Jalan Saudi Menuju Moderat

Reporter : Eko Huda S
Jumat, 17 November 2017 20:15
Jalan Saudi Menuju Moderat
Saudi berubah haluan menerapkan Islam moderat. Meninggalkan aturan yang ketat.

Dream - Perempuan itu duduk di belakang kemudi. Tangan cekatan, membanting setir ke kiri dan kanan. Sesekali merapikan ujung kerudung yang menutup wajah permai. Terkadang membetulkan kaca mata yang miring. Kaki tak kalah sigap. Menginjak pedal kopling, gas, juga rem. Bergantian.

Tak seperti hari yang sudah-sudah. Mobil hitam ini mengaspal di tengah hiruk-pikuk. Membelah jalanan Kota Khobar. Dipacu di rute lurus. Menikung di sejumlah kelokan. Menyalip satu dua oto, semua bersopir lelaki. Hanya mobil itu yang dikendalikan wanita.

Sopir trengginas itu tak sendiri. Satu perempuan lain duduk di samping kanan. Tak kalah sibuk, tangan terus menggenggam ponsel. Bukan menelepon, tapi merekam seluruh aktivitas di ruang kemudi.

Lewat video itulah sang sopir berkeluh kesah. Di tengah deru mesin, suara getir terdengar. Berisi kritik dan kecewa. Doa serta harapan. Perempuan berkudung hitam itu meminta negerinya berubah, mencabut larangan berkendara bagi kaum Hawa.

Sore hari, rekaman itu diunggah ke Youtube. Tak butuh lama, hanya hitungan jam, video itu ditonton ratusan ribu kali. Viral. Menjadi sensasi media sosial. Pro dan kontra menjalar seantero negeri. Media asing menyorot tajam. Dunia geger!

Tapi, petaka terjadi di malam buta. Bukan di jalanan. Tidak pula saat berkendara. Bencana datang saat perempuan itu tengah berada di peraduan. Tengah malam di bulan Mei 2011 itu, pintu rumahnya diketuk. Tamu tak diundang datang, semua polisi.

Wanita itu ditangkap. Dianggap bersalah karena berkendara, aktivitas haram bagi perempuan di penjuru negeri. Selama puluhan tahun, wanita negera itu memang berada di dalam belenggu aturan ketat. Hak tak pernah setara dengan kaum Adam.

Perempuan pemberani itu adalah Manal El Sherif. Dia sengaja membagi video itu. Bukan tanpa alasan. Video itu adalah isi hati banyak perempuan Arab Saudi. Mereka protes, meminta hak yang sama sebagai warga negara. “ Kami ingin perubahan,” kata Manal dalam video.

Tapi itu kisah lama. Harapan Manal kini terkabul. Larangan mengemudi yang diterapkan puluhan tahun telah dicabut. Wanita di kerajaan itu bersiap menyambut hari bahagia itu. Juni tahun depan, mereka boleh berkendara.

Dan lihatlah kebahagiaan Manal. Hak yang bertahun-tahun diperjuangkan perempuan Saudi kini jadi nyata. Melalui Twitter, dia menulis, “ Saudi Arabia tidak akan pernah sama lagi.”

Berubah Moderat

Saudi memang tengah berubah. Selama puluhan tahun negeri ini menjadi negeri ultrakonservatif. Kerajaan itu menutup diri sejak terjadi revolusi Iran pada 1979. Pada tahun yang sama, kaum fundamentalis menduduki Masjidil Haram di Mekah.

Sejak itu pula Saudi dipimpin penguasa-penguasa tua. Mereka sangat menjaga hubungan erat dengan paham Wahabi, yang telah menjadi “ haluan negara” sejak kerajaan pertama Saudi berdiri pada 1744. Mereka menerapkan hukum yang “ kaku”.

Perubahan terjadi setelah Salman bin Abdulaziz Al Saud naik tahta, Januari 2015. Angin perubahan semakin kencang setelah Muhammad bin Salman ditunjuk sebagai putra mahkota Juni lalu. Dia membawa pemikiran lebih segar, ingin Saudi menganut “ Islam moderat”.

Mencabut larangan menyopir bagi wanita hanya awal pekerjaan besar membasmi ekstremisme. September lalu, Saudi memecat ribuan imam yang diangap menabur benih radikal. Ideologi kebencian dan terorisme diharamkan karena akan merusak negeri.

Saudi serius melawan ekstremisme. Mereka bahkan membangun Komplek Raja Salman untuk Hadis Nabi, pusat pengkajian hadis di Madinah. Lembaga yang diisi ulama pakar hadis dari seluruh dunia bertugas memantau penggunaan tafsir hadis agar tak digunakan untuk kegiatan ektremisme.

Perubahan terlihat nyata dalam pertemuan Future Investment Initiative di Riyadh Oktober lalu. Di sana, para wanita bersanding dengan 3.000 pebisnis, investor, dan pejabat dari puluhan negara. Konferensi seperti ini baru pertama kali digelar di negeri konservatif ini.

Dengarlah pidato Muhammad bin Salman dalam forum itu. Dia menegaskan komitmen Saudi untuk menganut “ Islam moderat”. Dia menyebut paham ultrakonservatif yang diterapkan selama 30 tahun terakhir, “ tidak normal”.

Paham itu, kata dia, sebagai reaksi terhadap revolusi Iran 1979. Para pemimpin dunia, termasuk Saudi, ramai-ramai meniru model itu. Tapi tak tahu penerapan paham ekstrem itu. “ Kita akan menghancurkan pemikiran itu hari ini. Kita akan mengakhiri ekstremisme,” tegas dia.

Perang terhadap paham ekstremis juga ditunjukkan Saudi pada politik luar negeri. Pada Juni silam, mereka memutus hubungan dengan Qatar yang dituding menyokong terorisme. Mereka juga memerangi Suriah dan pemberontak Houthi di Yaman yang didukung Iran.

Menurut Salman, perubahan ke “ Islam moderat” sangat penting untuk menjamin masa depan negara. Dia menyebut, 70 persen penduduk Saudi berusia di bawah 30 tahun. Mereka tak ingin membawa generasi muda ke masa lalu yang kelam.

“ Kita hanya kembali pada apa yang kita ikuti, Islam moderat terbuka terhadap dunia dan semua agama,” tutur pangeran berusia 32 tahun itu.

Revolusi Ekonomi

April tahun lalu, Saudi mengumumkan Visi 2030. Blueprint yang disusun Muhammad bin Salman. Guidance ekonomi ini ingin melepaskan Saudi dari ketergantungan minyak. Caranya dengan mendiversifikasi ekonomi. Sehingga, mereka butuh membuka diri dengan dunia luar.

Selama ini, minyak bumi memang menjadi penyokong utama ekonomi Saudi. Negeri petrodolar itu punya cadangan terbukti 268 miliar barel. Jumlah ini setara dengan seperenam cadangan minyak terbukti dunia. Tapi, rontoknya harga minyak dunia membuat ekonomi Saudi lesu.

Anggaran Saudi defisit. Pada 2015, menurut Reuters, anggaran mereka defisit Rp1.372 triliun. Tahun lalu, seiring menggeliatnya harga minyak, defisit turun menjadi Rp1.070. Dua tahun lalu, International Monetary Fund meramal cadangan devisa Saudi habis pada 2020. Nasib tragis ini terjadi jika bergantung pada minyak.

Mau tak mau, untuk mengejar “ ambisi” itu, mereka harus membuka diri. Lebih ramah kepada investor. Dan, mereka telah memulai. Raja Salman sudah melawat ke Asia, termasuk China. Terbaru, Penjaga Dua Masjid Suci ini berkunjung ke Rusia. Selain menanamkan modal, mereka juga mencari investor untuk diversifikasi ekonomi dalam negeri.

Mari kembali ke pertemuan Future Investment Initiative di Riyadh itu. Pangeran Muhammad bin Salman mengumumkan pembangunan kota masa depan, Neom. Proyek senilai Rp6.775 triliun ini ditanam di bibir Laut Merah. Membenetang dari Saudi, Yordania, hingga Mesir. Zona ekonomi independen itu dibangun untuk memanjakan investor.

