Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Pekerjaan mengentaskan kemiskinan tak selamanya jadi tugas pemerintah. Kini perusahaan sebetulnya bisa mengembangkan pola bisnis yang bisa mengangkat masyarakat miskin.
Menggandeng Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Principal Economist ADB Armin Bauer Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB), mengatakan Indonesia bisa mengembangkan bisnis inklusif yang merupakan konsep terbaru, yang berbeda dengan model tanggung jawab sosial perusahaan (Customer Social Responsibility/CSR).
“ Ini adalah investasi dengan dampak sosial berkelanjutan pada orang miskin,” ujar Armin Bauer dalam workshop Membangun Ekosistem yang Kondusif untuk Bisnis Inklusif di Indonesia, di Jakarta, Selasa, 26 Mei 2015.
Secara definitif, jelas Armin, bisnis inklusif adalah usaha yang dilakukan perusahaan-perusahaan komersial untuk ikut memberikan solusi inovatif dan sistemik terhadap masalah-masalah masyarakat berpenghasilan rendah. Tak hanya perusahaan besar, program ini juga bisa diadaptasi perusahaan kecil.
Armin menjelaskan, bisnis inklusif mampu meningkatkan minat perusahaan, bank dan investor pada pasar yang ada di posisi dasar piramida perdapatan, atau masyarakat berpenghasilan rendah di bawah 40 persen.
Selain itu, konsep bisnis yang bertujuan memberdayakan penduduk berpenghasilan rendah ini juga mampu meningkatkan minat pemerintah untuk berpartisipasi mendorong sektor swasta dalam meningkatkan pelayanan dan memperluas penciptaan lapangan kerja yang layak bagi masyarakat miskin.
Untuk menunjukan komitmennya, ADB bahkan sudah menginvestasikan dana sekitar US$ 380 juta di 11 negara Asia sejak 2013 dan 2014. Untuk dua tahun ke depan, ADB pun tengah menyiapkan investasi untuk delapan sektor swasta, termasuk aktif mencari potensi investasi bisnis inklusif di Tanah Air.
Di samping investasi keuangan, ADB aktif pula membantu pemerintah mempromosikan ekosistem yang lebih kondusif untuk bisnis inklusif, sebagaimana pernah dilaksanakan di Filipina dan Pakistan. “ ADB juga memfasilitasi kerja teknis (technical asstistance) dan kemitraan dalam hal bisnis inklusif,” pungkas Armin Bauer. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya