Dulu Tukang Kelapa Keliling, Kini Punya Swalayan Tiptop: Mencontoh Cara Rasulullah Berdagang

Reporter : Sugiono
Jumat, 3 Desember 2021 15:12
Dulu Tukang Kelapa Keliling, Kini Punya Swalayan Tiptop: Mencontoh Cara Rasulullah Berdagang
Berawal dari penjaja kelapa dalam gerobak, Rusman Maamoer sukses membangun bisnis swalayan dengan prinsip Islammi.

Dream - Berbekal tempaan pendidikan berniaga sang Ayah dibarengi ajaran akhlak berdagang, bisnis swalayan TipTop semakin besar. Berbeda dengan supermarket lain, TipTop memegang teguh prinsip Islam dalam menjalankan bisnisnya.

Adalah Rusman Maamoer, pendiri Swaslayan TipTop yang berhasil mengubah minimarketnya menjadi sebuah supermarket. Bersaing dengan peritel-peritel lain yang dibantu permodalan pengusaha besar.

Cerita sukses bisnis Rusman dimulai ketika dirinya masih bocah. Di usia 11 tahun, ayah Rusman memberikannya modal untuk membuka usaha.

" Kamu mau dagang apa, terserah!" kenang Rusman menirukan pesan sang ayah seperti dikutip Dream dari laman Pengusahamuslim.com Jumat, 2 Desember 2021.

1 dari 6 halaman

Jualan Kelapa Keliling dengan Gerobak

Berbekal modal dari sang Ayah, Rusman berjualan kelapa. Sebuah gerobak menjadi modal Rusman menjajakan dagangannya. Jarak 10 kilometer kerap harus dilaluinya.

Bisnis Rusman sempat berhenti. Pendidikan tetap menjadi prioritas hidup bagi sang Ayah. Menyelesaikan pendidikan di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Rusman sempat terjun ke dunia kerja. Jabatan Direktur Bank Pembangunan Daerah sempat disandangnya.

Namun panggilan berbisnis begitu kencang. Tekadnya bulat. Rusman hanya ingin bekerja selama tujuh tahun di BPD. Jalan bisnis jadi pilihannya.

Pilihan itu tak semulus yang dibayangkan. Beberapa kali jatuh bangun membangun usaha, Rusman memutuskan melalangbuana ke Benua Biru, Eropa. Tujuannya, mereguk informasi sebanyak mungkin soal bisnis yang akan dijalaninya.

2 dari 6 halaman

Berawal dari Toko Seluas 400 Meter Persegi

Puas dengan ilmu yang diperolehnya, Rusman mantap memulai bisnis baru. Minimarket menjadi pilihannya. Sebuah toko seluas 400 meter persegi jadi pijakan pertamanya. Nama TipTop dipilih untuk memulai bisnisnya tersebut.

Tekad Rusman membangun bisnis begitu besar. Terjun langsung memburu barang-barang jualan rela dilakoni. Pergi ke pasar tradisional membeli bawang, cabai jadi kegiatan rutinnya.

Sejak memulai bisnis swalayan, Rusman sudah memantapkan hati. Bisnisnya ini harus berjalan dengan prinsip Islami. Haram baginya menjual minuman keras apalagi daging babi.

" Saya juga selektif memilih barang. Misalnya daging sapi atau ayam, kalau harganya terlalu murah, atau tidak jelas memotongnya Islami atau tidak, saya tolak," kenang Rusman.

3 dari 6 halaman

Ajaran Nabi Muhammad Jadi Rujukan

Ajaran Nabi Muhammad dalam berdagang juga juga rujukan Rusman. Prinsip berdagang sesuai dengan hati nuraninya, tidak menipu, mencelakakan atau menganiaya orang selalu dipegangnya. Baginya, untung 2 sampai 3 persen saja sudah cukup.

Lambat laun bisnis Rusman terus berkembang. Swalayan dengan prinsip Islami direspon positif masyarakat. Sambutan publik terhadap Tip Top benar-benar di luar bayangan Rusman.

Swalayan TipTop, Kisah Sukses di Balik Minimarket dengan Prinsip Islami© Smartgeneration

Lahan seluas 400 M2 sudah tidak lagi mencukupi. Hampir setiap tahun, swalayan TipTop di Rawamangun itu harus diperluas. Bagian rumah terpaksa dibongkar untuk mengembangkan mini marketnya.

Tahun 1985, Tip Top sudah berubah jadi Pasar Swalayan, dengan luas 3000 M2 dan kenaikan penjualan 20 hingga 30 kali lipat.

4 dari 6 halaman

Ujian Berat Itu Akhirnya Datang

Pilihannya tak salah. Berawal dari toko minimarket seluas 400 meter persegi, Rusman membawa TipTop jadi swalayan besar. Namun cobaan muncul.

Juni 1991, swalayan TipTop di Rawamangun dilanda musibah. Api melalap semua toko yang dirintisnya itu. Barang persediaan, invetori, gedung, semuanya ludes terbakar. Tak ada yang tersisa.

Tak hanya Rusman, musibah ini memukul perasaan karyawannya. Sedih bahkan menangis melanda hati para pegawai.

" Kita sedang dicoba oleh Allah, apakah mampu atau tidak kita melewatinya. Kalau mampu, kita akan “ naik kelas”. Kalau tidak, malah akan ditutup segala pintu rizki oleh Allah," ujar Rusman pada anak buahnya. " Sayapun sudah bertekad, harus bangkit kembali."

5 dari 6 halaman

'Setelah Sholat, Rasanya Muncul Cahaya..'

Sewaktu api masih mengganas, Rusman memutuskan untuk pulang. Kewajiban sholat Subuh memanggilnya. " Setelah sholat, rasanya muncul cahaya, bahwa ternyata itu bukan hukuman. Tapi cobaan dari Allah," ujarnya.

Tekad bersambut. Pemerintah Daerah setempat meminta Rusman membangun kembali bisnisnya. Bahkan bantuan siap diberikan padanya. " Saya sangat terharu, rasanya mereka kok lebih berkepentingan dari pada kami," ujarnya.

Swalayan TipTop, Kisah Sukses di Balik Minimarket dengan Prinsip Islami© Smartgeneration

Tak butuh waktu lama, TipTop kembali berdiri. Di areal lama selang dua pekan, TipTop beroperasi. Namun cobaan belum berhenti. Tumpukan utang hingga Rp 2 miliar membelit Rusman. Dia punya stok barang milik para pemasok.

Sampai akhirnya pada 1992, semua terbayar lunas. Semua dilalui dengan perjuangan siang malam. Februari 1992, semua kembali normal.

6 dari 6 halaman

Niat Buka TipTop Dekat Masjid Nabawi...

Sepak terjang Rusman membangun bisnis TipTop semakin menggurita. Tawaran membangun swalayan serupa datang. Bukan dari Jakarta tapi kota Hujan, Bogor.

" Seseorang tiba-tiba menawarkan sebidang tanah seluas dua hektar di Bogor. Awalnya, saya sempat pikir-pikir, apa gunanya. Akhirnya tanah itu saya beli. Pada tahun 1993 saya dirikan Panti Yatim Piatu," kata Rusman.

Bisnis TipTop terus berkembang. Dua cabang dibuka pada tahun yang sama. Bahkan pada 1999, TipTop mulai menjajah tanah Tangerang.

Semua swalayan baru itu tetap harus berpegang pada satu prinsip. Menjalankan supermarket berjiwa Islami.

Kini Rusman pelan-pelan menyerahkan bisnisnya pada sang anak. Namun masih terbesit satu keinginan dalam hatinya.

" Cita-cita saya, saya sangat ingin membuka supermarket di dekat Masjidil Haram atau Masjid Nabawi," tuturnya. 

Beri Komentar