Muhammad bin Salman menyebut Saudi sebagai negara ekonomi maju. Mereka menjadi salah satu kekuatan ekonomi terbesar. Ditunjang dengan letak strategis di antara tiga benua. Perubahan Saudi menjadi lebih baik, kata dia, sama dengan membantu Timur Tengah dan mengubah dunia.

“ Itulah yang ingin kami coba lakukan di sini. Dan kami berharap kami mendapat dukungan dari semuanya,” kata pangeran yang beken dengan sebutan MbS itu.

Tak Mudah

Perubahan memang keniscayaan. Apalagi zaman sekarang nyaris tak mungkin sebuah negara menutup diri. Politik, budaya, dan ekonomi, semua saling terkait. Membuka diri dengan jargon “ Islam moderat” menjadi pilihan rasional bagi Saudi.

Menurut pengamat politik Timur Tengah, Hasibullah Satrawi, Saudi sadar dengan ancaman paham radikal di kawasan regional. Kelompok ISIS yang meluluh-lantakkan Irak dan Suriah misalnya, hanya bisa dibendung dengan paham moderat.

“ Arab Saudi bisa melihat sisi bahaya yang dikembangkan seperti ISIS,” kata Hasibullah saat berbincang dengan Dream, beberapa waktu lalu.

Radikalisme, kata dia, sangat tidak menguntungkan untuk Visi 2030 Saudi. Sebab, sifat radikalisme itu lebih menutup diri. Sementara, pembangunan ekonomi butuh keterbukaan.

“ Arab Saudi itu ingin menjadi negara terbuka secara ekonomi, punya kemandirian tanpa harus bergantung dari hasil alam,” tutur Hasibullah.

Namun demikian, tak mudah bagi Saudi untuk berpaling ke Islam moderat. Banyak tantangan yang harus dihadapi. Di dalam negeri, masih banyak berkembang paham radikal. Bisa jadi upaya mereka dituding hanya untuk keberlangsungan rezim belaka, bukan memerangi radikalisme.

Tantangan juga datang dari dalam keluarga kerajaan. Saudi baru saja menangkap sebelas pangeran dengan tuduhan korupsi. Kerajaan boleh saja menyebut ini sebagai penghalang Visi 2030. Tapi, “ Versi lain kan soal transisi keluarga kerajaan dan lainnya.”

Saudi juga tengah melakukan pertaruhan besar dalam politik luar negeri, dengan terlibat perang di sejumlah kawasan. “ Saya enggak tahu apa yang nanti akan terkonfirmasi di perjalanan waktu selanjutnya,” kata Hasibullah.

Dalam perang Suriah misalnya. Saudi, tidak punya pilihan politik menguntungkan. Bashar Al Assad yang didukung Iran tak terjungkal juga hingga kini. Di Yaman, sampai sekarang tak ada tanda kemenangan di pihak Saudi.

“ Poinnya, kebijakan Saudi belum membuahkan hasil dan belum menang. Terbaru mereka konfrontasi dengan Qatar. Sampai sejauh ini belum begitu efektif.”

Dan yang terbaru, Saudi kehilangan sekutu di Lebanon. Sebab, Perdana Menteri Saad Hariri yang mereka dukung karena melawan Iran malah mengundurkan diri. “ Ini pertaruhan besar-besaran yang belum menunjukkan arah positif,” ujar Hasibullah.

Meski demikian, Saudi tetap percaya diri. Mereka yakin pertaruhan itu tak mengguncang politik dalam negeri. “ Apakah ini pertaruhan yang terkalkulasi dengan baik atau kenekatan, sebab semua kartu sudah dikeluarkan oleh Saudi.”

Apapun itu, Saudi kini tengah berubah. Minimal, hak-hak kaum wanita mulai diakui. Apapun hasil pertaruhan itu. Kata Manal, Saudi tak akan pernah sama lagi.

Laporan: Maulana Kautsar

Beri Komentar