Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati.
Dream – Nama Sri Mulyani Indrawati cukup familiar di telinga masyarakat. Wanita ini juga dikenal sebagai seorang wanita pemimpin global.
Perjalanan Sri Mulyani tak diraih dengan mudah. Butuh waktu dan pengalaman hingga sampai di posisinya saat ini. Di ajang “ Eminent speakers Forum: Perspective on Becoming A Global Leader” yang digelar oleh Asian Development Bank di Manila, Filipina, pada 5 April 2017, Sri Mulyani menceritakan kisah perjuangannya selama ini.
Di depan forum, Sri Mulyani mengatakan setiap keputusan karier yang dibuat, membentuk dua hal di dalam dirinya: sikap profesonal dan jiwa kepemimpinan.
“ Saya menyadari bahwa setiap langkah dalam karier saya membentuk profesionalisme dan jiwa kepemimpinan saya, juga tentu memberikan kontribusi dalam mengatasi masalah yang saya hadapi,” kata Sri Mulyani, dikutip dari akun Instagramnya, @smindrawati, Senin 10 April 2017.
Misalnya, kata dia, disertasi doktoral tentang respons yang berbeda untuk pajak untuk pria dan wanita di Indonesia, memberinya inspirasi kepada dia untuk memperkenalkan perempuan mendaftar mendaftar terpisah dari suami untuk mengajukan Nomor Pajak Wajib Pajak (NPWP).
Sri Mulyani mengatakan, ketika berkarier di Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia, pekerjaannya merancangan kuesioner, survei, memasukkan data statistik, lalu menganalisisnya. Pekerjaannya ini membantunya untuk membangun cara berpikir sistematis dan menggunakan data dan fakta dalam merumuskan kebijakan.
“ Di LPEM, saya pertama kali belajar bagaimana mengelola anggaran dan aset, serta sumber daya manusia,” kata dia.
Eks direktur perencanaan Bank Dunia ini juga membeberkan pengalamannya ketika menjadi Menteri Perencanaan Pembangunan/Kepala Bappenas dan USAID. Ketika menjadi Kepala Bappenas, Sri Mulyani menangani tsunami di Aceh. Saat itulah, dia mendapatkan suatu pelajaran hidup: niat baik saja tidak cukup untuk menjadi seorang pemimpin.
“ Dibutuhkan kepemimpinan yang kuat dan keterampilan berorganisasi untuk menerjemahkan kehendak rakyat sehingga dapat memberikan hasil yang nyata bagi mereka yang membutuhkannya,” kata dia.
Ada juga pengalaman dia berkarier di International Monetery Fund (IMF) yang memberikan pengalaman bagaimna bekerja dengan lembaga-lembaga global dan multilateral. Pengalamannya di IMF diakui sangat membantu saat menjadi menteri keuangan.
“ Demikian juga sebaliknya, pengalaman saya sebagai menteri keuangan membantu saya dalam melakukan reformasi dan mengelola Bank Dunia,” kata dia.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya