Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi Membuat Surat Lamaran.
Dream – Mencari pekerjaan tak selalu menyenangkan, tetapi juga bisa sangat mengganggu. Ada saja yang mengusik ketenangan pencari kerja ketika mencari pekerjaan.
Dilansir dari CheatSheet, Selasa 6 Juni 2017, sebuah lembaga survei, Gallup, menunjukkan bahwa 7 dari 10 orang merasa frustrasi ketika mencari pekerjaan. Banyak hal yang membuat mereka jengkel dan merasa demoralisasi, baik karena kurangnya komunikasi dengan pencari kerja atau sulit berkomunikasi dengan perusahaan pemberi kerja.
Ada empat hal yang membuat orang merasa frustrasi ketika mencari pekerjaan. Pertama adalah proses lowongan kerja yang lama. Banyak orang membenci proses pencarian kerja lewat online. Sebanyak 75 persen orang yang disurvei oleh perusahaan rekrutmen, randrr, mengatakan bahwa teknologi pencarian kerja membuat mereka stres.
Yang menjengkelkan adalah aplikasi pekerjaan yang sangat panjang. Lebih dari setengah pelamar muak karena mengetik ulang semua informasi dari resume mereka dan mengisi rincian pendidikan tinggi dan riwayat gaji mereka.
Kedua, perusahaan yang super pemilih. Ada perusahaan yang membuka lowongan pekerjaan, namun kriteria dan harapan yang ditetapkan sangat tinggi.
Ketiga, mendapatkan pekerjaan yang tidak sesuai diharapkan. Mendapatkan pekerjaan terlihat bagus sampai tersadar bahwa perekrut tidak memperhatikan apa yang diinginkan dan dilakukan oleh karyawan terhadap kariernya. Perekrut yang buruk, tidak akan pernah membaca resume dan mencoba untuk menawarkan pelamar pekerjaan yang lain yang tidak sesuai dengan kemampuan dan target gaji. Yang paling buruk, mereka menyebutnya sebagai waktu yang tidak menyenangkan.
Keempat, tes kepribadian dasar. Society for Human Resource Management mengatakan 60 persen pelamar kini diminta untuk mengikuti tes kepribadian dasar selama proses perekrutan kerja. Profesor di University of Thomas School of Law, Susan J. Stabile, mengatakan tes ini menimbulkan kegelisahan dan kepusingan pencari kerja yang tidak yakin menjawab “ ya” atau “ tidak” dalam ujian tersebut, misalnya untuk soal “ Semua orang berharap terlalu tinggi kepada saya”.
Tes ini akan menolong atau menghancurkan kesempatan kerja mereka. Yang lebih buruk, ujian itu tidak mencerminkan yang mereka lakukan.(Sah)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya