Huawei Gandeng LinkAja, Pembayaran QRIS Bisa Lewat Smartwatch HUAWEI WATCH GT 7 Series
Gandeng Bilal Indrajaya, Lyodra Beri Pesan Tak Menyerah pada Album Terkunci Di Kamu
7 Jenis Tanaman yang Bisa Mengundang Ular ke Halaman Rumah, Bukan karena Baunya
Kenapa Tikus Suka Bersarang di Mesin Mobil, dan Cara Mengusirnya untuk Selamanya
Dua Seniman Indonesia Raih Grand Prize MR.D.I.Y. Regional Art Competition 2026
3 Suplemen yang Diam-Diam Bisa Mengganggu Tidur, Salah Satunya Sering Dikonsumsi
MK Sudah Putus, Drama Ijazah Gibran Belum Tamat
Kasus Ijazah Gibran, Sudah Selesai atau Belum?
© Pexels.com/Tara Winstead
DREAM.CO.ID - Di meja makan, pertanyaan ini sering muncul ketika seseorang ingin membuat masakan terasa lebih gurih tanpa terlalu banyak menambahkan garam. Sebagian orang masih menganggap MSG atau monosodium glutamat sebagai bahan yang sebaiknya dihindari, sementara garam dianggap lebih “ alami” sehingga terasa lebih aman.
Padahal, jika dilihat dari kandungan natriumnya, keduanya sama-sama perlu diperhitungkan. Persoalannya bukan semata-mata memilih MSG atau garam, tetapi berapa banyak yang digunakan dan berapa total natrium yang masuk ke tubuh sepanjang hari.
MSG merupakan garam natrium dari glutamat, yaitu salah satu asam amino yang juga secara alami terdapat dalam berbagai makanan. Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) menggolongkan MSG sebagai bahan yang generally recognized as safe atau secara umum diakui aman digunakan dalam makanan.
FDA juga mencatat bahwa penelitian belum secara konsisten membuktikan reaksi terhadap MSG pada orang yang mengaku sensitif terhadap bahan tersebut. Artinya, anggapan bahwa MSG secara otomatis berbahaya tidak didukung oleh bukti ilmiah yang ada. Namun, aman bukan berarti dapat digunakan tanpa batas.
Hal yang sering luput dari perhatian adalah kandungan natrium. Garam dapur terutama terdiri atas natrium klorida, sedangkan MSG juga mengandung natrium. Perbedaannya, MSG memiliki proporsi natrium yang lebih rendah berdasarkan berat dibandingkan garam dapur.
Karena itu, dalam kondisi tertentu, penggunaan sedikit MSG untuk menghasilkan rasa gurih dapat membantu mengurangi kebutuhan menambahkan garam. Namun, jika MSG ditambahkan dalam jumlah banyak sementara garam, kecap, saus, kaldu instan, dan makanan olahan tetap digunakan, jumlah natrium yang dikonsumsi tetap dapat menjadi tinggi.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan orang dewasa mengonsumsi kurang dari 2.000 miligram natrium per hari, setara dengan kurang dari 5 gram garam atau sekitar satu sendok teh. Untuk anak usia 2–15 tahun, batas tersebut perlu disesuaikan lebih rendah berdasarkan kebutuhan energi mereka. WHO juga mengingatkan bahwa natrium tidak hanya berasal dari garam yang ditaburkan saat memasak, tetapi dapat berasal dari berbagai makanan olahan dan bumbu seperti kecap, saus ikan, kaldu, makanan ringan, serta MSG.
Masalahnya, sebagian besar orang tidak hanya mendapatkan natrium dari satu sumber. Semangkuk mi, misalnya, bisa mendapatkan tambahan garam dari kuah, kecap, saus, kaldu, dan bahan pelengkap lainnya. Jika setelah itu makanan masih diberi garam atau MSG karena dianggap kurang gurih, jumlah natriumnya semakin bertambah. Karena itu, mengganti garam dengan MSG bukan berarti otomatis membuat makanan menjadi rendah natrium. Yang lebih penting adalah mengurangi jumlah total natrium dalam pola makan.
Pada anak, perhatian terhadap kebiasaan ini bahkan perlu dimulai sejak dini. American Heart Association menyebut anak-anak dengan pola makan tinggi natrium memiliki risiko lebih tinggi mengalami tekanan darah yang meningkat. Organisasi tersebut juga mencatat bahwa pilihan makanan anak banyak menyumbang natrium melalui makanan olahan, makanan siap saji, camilan, dan produk kemasan. WHO sendiri menekankan bahwa kebiasaan makan yang terbentuk sejak masa kanak-kanak dan remaja dapat terbawa hingga dewasa.
Lantas, lebih aman mana, MSG atau garam? Jika digunakan dalam jumlah wajar, MSG bukan bahan yang harus ditakuti, dan penggunaannya dapat menjadi salah satu cara untuk mengurangi jumlah garam yang ditambahkan ke makanan.
Namun, pilihan terbaik tetap bukan mengganti garam dengan MSG sebanyak-banyaknya. Gunakan keduanya secukupnya, kurangi bumbu tinggi natrium secara keseluruhan, dan biasakan lidah mengenali rasa alami makanan. Bumbu seperti bawang putih, bawang merah, lada, rempah, daun jeruk, serai, atau perasan jeruk dapat membantu memperkaya cita rasa tanpa selalu mengandalkan tambahan garam atau penyedap.
Jadi, ketika memasak untuk keluarga, pertanyaan yang lebih tepat bukan “ MSG atau garam yang lebih aman?”, melainkan “ berapa banyak natrium yang masuk ke makanan ini?” Dengan cara pandang tersebut, MSG tidak perlu ditempatkan sebagai musuh, sementara garam juga tidak boleh dianggap bebas risiko hanya karena sudah digunakan secara turun-temurun.
Advertisement
Kasus Ijazah Gibran, Sudah Selesai atau Belum?

Menilik 5 Green Movement Seru di Synchronize Festival

Deal Lepas 10,08 Miliar, Low Tuck Kwong Tambah Porsi Lego Saham Bayan Resources ke Jhonlin Baratama

IHSG Dibuka Menguat, Investor Pantau Laporan Cadev RI

MK Tak Temukan Bukti Gibran Punya Ijazah Setara SMA, Tapi Tak Bisa Batalkan Status Wapres


Kenapa Pekerjaan Baru di Usia 30-an Bisa Membuat Kita Merasa Bodoh Lagi?

Setir Mobil Tiba-Tiba Berat Diputar? Ini 4 Penyebab dan Cara Mengeceknya


Pepaya vs Mangga, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah dan Pencernaan?

Huawei Gandeng LinkAja, Pembayaran QRIS Bisa Lewat Smartwatch HUAWEI WATCH GT 7 Series

Gandeng Bilal Indrajaya, Lyodra Beri Pesan Tak Menyerah pada Album Terkunci Di Kamu

7 Jenis Tanaman yang Bisa Mengundang Ular ke Halaman Rumah, Bukan karena Baunya