Huawei Gandeng LinkAja, Pembayaran QRIS Bisa Lewat Smartwatch HUAWEI WATCH GT 7 Series
Gandeng Bilal Indrajaya, Lyodra Beri Pesan Tak Menyerah pada Album Terkunci Di Kamu
7 Jenis Tanaman yang Bisa Mengundang Ular ke Halaman Rumah, Bukan karena Baunya
Kenapa Tikus Suka Bersarang di Mesin Mobil, dan Cara Mengusirnya untuk Selamanya
Dua Seniman Indonesia Raih Grand Prize MR.D.I.Y. Regional Art Competition 2026
3 Suplemen yang Diam-Diam Bisa Mengganggu Tidur, Salah Satunya Sering Dikonsumsi
MK Sudah Putus, Drama Ijazah Gibran Belum Tamat
Kasus Ijazah Gibran, Sudah Selesai atau Belum?
Research Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia
DREAM.CO.ID - Perbaikan sejumlah indikator pasar keuangan domestik mulai membuka peluang bagi investor untuk kembali mengevaluasi portofolionya. Penguatan rupiah dan meningkatnya aliran dana asing menjadi sinyal positif, meski investor tetap perlu memperhitungkan risiko dari kondisi inflasi dan suku bunga global.
Research Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Novani Karina Saputri, melihat kondisi saat ini lebih cocok dihadapi dengan strategi balanced selective risk taking, bukan aggressive risk-on.
Menurutnya, daya tarik aset domestik mulai membaik seiring penguatan rupiah dan masuknya dana asing. Namun, ruang pergerakan pasar masih dapat dipengaruhi oleh perkembangan inflasi serta arah kebijakan suku bunga global.
Penguatan rupiah terlihat dari pergerakan kurs yang berada di sekitar Rp17.722 per dolar AS pada akhir Agustus dan menguat menjadi Rp17.642 per dolar AS pada 4 September 2026.
Pergerakan tersebut, ditambah dengan meningkatnya foreign flow, menunjukkan ketahanan aset domestik di tengah kondisi eksternal yang masih penuh tantangan.
Di pasar pendapatan tetap, yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun berada di kisaran 7,11%. Level tersebut kembali memberikan daya tarik dari sisi entry yield, meski investor disarankan melakukan pembelian secara bertahap karena volatilitas suku bunga masih perlu diperhatikan.
“ Reksa dana obligasi kembali sedikit lebih menarik setelah SBN 10Y naik ke 7,11%, tetapi preferensi tetap pada portofolio yang berfokus pada obligasi short-to-medium duration, dengan extension ke tenor panjang dilakukan bertahap karena volatilitas duration masih tinggi,” ujar Novani.
Selain instrumen pendapatan tetap, kondisi pasar saat ini juga memberikan ruang bagi investor untuk mempertahankan eksposur pada reksa dana saham.
Membaiknya aliran dana asing serta penguatan IHSG dapat menjadi pendukung bagi saham-saham dengan fundamental yang kuat. Saham berkapitalisasi besar dan memiliki likuiditas tinggi menjadi salah satu pilihan yang dapat diperhatikan.
Meski demikian, investor tetap perlu mengantisipasi volatilitas pasar dan potensi dispersion yang semakin tinggi. Karena itu, penambahan eksposur pada aset berisiko sebaiknya tidak dilakukan secara agresif.
Di sisi lain, reksa dana pasar uang masih memiliki fungsi penting sebagai liquidity anchor dalam sebuah portofolio. Instrumen ini dapat membantu investor menjaga fleksibilitas dana ketika kondisi pasar belum sepenuhnya stabil.
Namun, Novani memperkirakan forward return reksa dana pasar uang berpotensi mengalami normalisasi apabila biaya likuiditas menurun. Meski begitu, instrumen tersebut masih dapat menjadi alternatif yang menarik dibandingkan menempatkan seluruh dana hanya pada deposito perbankan.
Dengan mempertimbangkan kondisi pasar saat ini, pendekatan yang seimbang menjadi salah satu strategi yang dapat dipertimbangkan investor.
Untuk investor dengan profil risiko moderat, indikasi alokasi yang disampaikan Novani terdiri dari 35% reksa dana pasar uang, 40% reksa dana pendapatan tetap, dan 25% reksa dana saham.
Komposisi tersebut bersifat indikatif dan bukan rekomendasi yang berlaku untuk seluruh investor. Penyesuaian tetap diperlukan berdasarkan profil risiko, kebutuhan likuiditas, serta jangka waktu investasi masing-masing.
Head of Fund Services PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Francisca Gerungan, menilai pemilihan reksa dana sebaiknya tidak hanya didasarkan pada potensi imbal hasil. Investor juga perlu memahami fungsi setiap instrumen dalam keseluruhan portofolio.
Bagi investor yang membutuhkan akses dana dalam jangka pendek, reksa dana pasar uang dapat menjadi pilihan untuk menjaga likuiditas. Sementara itu, peningkatan yield obligasi memberikan peluang bagi reksa dana pendapatan tetap.
Adapun investor yang memiliki horizon investasi lebih panjang dan mampu menerima risiko lebih tinggi dapat mempertimbangkan reksa dana saham sebagai bagian dari strategi pertumbuhan. Penambahan eksposur tetap dapat dilakukan secara bertahap untuk mengantisipasi perubahan kondisi pasar.
“ Investor sebaiknya tidak hanya bertanya produk mana yang memberikan return paling tinggi, kemudian hanya melihat kinerja 1 tahun terakhir sebagai acuan, tetapi juga apa fungsi produk tersebut di dalam portfolionya. Dengan begitu, keputusan investasi dapat lebih terarah sesuai kebutuhan dan tidak hanya didasarkan pada kondisi pasar dalam jangka pendek,” ujar Francisca.
Bagi investor moderat, mengombinasikan beberapa jenis reksa dana dapat membantu membagi fungsi setiap instrumen dalam portofolio.
Reksa dana pasar uang dapat berperan dalam menjaga likuiditas, reksa dana pendapatan tetap membantu mengelola risiko sekaligus memberikan potensi pendapatan dari instrumen obligasi, sedangkan reksa dana saham dapat memberikan peluang pertumbuhan dalam jangka panjang.
Dengan pendekatan tersebut, investor tidak perlu menjadikan satu jenis instrumen sebagai satu-satunya tumpuan. Diversifikasi memungkinkan portofolio disusun berdasarkan kebutuhan dan tujuan, bukan hanya mengikuti aset yang sedang mengalami penguatan.
Pada akhirnya, membaiknya kondisi pasar domestik dapat menjadi kesempatan untuk meninjau kembali strategi investasi. Namun, momentum tersebut tetap perlu diikuti dengan pendekatan yang selektif.
Penguatan rupiah, aliran dana asing, maupun kenaikan yield obligasi memang membuka peluang baru. Meski demikian, keputusan investasi sebaiknya tetap dikembalikan pada profil risiko, kebutuhan likuiditas, serta tujuan dan horizon investasi masing-masing investor.
Advertisement
Kasus Ijazah Gibran, Sudah Selesai atau Belum?

Menilik 5 Green Movement Seru di Synchronize Festival

Deal Lepas 10,08 Miliar, Low Tuck Kwong Tambah Porsi Lego Saham Bayan Resources ke Jhonlin Baratama

IHSG Dibuka Menguat, Investor Pantau Laporan Cadev RI

MK Tak Temukan Bukti Gibran Punya Ijazah Setara SMA, Tapi Tak Bisa Batalkan Status Wapres


Kenapa Pekerjaan Baru di Usia 30-an Bisa Membuat Kita Merasa Bodoh Lagi?

Setir Mobil Tiba-Tiba Berat Diputar? Ini 4 Penyebab dan Cara Mengeceknya


Pepaya vs Mangga, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah dan Pencernaan?

Huawei Gandeng LinkAja, Pembayaran QRIS Bisa Lewat Smartwatch HUAWEI WATCH GT 7 Series

Gandeng Bilal Indrajaya, Lyodra Beri Pesan Tak Menyerah pada Album Terkunci Di Kamu

7 Jenis Tanaman yang Bisa Mengundang Ular ke Halaman Rumah, Bukan karena Baunya