Survei: Pandemi Covid-19 Ancam Kondisi Finansial Para Pensiunan

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Selasa, 20 Oktober 2020 19:33
Survei: Pandemi Covid-19 Ancam Kondisi Finansial Para Pensiunan
Para pensiunan dikhawatirkan harus bekerja lebih keras atau terpaksa menjalani masa-masa tua mereka dalam kondisi standar.

Dream – Dampak ekonomi yang luas dari Covid-19 memberikan tekanan finansial bagi pensiunan, baik saat ini maupun masa depan. Apalagi, usia harapan hidup dan tekanan publik untuk mendukung kesehatan dan kesejahteraan populasi usia lanjut menambah tekanan terhadap kondisi pensiun.

Skor subindeks keberlanjutan rata-rata menurun 1,2 poin pada tahun 2020 karena pertumbuhan ekonomi negatif yang dialami oleh sebagian besar negara akibat pandemi ini, menurut studi “ 2020 Global Pension Index”, dalam konferensi pers virtual “ Laporan Mercer-CFA Institute Global Pension Index 2020”.

Senior Partner Mercer dan peneliti utama studi “ 2020 Global Pension Index”, David Knox, menjelaskan resesi ekonomi akibat krisis kesehatan global menyebabkan kontribusi pensiun turun, imbal hasil investasi yang lebih rendah, dan utang pemerintah di hampir semua negara.

Kondisi ini dikhawatirkan berdampak pada sistem pensiun di masa mendatang. Sebagian orang kemungkinan harus bekerja lebih lama dan sebagian lainnya harus puas dengan standar hidup yang lebih rendah saat pensiun.

“ Sangat penting bagi pemerintah untuk mempertimbangkan kekuatan dan kelemahan sistem mereka untuk memastikan hasil jangka panjang yang lebih baik bagi pensiunan,” kata Knox, Selasa 20 Oktober 2020.

Presiden dan CEO CFA, Margaret Franklin, mengatakan banyak sistem pensiun publik dan swasta di seluruh dunia mendapatkan tekanan untuk mempertahankan manfaat.

1 dari 4 halaman

Pandemi Covid-19 Pengaruhi Ketersediaan Dana Pensiun

Dampak Covid-19 jauh lebih luas bukan hanya terhadap kesehatan, namun juga dampak ekonomi jangka panjang yang memengaruhi industri, suku bunga, imbal hasil investasi, dan kepercayaan masyarakat di masa mendatang. Akibatnya, ketersediaan dana pensiun yang cukup dan berkelanjutan untuk jangka panjang juga berubah.

Tingkat utang pemerintah di banyak negara juga telah bertambah akibat Covid-19. Peningkatan utang ini kemungkinan akan membatasi kemampuan pemerintah mendukung populasi lanjut usia, baik melalui program pensiun maupun layanan lain seperti kesehatan atau perawatan lanjut usia.

Untuk membantu meringankan dampak Covid-19, pemerintah berbagai negara telah melakukan berbagai upaya untuk mendukung warga dan sistem pensiun.

2 dari 4 halaman

`Jawaban` untuk Pandemi Covid-19

Direktur Monash Centre for Financial Studies (MCFS), Deep Kapur, mengatakan banyak pemerintah di seluruh dunia “ menjawab” Covid-19 dengan stimulus fiskal dan bank sentral mengadopsi kebijakan moneter nonkonvensional.

“ Proyeksi imbal hasil investasi rendah saat volatilitas meningkat, menambah tantangan manajemen risiko portofolio dana pensiun,” kata Kapur.

Pemerintah beberapa negara, lanjut dia, mengizinkan akses ke tabungan pensiun atau mengurangi iuran wajib untuk meningkatkan likuiditas rumah tangga.

“ Kemungkinan besar akan berdampak kepada kecukupan, keberlanjutan, dan integritas sistem pensiun, sehingga mempengaruhi perubahan indeks pensiun global pada tahun-tahun mendatang,” kata dia.

3 dari 4 halaman

Upaya Pemerintah Pertahankan Lapangan Kerja dan Bisnis

Pemerintah mengalokasikan paket stimulus senilai Rp677,2 triliun untuk memulihkan ekonomi dan membuat dunia usaha dan karyawan mampu bertahan, pada Juni 2020. Ini termasuk Rp 37,7 triliun untuk program subsidi gaji kepada peserta aktif BPJS yang memiliki gaji di bawah Rp 5 juta per bulan. Penerima yang berhak menerima subsidi hingga Rp 2,4 juta, yang akan disalurkan dua kali masing-masing sebesar Rp 1,2 juta setiap dua bulan.

Retirement Business Leader Mercer Indonesia, Jovita Sadrach, mengatakan pemerintah telah memfokuskan upaya untuk mempertahankan lapangan kerja dan bisnis. Tujuannya untuk menekan dampak finansial dan ekonomi dari krisis Covid-19.

“ Penurunan ekonomi yang akan datang pasti akan berdampak pada kemampuan pemberi kerja dan karyawan untuk membayar iuran pensiun, sementara ketidakpastian pasar bisa membebani kinerja dana pensiun. Sangat penting bagi pengelola dana pensiun untuk melihat dengan cermat strategi dan portofolio mereka demi ketahanan dan keberlanjutan jangka panjang,” kata Jovita.

4 dari 4 halaman

Pandemi Covid-19 Dorong Kesenjangan Gender Meningkat

Pandemi ini juga membuat kesenjangan gender dalam ketersediaan dana pensiun meningkat. Kesenjangan tabungan pensiun di Asia diperburuk oleh usia harapan hidup wanita yang lebih panjang, partisipasi wanita yang lebih rendah dalam angkatan kerja, dan ketidaksetaraan gaji berdasarkan gender.

“ Sekarang kesenjangan melebar di banyak sistem pensiun, terutama di sektor-sektor yang paling terpukul di mana wanita mewakili lebih dari setengah angkatan kerja, seperti perhotelan atau makanan,” kata Wealth Business Leader Mercer Asia, Janet Li.

Beri Komentar