Para Pemburu Janda

Reporter : Eko Huda S
Minggu, 5 November 2017 19:20
Para Pemburu Janda
Menafkahi para janda tak harus menikahinya.

Dream - Bersimpuh di tengah dipan. Perempuan tua itu terlihat bahagia. Mata berbinar. Senyum di bibir terus mengembang. Menarik kulit kendur. Keriput yang merata di sekujur pipi.

Berdaster merah, kombinasi batik keemasan. Kelir tak cerah lagi. Sudah pudar. Ujung lengan pun mengerut seperti per. Lusuh, jarang ditindas setrika. Kerudung ungu tersandang di kepala kepala. Sungguh sederhana.

Tubuh ringkih itu disandar beban. Sebuah sak transparan teronggok di pangkuan. Penuh beras. Sepasang tangan kisutnya memeluk karung bersablon hijau yang kembung itu.

Mak Ermi. Begitulah dia disapa. Sudah lebih setengah abad menghuni Bumi ini. Masa panjang dihabiskan untuk menaklukkan kerasnya hidup. Di tengah himpunan keterbatasan, bahkan saat tubuh tak lagi segar. Tapi siang itu, dia bersuka-cita.

Dan, di bibir amben, duduklah lelaki muda. Tak kalah ceria. Tawa mengembang lebar. Bergaya kasual. Topi fedora putih bertengger di kepala. Kaus hitam disetel celana biru dongker. Pada bagian dada tertulis: ‘Lelaki 1000 Janda’.

Dialah Roel Mustafa. Bukan kebetulan, dia sengaja datang ke rumah janda uzur di Desa Putat Nutug, Ciseeng, Bogor, itu untuk berbagi kebahagiaan. Roel berkunjung untuk menghibur dan membantu.

Siang itu, ranjang kayu jadi saksi. Tentang perjuangan dan harapan. Kepedulian serta kasih sayang. Roel memberi tahu kita semua bahwa janda-janda seperti Mak Ermi ini patut dibantu. Dan mereka tersebar, mungkin juga berada di sekitar kita.

Sudah setahun Roel rajin mengunjungi para janda. Dia tahu betul betapa berat hidup menjanda. Menjadi ibu sekaligus ayah, tulang punggung keluarga.

Hingga kini, sudah 300 janda disantuni. Pria kelahiran Jakarta yang menetap di Depok ini belum berhenti. Dia punya target 500 janda tahun ini. Hingga 1000 janda untuk periode berikutnya.

***
Pengalaman hidup. Itulah yang menggerakkan Roel. Kepedulian kepada para janda sudah tumbuh sejak dia kecil, saat sang ibu masih hidup. Saat anak-anak, dia melihat ibundanya selalu memasak dengan porsi lebih. Bukan untuk dihabiskan sendiri, sebagian dibagikan kepada para janda.

Roel lah yang jadi kurir. Dia bertugas mengantar makanan-makanan itu kepada teman-teman sang bunda. Sebagai anak, dia hanya melaksanakan tugas. Memastikan makanan-makanan itu sampai ke rumah teman-teman sang bunda. Sesama janda.

Setelah sang bunda wafat, kebiasaan itu hilang. Baru setahun lalu dia ingat tradisi itu. Roel baru sadar makna sejati di balik kebiasaan sang bunda. Di dalam rantang tak hanya berisi makanan. Di sana ada rasa sosial. Membantu kehidupan janda yang serba sulit.

“ Saya akhirnya membantu teman-teman ibu, tapi tidak dengan cara memasak matang. Saya kasih sembako berbahan beras, minyak, gula, garam,” ujar Roel.

Tapi, tak sembarangan janda dibantu. Roel punya kriteria khusus. Mereka harus berusia di atas limapuluh tahun. Janda usia lanjut yang berada dalam himpitan hidup.

Lihatlah Mak Ermi yang dikunjungi Roel. Usia sudah lebih setengah abad. Raganya sudah rapuh. Bersaing di dunia kerja, pasti tertinggal dari kaum muda. Jelas kalah trengginas.

Mari kembali ke rumahnya. Bukan gedung. Pondok itu berdinding anyaman bambu. Jendela kayu pun sudah jamuran. Tak ada perabot mewah. Hanya balai-balai kayu yang diduduki Mak Ermi dan Roel itu.

Baca pula kisah Mak Ermi yang ditulis Roel di Facebook. Nenek yang karib disapa Mak Nyai itu memprihatinkan. Kerap tak punya makanan. “ Emak Nyai, satu butir telur harus dibagi buat ketiga anaknya.”

Dengar juga kisah Roel tentang Bu Deli. Janda yang terlunta-lunta di Bogor bersama putrinya. Sang suami wafat akibat gempa Padang 2009. Harta di kampung amblas. Dia merantau ke Jawa. Jadi pemulung di Kota Hujan.

“ Tinggalnya di lapak pemulung, isinya semua lelaki. Kalau ditinggal mulung, anak ini sendiri. Bisa terjadi pelecehan seksual,” ujar Roel.

Janda-janda seperti itulah sasaran Roel. Kebutuhan mereka sederhana. Bukan bedak. Tak butuh gincu. Parfum pun tak usah. Yang penting, dapur bisa ngepul. Ada beras, minyak, dan gula. Itu lebih dari cukup.

Bila Anda ingin tahu hasilnya, simak kembali kisah Bu Deli. Roel tak sekadar memasok sembako. Dia juga memberikan modal. Dibelikan gerobak. Dengan keahlian memasak, Bu Deli dibina untuk berjualan sate padang.

Setelah empat bulan, usaha Bu Deli berkembang. Gerobaknya kini sudah dua. “ Dan bahkan tiap bulannya, dia menititpkan sedekah ke saya. Itu sih yang bikin saya terharu,” tutur Roel.

***
Aksi itu membuat Roel jadi buah bibir. Namanya viral setelah Fissilmi Hamida mengunggah kisah di Facebook. Teman Roel yang tinggal di London, Inggris, itu merangkum aksi menyantuni janda. Sejak itulah namanya dikenal. Sebutan ‘Lelaki 1000 janda’ disematkan.

Roel sendiri. Tak ada lembaga yang membantunya. Dana pun diambil dari usaha warung steaknya di Sawangan. Dia tak mau ribet dengan tetek-bengek laporan keuangan. Bila ada yang ingin membantu, cukup titip saja. “ Cukup foto selesai. Berat soalnya kalau lembaga.”

Bergaul dengan janda memang membuatnya khawatir. Dia sadar betul dengan pandangan miring banyak orang. Tapi dia pastikan bergumul dengan janda bukan berarti harus poligami. “ Menafkahi tidak harus menikahi,” kata dia.

Dan, lihatlah. Aksi Roel menginspirasi banyak orang. Santunan kepada para janda diikuti banyak orang di berbagai daerah. Tak hanya di Bogor dan Jakarta, tapi juga di Garut, Lampung, sampai Jawa Timur.

“ Kalau saya sedang di Surabaya atau Nganjuk, saya kunjungi. ‘Eh mana janda gua, anterin dong’,” kata dia.

Bila masih ragu, kunjungi beranda Facebook Roel. Di sana, Anda akan melihat unggahan foto dan video santunan untuk para janda di berbagai daerah. Video itu dikirim oleh mereka yang terinspirasi oleh aksi Roel.

Dia telah membuktikan bahwa melakukan aksi sosial bisa dilakukan oleh siapa saja dan dengan berbagai cara. Tak harus cara formal. Tak perlu seremoni. Dan alhamdulillah, orang-orang seperti Roel ternyata masih banyak di muka Bumi ini.

Tak hanya Roel, aksi sosial seperti itu juga dilakukan Suparno. Pria Wonogiri, Jawa Tengah, itu membangun rumah megah untuk para lansia: Istana Parnaraya.

Berlokasi di Desa Kebonagung, Kecamatan Sidoharjo, rumah itu dibangun mirip dengan Istana Merdeka. Didirikan di atas lahan 2.500 meter persegi, istana yang diresmikan Agustus lalu itu menelan biaya lebih dari Rp1 miliar.

Setidaknya, ada 300 lansia yang rutin beraktivitas di istana itu. Harapannya, para lansia dapat merasa tinggal di istana yang identik dengan kemegahan. Suparno tak ingin melihat mereka hidup susah. Tak hanya menampung. Pemilik usaha batik Parnaraya ini juga memberikan santunan.

Istana itu juga dibuka untuk umum. Namun, pengunjung harus membayar. Nantinya, 90 persen hasil penjualan tiket dipakai untuk menyantuni para lansia, sisanya untuk pendapatan desa.

Roel dan Suparno telah membuka mata kita semua. Mereka telah melakukan aksi nyata, membantu para janda dan lansia yang tengah berjibaku di tengah himpitan. Melawan kerasnya kehidupan. 

Beri Komentar