Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Penjahit Banting Setir Membuat Masker (Merdeka.com/Erwin Yohanes)
Dream – Kelangkaan masker di pasaran akibat pandemi virus corona Covid-19, ternyata justru menjadi peluang bisnis baru. Karena permintaan yang tinggi, penjahit baju pun banting setir membuat masker berbahan kain.
Penjahit baju yang banting setir membuat masker kain itu adalah Yudi dan Dwi Anjani Susiana Putri, pasangan asal Miagan, Mojoagung, Jombang, Jawa Timur. Kini mereka kebanjiran order masker kain.
Dwi mengaku beralih menjadi penjahit masker karena barang itu kini sangat langka. Kalaupun ada, harganya sudah sangat mahal.
" Akhirnya, saya memproduksi sendiri, dan ternyata sambutan masyarakat di luar dugaan," kata Dwi sebagaimana dikutip dari Merdeka.com, Senin 23 Maret 2020.
Dwi sudah cukup lama menekuni bidang jahit-menjahit. Kegiatan inilah yang saat ini menopang ekonomi keluarganya. Dia pun membuat masker dari kain, dan satu demi satu pesanan pun mulai bermunculan.
Seiring dengan waktu, pesanan terhadap masker buatannya justru makin membludak hingga membuat mereka kewalahan.
" Ini saya sedang menjahit kain untuk pembuatan masker pesanan orang-orang. Banyak yang memesan," kata dia.
Dia menyebut, pesanan tidak hanya berasal dari orang biasa, namun sejumlah orang dari kalangan medis pun turut memesan masker buatannya. Selain itu, warga dari beberapa daerah juga turut memesan masker buatannya, mulai dari Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto dan beberapa kota lainnya.
Tidak hanya memasarkan secara konvensional, Dwi juga menjual masker buatannya melalui media sosial, seperti facebook maupun instagram.
" Kami sampai kewalahan menerima pesanan. Pegawai puskesmas saja pesan 250 lembar," kata dia.
Dwi mengklaim maskernya bisa menangkal virus. Sebab, dilapis oleh dua jenis kain. Keunggulan lainnya, pemesan dapat memilih motif kain yang diinginkannya, atau bahkan jika ada yang suka tanpa motif alias polos juga disediakan.
Untuk satu masker dibanderol dengan harga Rp10 ribu. Namun, jika pemesan memesan lebih dari 100 buah, harganya bisa didisikon.
Dia mengaku senang dengan peluang bisnis ini, namun dia tetap berharap wabah penyakit ini bisa segera hilang. Dia mendoakan agar semua warga Indonesia segera dihindarkan dari bencana ini.
" Moga-moga cepat selesailah wabah ini," kata Dwi.
Dream – Kementerian Perdagangan resmi melarang sementara ekspor masker untuk penutup wajah. Aturan larangan ekspor tersebur efektif berlaku sejak kemarin, (Rabu 18 Maret 2020).
Dikutip dari Liputan6.com, larangan ini tertuang di Peraturan Menteri Perdagangan No. 23 Tahun 2020 tentang Larangan Sementara Ekspor Antiseptik, Bahan Baku Masker, Alat Pelindung Diri, dan Masker. Permendag ini ditetapkan berlaku sampai 30 Juni 2020.
Eksportir yang melanggar larangan ekspor masker akan disanksi melalui ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
Selain masker, Permendag No. 23 Tahun 2020 juga melarang ekspor bahan baku masker, antiseptik, dan material pelindung diri.
![]()
“ Sesuai dengan uraian barang dan Pos Tarif/ HS,” demikian bunyi pasal 2 ayat 1 Permendag itu.
Larangan ekspor masker dan bahan pembuatnya ini muncul setelah wabah virus corona baru, Covid-19, terus meningkat sejak ditemukan pertama kali dii Depok, Jawa Barat. Organisasi Kesehatan Dunia sendiri sudah menetapkan virus Covid-19 sebagai pandemik global.
Belakangan diketahui, nilai ekspor masker meningkat pesat sejak virus corona mewabah di berbagai negara di duniadunia.
Dihimpun Dream dari beberapa sumber, data Badan Pusat Statistik mencatat nilai ekspor masker sebesar US$2,1 juta (Rp31,95 miliar) pada Januari 2020. Namun, pada Februari 2020, ekspornya melonjak jadi US$75,2 juta (Rp1,14 triliun).
A. Antiseptik
1. Antiseptik hand rub, hand sanitizer dan sejenisnya yang berbasis alkohol
2. Hand rub, hand sanitizer dan sejenisnya mengandung campuran dari asam terbatu bara dan alkali
3. Hand rub, hand sanitizer dan sejenisnya dalam kemasan aerosol
4. Hand rub, hand sanitizer dan sejenisnya selain yang mengandung campuran daru asam ter batu bara dan alkali, serta tidak dalam kemasan aerosol
1. Kain bukan tenunan jenis meltblown nonwoven terbuat dari filamen buatan dengan berat tidak lebih dari 25 g/m2
2. Kain bukan tenunan jenis meltblown nonwoven terbuat dari bahan selain filamen buatan dengan berat tidak lebih dan i 25 g/m2
1. Pakaian pelindung medis
2. Pakaian Bedah
1. Masker bedah
2. Masker lainnya dari bahan nonwoven, selain masker bedah
(Sumber: Liputan6.com/Athika Rahma)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya