Upah Dipotong 50%, Karyawan Resto Cepat Saji Resign Massal

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Sabtu, 2 Maret 2019 16:00
Upah Dipotong 50%, Karyawan Resto Cepat Saji Resign Massal
Mereka memutuskan resign massal dan�

Dream – Sejumlah kru restoran cepat saji berhenti bekerja. Mereka kecewa karena gajinya dipotong hingga 50 persen dari gaji minimum.

Dikutip dari World of Buzz, Minggu 3 Maret 2019, pemotongan gaji ini berlaku di tiga restoran cepat saji, Sonic, di Ohio, Amerika Serikat. Aksi ini berlangsung setelah manajemen baru restoran memutuskan untuk memotong gaji secara masif.

Keputusan ini membuat karyawannya frustrasi dan memutuskan untuk berhenti. Mereka juga meninggalkan catatan yang “ berani”.

“ Karena manajemen berantakan, semua toko keluar. Maaf atas ketidaknyamanannya. Tapi, tim kami menolak untuk bekerja kepada perusahaan yang memperlakukan karyawannya seperti sampah. Kamu telah bekerja keras dalam waktu yang lama. Kami juga melakukan hal-hal yang penting. So, untuk pemilik baru, f*ck you!” tulis karyawan dalam catatan itu.

Sekadar informasi, UMR di Ohio sebesar US$8,55 (Rp120.277) per jam. Kalau dipotong separuhnya, para pekerja hanya mendapatkan bayaran sebesar US$4 (Rp56.501) per jam.

1 dari 3 halaman

Unik, Perusahaan Ini Tawarkan Jasa Resign untuk Karyawan

Dream – Untuk beberapa alasan, banyak orang di Jepang sulit keluar dari pekerjaan. Mereka lebih suka membayar pihak ketiga untuk keluiar dari perusahaan.

Plus, pihak ketiga ini akan berhadapan dengan bos dan rekan kerjanya serta mengurus pengunduran dirinya.

Dilansir dari Oddity Central, Minggu 30 September 2018, ada sebuah startup yang bernama Senshi S LLC. Perusahaan yang berbasis di Tokyo ini didirikan oleh Toshiyuki Niino dan Yuichiro Okazaki pada akhir 2017.

Ada layanan “ Exit” yang fungsinya untuk mengurus jasa pengunduran diri seseorang. Mulai dari mengurus dokumen sampai berbicara kepada atasan tentang alasan mundur.

Klien yang ingin resign harus membayar uang sekitar 40 ribu—50 ribu yen (Rp5,25 juta—Rp6,56 juta).

2 dari 3 halaman

Banyak Karyawan Stres dan Ingin Keluar

Para pendiri startup ini kaget karena banyak orang yang ingin keluar dari pekerjaannya karena tertekan. Senshi merasa layanannya bisa membantu ratusan orang melalui jasa ini.

Okazaki mengatakan pihaknya telah mematangkan bisnis ini sejak lama. Konsep ini juga dirasa menjanjikan.

“ Pasti ada permintaan di kuar sana. Saya pribadi bingung mengapa orang-orang merasa sulit untuk berhenti, tapi saya merasa atmosfer ini lazim di Jepang,” kata dia.

Dia mengatakan, beberapa karyawan Jepang tak bisa menahan pikiran untuk mengatakan kepada mereka bahwa mereka berhenti.

Karyawan ini senang jika ada orang lain yang bersedia mengurus proses pengunduran diri.

3 dari 3 halaman

Mulai dari Bicara dengan Atasan sampai Urus Dokumen

Setelah permintaan diterima dan uang telah dibayar, layanan Exit akan menghubungi perusahaan dan menyampaikan mereka telah memutuskan mengundurkan diri, dalam banyak kasus, tidak akan bekerja lagi.

Beberapa atasan menuntut Exit agar bisa berbicara langsung dengan mereka. Tapi, sejauh ini, perusahaannya telah memenuhi permintana itu.

Semua dokumen dan rincian yang diperlukan, seperti sisa cuti yang dibayar atau barang yang harus dikembalikan, diurus oleh Exit. Layanan ini juga bertindak sebagai perantara jika ada pihak yang memiliki pertanyaan tentang proses resign.

“ Ini bagus untuk perusahaan juga. Karyawan yang berpikir untuk mengundurkan diri, pada umumnya, tidak terlalu produktif. Ini bisa menyelesaikan ketidakcocokan talent pada tahap awal dan akan membantu aliran pasar tenaga kerja,” kata Niino.

Hanya dalam satu tahun sejak didirikan, Senshi S LLC, akan segera menjadi Exit Inc.. Perusahaan ini telah memediasi pengunduran diri sekitar 800 klien di seluruh Jepang. Exit mendapatkan banyak perhatian di media belakangan ini, jumlah itu diperkirakan akan meningkat dalam waktu dekat. (ism)

Beri Komentar
4 Januari, Hari Bahagia dan Paling Sedih Rizky Febian