Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Dream - Usai pengumuman pembatalan pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung oleh Presiden Joko Widodo kemarin, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengundang Duta Besar Jepang untuk Indonesia ke kantornya.
Dalam pertemuan tersebut, ujar Darmin, ia menyampaikan terima kasih dari Presiden kepada Pemerintah Jepang yang sudah berpartisipasi mengirim proposal proyek tersebut.
" Kemudian saya menjelaskan dengan berbagai pertimbangan proyek kereta cepat itu diganti dengan kereta berkecepatan menengah," kata Darmin saat ditemui di kantornya, Jumat 4 September 2015.
Beberapa pertimbangan batalnya proyek ini, pertama, karena pemerintah Indonesia tidak menghendaki adanya keterlibatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dalam pengerjaan proyek. Baik secara langsung maupun tidak langsung.
Selain itu, untuk jarak dari Jakarta ke Bandung, kereta berkecepatan 350 km per jam diyakini tidak akan beroperasi secara optimal. Lantaran sebelum mengeluarkan performa optimum, ia sudah harus mengerem lajunya. Karena harus berhenti di stasiun antara.
" Dengan berbagai pertimbangan, kereta cepat itu akan diganti dengan kereta berkecepatan menengah, sekitar 200 km per jam," tambah Darmin.
Selain itu, pemerintah juga merasa persiapan pembangunan kereta cepat tersebut belum matang. Di antaranya belum ada rencana pengaturan perpotongan dengan jalur bus, kereta lain maupun pembangunan properti yang dilaksanakan sepanjang jalur kereta cepat Jakarta-Bandung.
Untuk itu, pemerintah justru ingin membuat kerangka acuan sebelum melemparkan informasi proyek kepada negara-negara yang berminat.
Darmin mengatakan, kerangka acuan tersebut akan berisi perencanaan pembangunan mulai dari segi konsep hingga teknis.
" Bukan hanya spesifikasi teknis, termasuk juga level service, standard maintenance, termasuk juga persimpangannya dengan bus itu di mana saja, juga persimpangannya dengan kereta yang lain, juga pembangunan kalau ada properti," ungkap Darmin.
" Jadi nanti akan kita dapatkan kereta yang benar-benar kita perlukan dan itu kita yang menentukan," tegasnya.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?