Suara Senja Laila Sari

Reporter : Maulana Kautsar
Minggu, 3 Desember 2017 22:15
Suara Senja Laila Sari
Mengabdi tiga generasi didunia hiburan. Dipuja saat muda, hidup memprihatinkan di usia senja.

Dream – Terbujur kaku. Jasad itu terbaring di atas dipan ciut seukuran badan. Terbalut kafan putih, berlapis batik cokelat motif bunga-bunga. Sekujur raga tertutup rapat.

Di ujung kepala, terpajang foto berpigura. Berukuran dua folio, bergambar perempuan tua. Seluruh rambut telah putih. Tapi wajah kisut itu masih berapi-api. Berteriak pada mikrofon yang tergenggam di tangan kiri.

Di ruang sempit itu, orang datang silih berganti. Berdesakan merubung jasad itu. Mengucap salam serta merapal doa-doa. Nuansa cerah merah jambu dinding rumah itu tidak mampu memudarkan kemurungan yang membekap para tamu. Semua sedih.

Suasana duka meruap hingga luar rumah itu. Kursi-kursi plastik berjejer di gang sempit, dihuni kerabat yang melayat. Berdesakan dengan karangan bunga kiriman pesohor negeri. Selembar kertas biru tertempel pada tembok luar. Bertuliskan, “ Telah wafat Nenek Hj. Laila Sari.”

Inilah hari berkabung dunia hiburan Tanah Air. Senin malam, pekan lalu, sang rocker legendaris wafat. Setelah tiga generasi malang-melintang di jagat seni, nenek bernama asli Laila Sari menghabiskan hari-harinya di rumah mungil itu, hingga akhir hayat.

***
Laila Sari lahir di Padang Panjang, Sumatera Barat, 4 November 1935, dari pasangan Kamaroeddin dan Rachmawati. Nama aslinya, Nur Laila Sari Jahrotuljannah. Saat usia dua tahun, sang ayah meninggal dunia. Laila kecil diboyong sang kakek ke Jakarta.

Saat usia lima tahun, sang bunda menikah kembali. Dari merekalah Laila mengenal dunia seni. Dia kemudian meretas karier di panggung hiburan saat usianya limabelas tahun.

Semasa jaya, Laila adalah artis kondang. Dia adalah bintang panggung dengan julukan lady rocker. Dari Jakarta, Laila kerap mengisi pentas di pinggiran ibukota. Suara ngerok, aksi memukau, dan wajah memesona, membuat Laila makin sohor.

Konon bahkan dia sampai diboikot ibu-ibu saat manggung di Karawang. Banyak wanita yang takut suami mereka tergoda. “ Kan Mak Laila Sari cantik sekali dulunya, orang-orang jadi takut,” ujar Darsih, adik ipar Laila Sari, saat berbincang dengan Dream.

Tak hanya menyanyi. Laila juga bermain film. Kemampuan peran Laila di film “ Kembang Katjang” pada 1950 membuat The Teng Chun menggaetnya. Produser bernama lain Tahyar Idris itu mengorbitkan Laila dalam film “ Dinamika” lima tahun kemudian.

Namanya makin meroket. Laila sempat satu layar dengan Cony Sutedja di film “ Singa Betina dari Marunda” pada 1971. Nama Laila semakin moncer di layar lebar setelah berperan dalam film “ Wadjah Seorang Laki-laki” besutan Teguh Karya. Total, sejak 1977 hingga 2014, Laila telah tampil di 22 film.

Kemampuan peran Laila membawanya tinggal di Tangkiwood itu, bersama sang suami, Murdadi Iskandar alias Boertje. Mereka tinggal di saja sejak 1960-an. Wilayah ini merupakan kompleks seniman yang dibuat Tan Ing Hi, pemilik tempat hiburan Princen Park, yang kini sudah jadi rawa.

***
Tapi sisa-sisa kejayaan Laila seolah tak berbekas di usia senja. Di Tangkiwood, dia menghabiskan masa tua dengan berkubang keprihatinan. Laila benar-benar menjadi saksi begitu sulitnya hidup di jalur ini.

Di akhir 1980-an, ekonomi keluarga Laila mulai ambruk. Penghasilan makin seret. Jangankan hidup mewah ala artis ibukota, untuk mengepulkan dapur saja dia harus berutang. Meminjam beras di warung, sudah biasa.

“ Ya kalau habis syuting sudah tuh buru-buru utang beras dibayar, enggak lama ngutangnya juga,” ujar anak angkat Laila, Maya Sari.

Hidup memang bak roda. Terus berputar. Setelah terjerembab dari ketenaran, ekonominya sempat membaik. Tawaran iklan membuat kantongnya kembali tebal. Kontrak iklan membuatnya mampu merenovasi rumah. “ Pas jaya lagi kami membangun rumah,” tambah.

Tapi kebangkitan itu tidak lama. Ekonomi kembali goyah. Boertje terserang strok. Laila pontang-panting mencari biaya berobat. Menjadi tulang punggung keluarga. Sayang, kerja keras itu tak mengubah nasib Boertje. Sang suami meninggal pada 2000.

Sepeninggal Boertje, Laila semakin terpuruk. Karier keartisan seolah padam. Terdesak oleh para pendatang baru. Kalah dengan mereka yang lebih segar. Panggilan syuting semakin jarang datang. Kehidupan Laila semakin memprihatinkan.

Mari kembali ke Jalan Badila I, Nomor 1 RT 003 RW 04, Kelurahan Tangki, Jakarta Barat. Lihatlah rumah Laila di Tangkiwood itu. Bila Anda datang ke sana, harus menelusuri gang sempit. Hanya cukup dilewati satu motor. Ukurannya pun sangat mungil. Ruang tamunya tak lebih enam meter persegi. Saat lima pelayat masuk pada hari duka itu, rumah itu sudah sesak.

Kediaman itu lebih mirip rumah kontrakan. Jangankan garasi, pekarangan pun tak ada. Begitu keluar pintu, langsung bertemu orang yang lalu-lalang di gang. Sama sekali tak ada tanda keartisan di rumah itu. Atap pun sudah bocor di sana-sini.

Karena kehidupan nelangsa itulah, sebuah gerakan penggalangan dana dilakukan melalui dunia maya. Namun sayang, beberapa jam setelah pengumpulan dana bantuan ditutup, dia meninggal dunia. Laila Sari tak sempat melihat wujud uang Rp148 juta yang terkumpul.

“ Amanah dari Nenek Laila Sari itu memang akan digunakan untuk bayar utang, jadi utang-utang yang tersisa, semisal tunggakan listrik, makanan, kayak gitu-gitu,” ujar Siti Desiree, Manager Marketing dan Media Sosial Kitabisa.com yang menggalang dana itu.

Meski kekurangan dan punya utang, Laila rupanya masih peduli dengan kerabat. Dia memang tak punya tabungan, namun saat ada kerabat butuh, dia akan membantu semampunya. Bila ada job dari stasiun televisi, sebagian dia sumbangkan.

“ Kan keluarganya banyak. Jadi banyak yang dibantuin sama Mama. Sebagian juga dia sumbangin ke masjid sama mushola,” tutur Maya.

Laila berharap bisa menambah modal usaha kerabatnya. Meski tak besar, bukan jumlah jutaan. Dari usaha itu pula Laila mendapat bagian keuntungan. Pemasukan untuk bertahan hidup. “ Enggak banyak sih, paling Rp100 ribu, Rp50 ribu,” ucap Maya.

Itulah Laila. Meski sudah uzur, dia tetap tegar. Tak lelah menanggung beban. Menjadi tulang punggung keluarga. Dengan tubuh ringkih itu, dia sesekali tampil di televisi. Dia tetap melantunkan sepotong lagu. Menjual sisa suara yang tak lagi tegas.

Dan Senin malam dua pekan lalu itu, bintang keartisan lalila benar-benar padam. Dia wafat dalam usia 82 tahun. Laila dimakamkan TPU Karet Bivak. Satu liang dengan Boertje yang meninggalkannya tahun 2000. Tak terlihat artis yang melayat. Jenazah Laila pun hanya diangkat tukang ojek online.

Laila menghadap Sang Khalik sebagai manusia biasa. Gelar lady rocker tak dia bawa. Gemerlap dunia artis pun tak mengantarnya ke liang lahat. Selamat jalan Nenek Laila, semoga diampuni segala dosamu. Amin.

Laporan: Ilman Naafi'an 

Beri Komentar