Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kawasan Pemukiman Di Tokyo (yourhomeinjapan.com)
Dream - Wabah virus corona di Jepang dinilai berpotensi menyebabkan angka perceraian semakin meningkat. Pemicunya kebosanan yang bisa muncul di antara pasangan suami istri akibat terlalu lama berada di dalam rumah akibat lockdown.
Mengantisipasi hal itu, perusahaan properti berbasis di Tokyo, Kasoku, menawarkan apartemen kosong. Sasarannya adalah para pasangan yang membutuhkan waktu rehat selama masa lockdown.
" Silakan berkonsultasi dengan kami sebelum berpikir tentang perceraian akibat virus corona," demikian pernyataan Kasoku.
Perusahaan ini menawarkan unit dengan perabotan lengkap dengan berbagai fasilitas dan layanan. Sehingga nyaman bagi klien yang ini 'kabur sejenak' dari rumah hanya untuk sekedar bersantai atau bekerja.
Pemerintah Jepang sendiri telah menyatakan keadaan darurat di tujuh wilayah akibat pandemi viruus corona. Meskipun langkah-langkah antisipasi tidak termasuk larangan untuk keluar, orang-orang telah diminta untuk tidak keluar rumah apabila tidak dalam keadaan mendesak.
Kebijakan tersebut juga mengharuskan banyak orang kerja dari rumah. Sekolah-sekolah pun diliburkan untuk sementara waktu.
Bagi klien yang merasa 'menderita' di rumah, Kasoku menawarkan sewa apartemen dengan harga mulai dari 4.400 yen, setara Rp643 ribu.
Juru bicara Kasoku, Kosuke Amano, mengatakan pihaknya telah memiliki 20 klien sejak dimulainya kampanye pada 3 April 2020. Layanan ini juga dilengkapi dengan konsultasi perceraian selama 30 menit dengan pengacara.
" Di antara pengguna layanan ini ada seorang istri yang mengatakan dia melarikan diri setelah bertengkar hebat dengan suaminya. Ia mengatakan ingin waktu untuk dirinya sendiri karena dia lelah mengurus anak-anaknya yang berada di rumah sepanjang hari karena penutupan sekolah, sementara suaminya bekerja di rumah," kata Amano.
" Kami tidak memiliki data kuat yang menunjukkan perceraian sedang meningkat, tetapi media melaporkan bahwa tingkat perceraian meningkat di China dan di Rusia setelah lockdown di sana yang membuat kami muncul dengan layanan ini," tambahnya.
Perusahaan ini memiliki 500 unit di seluruh Jepang, terutama di Tokyo. Akibat sektor pariwisata menurun, pihak perusahaan mengalihkan fungsi propertinya menjadi tempat kerja jarak jauh.
Tagar #coronadivorce sempat menjadi tren di Twitter Jepang. Lembaga penyiaran publik, NHK, memunculkan sebagian segmen acara paginya dengan tips menghindari potensi frustasi dan bercerai ditengah lockdown.
Meskipun memiliki populasi wanita yang berpendidikan tinggi, Jepang menempati peringkat 121 dari 153 negara dalam indeks kesenjangan gender 2020 World Economic Forum. Hal ini terjadi terutama karena minimnya sosok wanita dalam ranah politik.
Mengurus rumah dan menjaga merupakan budaya perempuan tradisional Jepang yang masih kental, meskipun sudah banyak dari mereka yang kini bekerja di kantor dan sukses hidup sendirian.
Sumber: Channel News Asia
Dream - Warung internet (warnet) dan kafe komik menjadi tempat populer di Jepang hingga saat ini. Dua tempat ini kerap buka 24 jam sehari dan tak pernah tutup.
Banyak tunawisma, termasuk backpacker memfavoritkan dua tempat untuk bermalam. Bahkan ada yang menetap lantaran tidak sanggup membayar sewa kamar yang terbilang mahal, yang lebih dikenal dengan istilah `pengungsi warnet`.
Akibat virus corona yang menyerang Jepang, ribuan 'pengungsi warnet' tersebut terpaksa tinggal di jalan-jalan. Ini akibat otoritas Jepang memberlakukan penutupan.
Warnet dan kafe komik di Jepang memang dilengkapi fasilitas nyaman seperti sofa, komputer, komik, minuman ringan, hingga kamar mandi dengan shower. Ditambah lagi, orang hanya cukup merogoh kocek sebesar 2.000 yen, setara Rp200 ribu per malam, tarif yang murah di Jepang.
Diperkirakan sekitar 4.000 orang telah menggunakan fasilitas warnet dan kafe komik untuk rumah mereka. Hal tersebut sudah jadi sesuatu yang biasa di Tokyo.
Penutupan yang terjadi dikhawatirkan dapat meningkatkan angka bunuh diri dan tidur di jalan terbuka. Untuk menghindari hal tersebut, sejumlah pihak berwenang di Tokyo telah membuka tempat penampungan sementara untuk para 'pengungsi warnet'.
Seorang buruh berusia 58 tahun, mengatakan tujuannya tinggal di warnet hanya untuk menghindari basah.
" Sebelumnya saya berpikir untuk tidur di kursi tunggu di sebuah stasiun kereta, atau di stasiun bawah tanah," kata pria yang menolak disebutkan namanya.
Dia mengaku cukup bingung ketika mengetahui warnet yang ditempatinya ditutup pada akhir pekan untuk menekan penyebaran virus corona.
" Saya dulu pergi bekerja dari warnet, saya dulu memiliki pekerjaan, tetapi karena virus corona saya tidak memiliki pekerjaan," kata dia, sembari menambahkan betapa sulit mencari pekerjaan tetap di usianya saat ini.
Menyewa sebuah apartemen di Jepang membutuhkan biaya besar dan administrasi yang rumit. Hal inilah yang mendasari warnet jadi tempat yang nyaman sehingga dipenuhi orang miskin di Jepang.
" Aku tidak punya tempat untuk pergi, hanya punya beberapa kenalan," kata pria itu.
Tempat penampungan sementara yang disediakan otoritas berwenang setempat berada di aula judo di Yokohama dan dioperasikan oleh Otoritas Kanagawa. Tempat ini telah dirancang oleh arsitek Jepang pemenang penghargaan Shigeru Ban dan berguna untuk menjaga privasi serta mencegah penularan infeksi.
Para penghuninya tidur seperti di kamp pengungsian yang dipisahkan bilik di antaranya. Bisa dibilang, ini mirip tempat perlindungan darurat di Cardboard Carthedral for Christchruch di New Zealand setelah bencana gempa bumi 2011.
" Tujuan pembangunan pengungsian ini untuk menyediakan tempat yang aman bagi para 'pengungsi warnet' saat pandemi corona," kata salah satu pejabat Pemerintah Kota Yokohama, Yuji Miyakoshi.
Tempat gratis ini telah menampung 40 orang sejak dibuka pada 11 April lalu. Terbukti efektif pada saat " rumah" mereka ditutup beberapa pekan lalu.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya