Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi
Dream - Hantaman sentimen negatif dari bursa Wall Street benar-benar meruntuhkan bursa saham Indonesia. Kondisi dipersulit dengan langkah pemodal asing yang berblik melepas portofolionya.
Pada penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Rabu, 28 Januari 2015, Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) bergeser ke zona merah dengan melemah tipis 0,114 poin (0,07%) ke level 171,089,.
ISSI sempat berupaya melawan tren aksi jual usai menyentuh teritori positif. ISSI sempat menyenggol level tertinggi 171,35. Sayang aksi jual yang marak memperlemah upaya penguatan tersebut.
Aksi jual beli saham syariah sepanjang hari ini melibatkan 33,17 miliar saham dengan transaksi bernilai Rp 3,58 triliun.
Meski melemah, penghuni indeks acuan saham syariah justru didominasi penguatan. Sebanyak 97 emiten bergerak menguat sementara 83 lainnya terkerek aksi jual.
Pelemahan juga melanda indeks saham bluechips syariah, Jakarta Islamic Index (JII) yang terkoreksi 1,624 poin (0,23%) ke level 706,085.
Berbeda dengan ISSI yang didominasi pelemahan, penghuni JII sebagian besar bergerak ke zona merah. Sebanyak 17 emiten JII terpeleset ke zona merah sementara 9 lainnya berhasil bertahan di teritori positif.
Sama dengan ISSI, JII juga sempat dilanda aksi beli dan menyentuh zona hijau. JII mencapai level tertingginya di 707,97.
Emiten tambang kali ini memimpin daftar pencetak kenaikan harga tertinggi dipimpin PTBA yang menguat Rp 125 dan ITMG Rp 75 per saham. Top gainer lainnya SMRA yang menguat Rp 45, WIKA Rp 45, dan PTPP Rp 20 per saham.
Lantai bursa Indonesia di pertengahan pekan ini memang tengah dilanda aksi jual pelaku pasar. Buktinya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 8,297 poin (0,16%) ke level 5.268,852.
Pelaku pasar mentransaksikan tak kurang dari 57,31 miliar saham dengan nilai Rp 5,51 triliun. Pemodal asing yang sejak akhir pekan lalu menggelar aksi beli kini justru berbalik melepas portofolionya.
Asing mencetak nilai jual bersih hingga Rp 424,02 miliar.
Emiten sektor perdagangan kali ini sanggup bertahan di tengah terpaan sentimen negatif dengan menguat 1,25 persen. Diikuti pertambangan 0,35 persen dan industr aneka 0,09 persen.
Sementara emiten yang bergerak di sektor keuangan justru menjadi pemberat laju indeks usai terkoreksi 0,70 persen. Diikuti pertanian 0,54 persen, barang konsumsi 0,49 persen, dan properti 0,34 persen.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya