Huawei Gandeng LinkAja, Pembayaran QRIS Bisa Lewat Smartwatch HUAWEI WATCH GT 7 Series
Gandeng Bilal Indrajaya, Lyodra Beri Pesan Tak Menyerah pada Album Terkunci Di Kamu
7 Jenis Tanaman yang Bisa Mengundang Ular ke Halaman Rumah, Bukan karena Baunya
Kenapa Tikus Suka Bersarang di Mesin Mobil, dan Cara Mengusirnya untuk Selamanya
Dua Seniman Indonesia Raih Grand Prize MR.D.I.Y. Regional Art Competition 2026
3 Suplemen yang Diam-Diam Bisa Mengganggu Tidur, Salah Satunya Sering Dikonsumsi
MK Sudah Putus, Drama Ijazah Gibran Belum Tamat
Kasus Ijazah Gibran, Sudah Selesai atau Belum?
© 2026 Wanita Meminum Air Dari Gelas (Pexels.com - Bimbim Sindu)
DREAM.CO.ID - Limbah ikan mungkin masih dipandang sebelah mata oleh banyak orang. Sisa produksi sektor perikanan kurang dimanfaatkan. Padahal, bahan yang lebih sering dibuang itu bisa diubah menjadi produk bernilai tinggi.
Di Universitas IPB, misalnya, bahan sisa ikan disulap menjadi minuman kolagen oleh Profesor Mala Nurilmala. Bahan-bahan yang selama ini terbuang berubah menjadi asupan yang tinggi protein.
" Kolagen adalah protein bernilai tinggi yang banyak digunakan dalam industri makanan, kosmetik, kesehatan, dan nutrisi," kata Mala, dikutip dari laman resmi Universitas IPB.
Menurut Mala, limbah ikan biasanya hanya digunakan sebagai pakan ternak. Ada pula yang diolah sebagai produk sederhana seperti kerupuk kulit ikan. Padahal limbah ikan, seperti kulit, tulang, sisik, dan gelembung renang, mengandung kolagen dan protein dengan kadar tinggi.

Inovasi ini tentu tidak boleh dianggap remeh. Apalagi, kata Mala, Indonesia masih bergantung pada impor kolagen yang berasal dari babi atau sapi, yang status halalnya tidak selalu terjamin.
Potensi Besar
Sektor ini cukup menjanjikan karena produksi ikan Indonesia tidak sedikit. Menurut data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Indonesia menghasilkan sekitar 13,76 juta ton ikan pada 2024. Dari angka tersebut, sebanyak 7,39 juta ton berasal dari penangkapan dan 6,37 juta ton budi daya.
Memang belum ada data terbaru tentang limbah ikan Indonesia. Namun kajian KKP tahun 2009 dalam studi berjudul Prospek Pemanfaatan Limbah Perikanan Sebagai Sumber Kolagen menyebut bahwa perikanan tangkap menghasilkan limbah 1,81 juta ton per tahun.
Jika rendemen kolagen berkisar antara 11–63 persen, maka diperkirakan dapat dihasilkan kolagen sekitar 0,20–1,14 juta ton. Itu memang estimasi 2009. Tapi setidaknya data itu menjadi gambaran bahwa limbah perikanan dapat menjadi sumber kolagen yang potensial.

Produk samping pengolahan ikan memang cukup banyak. Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) bahkan menyebut produk samping pengolahan dapat mencapai 30–70 persen dari bobot ikan.
Penelitian IPB pada 2025 mengungkap bahwa proporsi sisik ikan sekitar 3,73 persen dari tubuh, kepala 24,91 persen, insang 4,32 persen, tulang 19,19 persen, daging dan kulit 33 persen, dan jeroan 14,85 persen.
Riset itu kemudian mengekstraksi kolagen dari sisik dan mendapatkan rendemen kolagen sekitar 14,70% . Sisik juga mengandung asam amino seperti glisin dan prolin yang menjadi penanda penting kolagen.

Ekonomi Sirkular
Dari proses itulah Mala mengubah limbah ikan menjadi kolagen. Produk itu diberi nama Collagel, diluncurkan Februari 2025. Produk ini telah memperoleh izin pemasaran dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan sertifikat halal dari Badan Penjaminan Produk Halal Indonesia (BPJPH).
Produk itu bahkan sudah dikembangkan. Varian minuman baru lahir: Collagen Z. Minuman itu tersedia dalam berbagai rasa, seperti kopi, matcha, mangga, dan beri.
Mala tak sendiri, produk itu dikembangkan dengan sejumlah pihak. Kolaborasi itu juga berbentuk pelatihan dan lokakarya untuk kaum muda dan anggota kelompok Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) di wilayah Bogor dan Jakarta.
Para peserta dilatih berbagai keterampilan, mulai manajemen produksi, pemasaran digital, hingga pencatatan bisnis berbasis teknologi. Mereka juga diberikan alat penjualan seperti stan dan sepeda motor roda tiga untuk memasarkan produk Collagen Z.
Inovasi kolagen ini bukan hanya memberdayakan ekonomi masyarakat, namun juga menjadi bagian upaya melindungi lingkungan melalui konsep ekonomi sirkular dan keberlanjutan.
Selain menciptakan peluang bisnis baru, konversi limbah perikanan menjadi produk kolagen juga dipandang sebagai cara untuk mengurangi pencemaran lingkungan.
Advertisement
Kasus Ijazah Gibran, Sudah Selesai atau Belum?

Menilik 5 Green Movement Seru di Synchronize Festival

Deal Lepas 10,08 Miliar, Low Tuck Kwong Tambah Porsi Lego Saham Bayan Resources ke Jhonlin Baratama

IHSG Dibuka Menguat, Investor Pantau Laporan Cadev RI

MK Tak Temukan Bukti Gibran Punya Ijazah Setara SMA, Tapi Tak Bisa Batalkan Status Wapres


Kenapa Pekerjaan Baru di Usia 30-an Bisa Membuat Kita Merasa Bodoh Lagi?

Setir Mobil Tiba-Tiba Berat Diputar? Ini 4 Penyebab dan Cara Mengeceknya


Pepaya vs Mangga, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah dan Pencernaan?

Huawei Gandeng LinkAja, Pembayaran QRIS Bisa Lewat Smartwatch HUAWEI WATCH GT 7 Series

Gandeng Bilal Indrajaya, Lyodra Beri Pesan Tak Menyerah pada Album Terkunci Di Kamu

7 Jenis Tanaman yang Bisa Mengundang Ular ke Halaman Rumah, Bukan karena Baunya