Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Presiden RI, Joko Widodo
Dream - Meskipun tahun 2015 merupakan tahun yang sangat berat karena banyaknya tantangan yang dihadapi di sektor keuangan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) optimistis pada tahun 2016 ini perekonomian akan lebih baik.
Sebagai bukti, Jokowi mengaku banyak orang yang meragukan realisasi APBN tahun 2015 dapat mencapai target karena melambatnya pertumbuhan ekonomi. Namun, nyatanya, realisasi hingga akhir tahun tidak begitu buruk.
" Banyak orang yang ragu-ragu mengenai realisasi APBN setiap hari, sehingga membuatnya setiap hari, pagi, tengah malam, pasti saya cek, mengontrol penerimaannya," ujar Jokowi dalam pembukaan perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia, pagi ini, Senin, 4 Januari 2016.
Jokowi menyebutkan realisasi pendapatan negara tahun 2015 sebesar 84,7 persen dari target atau sebesar Rp 1.491 triliun. Penerimaan ini berasal dari penerimaan pajak sebesar 83 persen atau Rp 1.235,8 triliun dan penerimaan non pajak 93,8 persen atau sebesar Rp 252,4 triliun plus penerimaan hibah kurang lebih Rp 3 triliun.
Sementara dari sisi serapan belanja, negara telah menghabiskan 91,2 persen APBN 2015 atau sebesar Rp 2.810 triliun, meleset sedikit dari perkiraan sebesar 92-93 persen, dan terdapat Silpa Rp 10,8 triliun.
Untuk pertumbuhan ekonomi, Jokowi memperkirakan Indonesia tahun ini bertumbuh 4,7-4,8 persen, turun dari 2014 sebesar 5 persen. Sedangkan inflasi, realisasi tahun 2015 hanya 3,3 persen, jauh dari tahun 2014 yang capaiannya sebesar 8,3%.
“ Artinya apa? Apa yang kita takutkan tidak terjadi. Kalau kita kerja biasa-biasa mungkin yang seperti diperkirakan orang itu akan terjadi. Tetapi dengan deregulasi yang setiap seminggu, setiap dua minggu keluar, keluar, keluar, keluar terus saya meyakini ini memang kesempatan,” ujarnya.
Jokowi menjelaskan, pada saat-saat sulit, merupakan kesempatan untuk merombak total tatanan-tatanan yang menghambat. “ Dan itu akan terus kita lakukan. Dan saya yakin dengan itu perbaikan ekonomi akan lebih baik,” tandasnya.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya