed rate memberikan kepastian ke pasar uang sehingga tidak membuat laju USD tidak terlalu bergejolak. Kondisi itu pun dimanfaatkan laju Rupiah untuk melaju di zona hijaunya," jelas Reza.
Di sisi lain, lanjutnya, laju dollar AS memperlihatkan pergerakan variatifnya terhadap sejumlah mata uang lainnya. Terhadap euro, pound sterling, dan yen, laju USD terpantau menguat. Namun mata uang negeri Paman Sam ini melemah terhadap AUD, CNY, INR, dan HKD.
" Laju Rupiah kami harapkan dapat kembali melanjutkan penguatan seiring kepastian telah dinaikannya suku bunga The Fed. Laju Rupiah sentuh target resisten 14.050," tandasnya.